Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
11 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
2
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
13 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
3
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
7 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
4
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
19 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
5
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
9 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
6
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
7 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Home  /  Berita  /  Olympic

Candaan Pandji Tuai Sanksi Adat, Wajib Serahkan 96 Hewan Kurban dan Rp2 Miliar untuk Pemulihan Budaya Toraja

Candaan Pandji Tuai Sanksi Adat, Wajib Serahkan 96 Hewan Kurban dan Rp2 Miliar untuk Pemulihan Budaya Toraja
Komika Pandji Pragiwaksono dijatuhi sanksi adat oleh Tongkonan Adat Sang Torayan buntut candaan yang menyinggung budaya Toraja.
Sabtu, 08 November 2025 19:51 WIB

JAKARTA – Komika Pandji Pragiwaksono kembali jadi sorotan setelah candaan yang ia lontarkan dianggap menyinggung masyarakat adat Toraja. Ucapan tersebut dinilai melukai nilai-nilai sakral yang dijunjung tinggi dalam budaya Tongkonan, sistem sosial dan spiritual masyarakat Toraja.

Sebagai bentuk penegakan adat, Tongkonan Adat Sang Torayan (TAST), lembaga adat di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, menjatuhkan sanksi material dan moral kepada Pandji. Sanksi ini merupakan keputusan resmi yang diumumkan oleh Ketua Umum TAST, Benyamin Rante Allo, pada Jumat (7/11/2025).

“Pandji diwajibkan menyerahkan 48 ekor kerbau dan 48 ekor babi sebagai simbol pemulihan keseimbangan antara lino tau (dunia manusia) dan lino to mate (dunia arwah),” ujar Benyamin.

Selain hewan kurban, Pandji juga diminta menunaikan tanggung jawab moral senilai Rp2 miliar. Dana tersebut, kata Benyamin, bukan bentuk denda, melainkan wujud tanggung jawab sosial yang akan digunakan untuk mendukung kegiatan pendidikan, pelestarian budaya, dan ritual adat pemulihan kehormatan Toraja.

“Ini bukan hukuman, tapi mekanisme adat untuk mengembalikan keseimbangan yang terganggu. Uang itu akan digunakan untuk kegiatan adat dan pendidikan budaya Toraja,” jelasnya.

Dalam filosofi masyarakat Toraja, pelanggaran terhadap nilai adat bukan hanya soal sosial, tapi juga spiritual. Setiap tindakan yang melukai kehormatan leluhur dianggap mengganggu harmoni antara dunia manusia dan dunia arwah.

“Adat kami berdiri di atas keseimbangan. Jika satu nilai terguncang, kami wajib memulihkannya lewat simbol pengorbanan dan tanggung jawab,” tegas Benyamin.

TAST menilai, lelucon Pandji telah melewati batas karena menyentuh aspek ritual dan kematian — dua elemen paling sakral dalam tradisi Toraja. “Kami bukan marah karena bercanda, tapi karena nilai adat kami disinggung dalam konteks yang tidak pantas,” tambahnya.

Meski sanksi telah dijatuhkan, lembaga adat masih membuka ruang komunikasi. Pandji diharapkan datang langsung ke Tana Toraja untuk berdialog dan menunjukkan itikad baik.

“Kami siap menerima dia secara terbuka. Yang kami tunggu adalah niat baik, bukan pembelaan,” ujar Benyamin.

Namun, jika Pandji mengabaikan mekanisme adat ini, TAST berencana menjatuhkan sanksi lanjutan berupa kutukan adat yang akan dilakukan melalui prosesi khusus oleh tetua spiritual. “Jika tidak ada penyelesaian adat, konsekuensinya akan lebih berat,” katanya.

Kasus ini menjadi refleksi penting tentang batas humor dalam masyarakat multikultural. Candaan yang dianggap ringan di satu daerah bisa menjadi hal sensitif di daerah lain, terutama ketika menyangkut unsur kepercayaan dan ritual.

Benyamin berharap peristiwa ini dapat menjadi pelajaran, tidak hanya bagi Pandji, tetapi juga bagi publik luas. “Kami tidak menutup diri dari humor, tapi humor harus disampaikan dengan pemahaman dan rasa hormat terhadap budaya orang lain,” ujarnya.

Sanksi terhadap Pandji sekaligus menunjukkan bahwa hukum adat masih hidup dan dihormati di tengah modernisasi. Bagi masyarakat Toraja, pelestarian nilai dan kehormatan leluhur lebih berharga daripada sekadar permintaan maaf formal.

“Yang kami jaga bukan harga diri individu, tapi martabat kebudayaan,” tutup Benyamin. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:cnnindonesia.com
Kategori:Olympic, Nasional, Hiburan, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan
wwwwww