Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
14 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
12 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
3
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
21 jam yang lalu
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
4
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
10 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
5
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
Hukum
20 jam yang lalu
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
6
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
8 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Home  /  Berita  /  Olympic

Dibalik Tewasnya Bripda Ariq, Dugaan Kekerasan dan Budaya Senioritas di Tubuh Polisi Mencuat

Dibalik Tewasnya Bripda Ariq, Dugaan Kekerasan dan Budaya Senioritas di Tubuh Polisi Mencuat
Ilustrasi anggota Ditsamapta Polda Jabar dilatih kedisiplinan saat apel.
Senin, 03 November 2025 17:55 WIB

BANDUNG – Suasana barak Ditsamapta Polda Jawa Barat berubah mencekam pada Jumat (31/10/2025) malam. Seorang anggota muda, Bripda Ariq Irfansyah, ditemukan tak bernyawa setelah diduga menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh seniornya sendiri.

Kejadian tragis itu bermula usai kegiatan pergantian barak antara Kompi 1 dan Kompi 4 Ditsamapta. Malam itu, sekitar pukul 18.30 WIB, 38 anggota Kompi 1 tiba di barak baru mereka. Setelah apel dan kegiatan malam selesai, beberapa anggota senior memanggil para juniornya untuk berkumpul.

Namun, tidak semua anggota hadir dalam barisan. Situasi yang semula hanya teguran berubah menjadi ajang kekerasan. “Tindakan fisik diberikan sebagai bentuk ‘pendisiplinan’, mulai dari sikap mersing, sikap tobat, hingga pemukulan dan tamparan,” ungkap salah satu sumber internal yang mengetahui kejadian tersebut.

Kekerasan itu dialami oleh dua anggota muda, Bripda Yudo dan Bripda Ariq Irfansyah. Ariq disebut tidak mengunci mobil boks Dalmas, sementara Yudo dimarahi karena gagal membeli air minum. Kedua junior itu kemudian menerima hukuman fisik dari beberapa senior mereka. 

Dugaan sementara, Bripda Ariq ditendang di dada dan dipukul oleh dua seniornya, Bripda Yuda Aprilia dan Bripda Hadiansyah Permana. Ariq sempat terjatuh dan mengalami kejang-kejang sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.

Rekan-rekannya sempat mencoba memberikan pertolongan pertama, namun kondisi Ariq terus memburuk. Ia dilarikan ke RS Bhayangkara Sartika Asih, Bandung, sekitar pukul 23.30 WIB. Namun nyawanya tidak tertolong. “Korban dinyatakan meninggal dunia pukul 23.49 WIB akibat henti napas,” kata dokter jaga, dr. Annisa Kusumah Dewi.

Peristiwa ini langsung menimbulkan kehebohan di lingkungan internal kepolisian. Dugaan adanya praktik kekerasan yang masih terjadi di barak kepolisian kembali mencuat ke publik.

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan, saat dikonfirmasi mengaku belum menerima laporan lengkap. “Saya masih di luar kota. Saya sudah tanya Dirsamapta, tapi belum ada info resmi. Mohon sabar,” ujarnya kepada Inilah.com, Senin (3/11/2025).

Sementara itu, pihak keluarga korban mendesak agar kasus ini diusut tuntas dan pelaku kekerasan dijatuhi hukuman seadil-adilnya. Tragedi ini dianggap mencoreng nama baik institusi kepolisian dan membuka luka lama tentang praktik kekerasan di lingkungan barak yang kerap dianggap “tradisi pembinaan”.

Hingga kini, Kapolda Jabar Irjen Rudi Setiawan belum memberikan keterangan resmi. Publik pun menanti langkah tegas dari pimpinan Polda Jabar dalam menangani kasus yang mencoreng citra kepolisian tersebut. 

Tragedi yang menimpa Bripda Ariq menjadi pengingat pahit bahwa kultur kekerasan dan senioritas berlebihan di tubuh aparat bukan hanya mencederai rasa keadilan, tapi juga mengancam nyawa mereka yang seharusnya menjadi penegak hukum dan pelindung masyarakat. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Olympic, DKI Jakarta, Jawa Barat
wwwwww