Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
16 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
20 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
15 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
4
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
17 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
5
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
22 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
6
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
13 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Home  /  Berita  /  PON

Ratih Megasari Minta Penyelidikan Kasus SMAN 72 Dibuka Jelas, Soroti Dugaan Perundungan Siswa

Ratih Megasari Minta Penyelidikan Kasus SMAN 72 Dibuka Jelas, Soroti Dugaan Perundungan Siswa
Ilustrasi (net)
Sabtu, 08 November 2025 18:39 WIB

JAKARTA – Tragedi ledakan di SMAN 72 Jakarta pada Jumat (7/11/2025) siang memicu keprihatinan mendalam di kalangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Anggota Komisi X DPR, Ratih Megasari Singkarru, meminta pemerintah dan kepolisian membuka hasil penyelidikan secara transparan agar publik mengetahui fakta sebenarnya di balik insiden tersebut.

“Transparansi penting untuk menghindari simpang siur informasi dan berkembangnya hoaks. Namun tentu saja tetap harus menghormati privasi peserta didik yang terlibat,” ujar Ratih dalam keterangan tertulis, Sabtu (8/11/2025).

Politikus Partai NasDem itu menyoroti beredarnya dugaan bahwa ledakan berasal dari bom rakitan buatan seorang siswa yang diduga mengalami perundungan. Ia menilai, pemerintah harus cepat dan terbuka dalam memberikan pembaruan informasi agar tidak muncul spekulasi liar yang memperkeruh suasana.

“Saya meminta agar hasil penyelidikan diperbarui secara berkala kepada publik. Jika benar ada unsur bullying di balik kejadian ini, maka ini merupakan peringatan keras bagi dunia pendidikan kita,” tegasnya.

Ratih menegaskan, kasus ini tidak bisa dipandang sebagai kenakalan remaja biasa. Menurutnya, perundungan yang dibiarkan dapat menimbulkan trauma mendalam, bahkan berujung pada tindakan berbahaya. “Bullying dalam bentuk apa pun tidak bisa ditoleransi. Ini adalah tanggung jawab bersama antara sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat,” ucapnya.

Ia menilai tragedi di SMAN 72 harus menjadi momentum evaluasi besar-besaran terhadap sistem pengawasan dan perlindungan siswa di sekolah. Ratih mendorong agar setiap satuan pendidikan memperkuat sistem pencegahan, pendampingan psikologis, serta membangun budaya sekolah yang aman dan saling menghargai.

“Lingkungan belajar harus menjadi ruang yang mendukung tumbuh kembang anak, bukan tempat yang menimbulkan tekanan atau rasa takut,” ujarnya.

Selain mendorong penyelidikan terbuka, Ratih juga menekankan pentingnya penanganan korban secara menyeluruh, baik secara medis maupun psikologis. Ia mengingatkan agar pemerintah memastikan pendampingan dilakukan hingga korban benar-benar pulih dari trauma. “Peristiwa ini tidak boleh meninggalkan luka batin yang berkepanjangan. Pemulihan psikologis siswa sama pentingnya dengan pemulihan fisik,” katanya.

Ledakan di SMAN 72 Jakarta terjadi sekitar pukul 12.15 WIB, saat khutbah salat Jumat tengah berlangsung. Dua ledakan terdengar di area masjid dan pintu belakang sekolah, menyebabkan 54 siswa luka-luka. Polisi menemukan kaleng minuman yang dimodifikasi dengan sumbu dan remot kecil di lokasi kejadian.

Saksi mata menyebut seorang siswa kelas XII ditemukan terkapar tak jauh dari sumber ledakan. Siswa tersebut dikenal pendiam dan kerap menjadi korban perundungan oleh teman-temannya. Di dekatnya, polisi menemukan senjata mainan bertuliskan kalimat provokatif dan nama-nama pelaku penembakan di luar negeri.

Peristiwa ini mengguncang dunia pendidikan dan menjadi peringatan keras bagi pemerintah untuk menanggapi serius isu kekerasan psikologis di sekolah. DPR menegaskan, penyelidikan harus terbuka, tuntas, dan tidak berhenti hanya pada pelaku, melainkan juga mengungkap akar persoalan yang melatarbelakanginya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:tempo.co
Kategori:PON, Voli, Metropolitan
wwwwww