Usai Sukses, Hashimoto Tak Ingin Berhenti Pertahankan Medali Emas All-Around
![]() |
| Gymnast Jepang Daiki Hashimoto. (JAGOC) |
Penulis: Azhari Nasution
Dalam final yang berlangsung di Indonesia Arena Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, Rabu (22/10/2025), Hashimoto meraih nilai total 85.131, unggul 798 poin dari gymnast China Zhang Boheng yang meraih medali perak dan gymnast Swiss Noe Seifert yang menyabet perunggu.
Dari enam apparatus, Hashimoto mencatat nilai tertinggi pada tiga apparatus di antaranya, yakni floor exercise, vault, dan horizontal bar.
Gymnast 24 tahun itu juga meraih nilai tertinggi kedua pada pommel horse —di bawah Noe Seifert, nilai tertinggi ketiga pada parallel bars, dan keempat pada rings.
Dengan raihan emas all-around pada 53rd FIG Artistic Gymnastics World Championships, koleksi medali emas world championships Hashimoto bertambah menjadi lima keping.
Gymnast kelahiran Narita tersebut sebelumnya telah menyabet satu keping emas pada world championships 2022 di Liverpool serta tiga keping emas di Antwerpen 2023.
Meski telah menyabet banyak emas di world championships, Hashimoto mengaku tak ingin berhenti. “Ke depan, saya berharap mungkin bisa empat kali berturut-turut atau tujuh kali berturut-turut. Karena, saya suka berusaha untuk mendapatkan hasil yang terbaik,” kata Hashimoto.
Hashimoto sejatinya sudah tampil konsisten sejak babak kualifikasi, menduduki peringkat pertama dengan raihan 83.065 poin.
Saat ditanya apakah babak kualifikasi lebih berat sehingga raihan poin final jauh lebih tinggi, Hashimoto mengatakan, “Menurut saya, bukan lebih mudah, [tapi] hanya lebih terbiasa.”
Bagi Zhang Boheng, catatan di babak final ini lebih baik dibanding kualifikasi. Kala itu, Boheng menduduki peringkat ketiga di bawah Noe Seifert dengan catatan 82.331 poin.
Mengenai raihan medali perak, Boheng mengatakan, “Hari ini performa sangat baik, tapi tidak maksimal.”
Boheng memang tak konsisten di babak final. Pada horizontal bars, gymnast 25 tahun itu menempati peringkat kelima, sementara di parallel bars menempati posisi keenam —ini juga diakui Boheng.
“Parallel bars tidak terlalu maksimal karena ada beberapa kesalahan,” kata Boheng dalam keterangan di konferensi pers usai pertandingan.
Bagi Noe Seifert, raihan perunggu pada world championships ini merupakan medali pertama dalam turnamen mayor gimnastik.
Lantas, apa kunci keberhasilannya kali ini?
“Banyak berlatih, itu saja,” ujar Seifert, seraya menambahkan bahwa raihan perunggu ini sangat berarti baginya,
“Ini medali pertama saya di world championships… luar biasa, saya masih tak percaya,” kata gymnast Swiss berusia 26 tahun itu.
Seifert merupakan satu-satunya gymnast non-Asia yang ada di lima besar klasemen akhir all-around.
Peringkat keempat dan kelima ditempati masing-masing oleh gymnast China Cong Shi dan gymnast Jepang, Shinnosuke Oka.
Saat ditanya kepungan gymnast Asia di lima besar all-around world championships, Seifart hanya menukas seraya terkekeh, “Saya tidak tahu, saya cuma pria Swiss yang melakukan gimnastik.”
“Sangat normal bahwa orang-orang Asia sangat kuat di gimnastik. Sangat menyenangkan bagi saya, seorang Eropa, untuk dapat berkompetisi dengan mereka. Sangat sulit, tapi begitulah hidup.” ***
| Kategori | : | Non Olympic, DKI Jakarta |













