Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
14 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
15 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
16 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
16 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
16 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Metropolitan
23 jam yang lalu
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Home  /  Berita  /  PON

Purbaya dan Mangkubumi Menguatkan Klaim Masing-Masing, Tedjowulan Akui Terjebak Penobatan

Purbaya dan Mangkubumi Menguatkan Klaim Masing-Masing, Tedjowulan Akui Terjebak Penobatan
Konflik keraton Surakarta meruncing jelang pelantikan Raja usai Pakubuwono wafat. ( tangkapan layar instagram @kraton_solo & detikJateng/achmad hussein syauqi)
Jum'at, 14 November 2025 14:29 WIB

JAKARTA – Persaingan memperebutkan takhta Keraton Surakarta semakin menegang setelah dua putra almarhum Pakubuwono XIII, Gusti Purbaya dan Mangkubumi, menguatkan klaim masing-masing sebagai pewaris sah sepeninggal sang ayah pada 2 November lalu. Ketidakselarasan posisi keluarga serta langkah-langkah penobatan yang berlangsung cepat membuat dinamika suksesi kian rumit.

Gusti Purbaya, putra bungsu PB XIII dari permaisuri GKR Pakubuwana, lebih dulu mendeklarasikan dirinya sebagai SISKS Pakubuwana XIV pada Rabu (5/11). Sejak 2022, ia telah dinobatkan sebagai putra mahkota pada usia 21 tahun, menjadikannya figur resmi penerus menurut penetapan ayahnya.

Namun tak lama, arus baru muncul dari pihak Mangkubumi—putra tertua PB XIII dari KRAy Winari Sri Haryani. Dalam rapat keluarga besar di Sasana Handrawina pada Kamis (13/11), ia diangkat sebagai Pangeran Pati atau calon raja. Penetapan itu dihadiri sejumlah perwakilan trah raja, Sentana Dalem, serta paguyuban binaan keraton.

"Pada saat itu ada pelantikan. Pelantikan putranya Pakubuwana XIII yaitu Gusti Mangkubumi sebagai Pangeran Pati," jelas Gusti Nenok usai pertemuan.

Namun suasana berubah panas ketika GKR Timoer Rumbay—kakak Mangkubumi dari istri pertama PB XIII yang berada di kubu Purbaya—masuk ke ruangan dan melontarkan keberatan. Ia menuding keputusan itu melanggar kesepakatan keluarga inti, terutama karena sebagian besar putra-putri PB XIII tidak hadir.

"Saya cuman sedih saja, Gusti Mangkubumi bisa berkhianat dengan kami putra-putri, kakak-kakak dan adik-adiknya," ujarnya.

Timoer menilai rapat tersebut tidak memenuhi syarat dari sisi adat maupun kehadiran keluarga.
"Putra-putri Pakubuwana XIII tidak ada yang hadir kecuali Mangkubumi," katanya.

Ia memastikan prosesi Jumenengan Purbaya sebagai Pakubuwana XIV tetap dilangsungkan Sabtu (15/11).

Tedjowulan: Saya Tidak Pernah Dilibatkan

Di tengah memuncaknya ketegangan, Panembahan Agung Tedjowulan menyampaikan bahwa dirinya merasa dijebak untuk merestui penobatan Mangkubumi. Meski rapat diselenggarakan atas inisiatifnya, ia mengaku tidak mengetahui adanya agenda penetapan pewaris.

"Saya mboten nate diajak rembukan pengukuhan dan sebagainya," ungkapnya.

Tedjowulan menjelaskan bahwa tujuan awal rapat adalah meminta semua pihak menahan diri selama masa berkabung.
"(Tunggu) 40 hari lah minimal," katanya.

Namun setelah diskusi berlangsung, peserta rapat tiba-tiba memintanya menjadi saksi penobatan Mangkubumi.
"Saya tahu-tahu dimintai untuk jadi nyekseni proses tadi," ujarnya.

Ia menyebut situasi tersebut seperti fait accompli—sebuah keputusan yang telah disiapkan tanpa ruang untuk menolak.
"Yo saya ini wong tuwek disungkemi, disuwuni pangestu, ya sudah saya pengestoni saja," ujarnya.

Tedjowulan menegaskan bahwa ia tidak mengetahui adanya agenda tambahan dan merasa langkah penobatan dilakukan secara mendadak tanpa koordinasi lengkap.

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:cnnindonesia.com
Kategori:PON, e-Sports
wwwwww