Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
10 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
16 jam yang lalu
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
3
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
Hukum
15 jam yang lalu
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
4
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
8 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
5
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
5 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
6
Kecerdikan Igor Tolic Baca Arah Permainan Melbourne Victory
Sepakbola
5 jam yang lalu
Kecerdikan Igor Tolic Baca Arah Permainan Melbourne Victory
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Ekonom Nilai Airlangga Remehkan Dampak Bencana pada Ekonomi Nasional

Ekonom Nilai Airlangga Remehkan Dampak Bencana pada Ekonomi Nasional
Ekonom Unand, Syafruddin Karimi. (Ist)
Senin, 08 Desember 2025 13:08 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA - Ekonom Universitas Andalas (Unand) Syafruddin Karimi menilai, pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang tetap yakin target pertumbuhan ekonomi 5,6 persen tak terganggu bencana besar di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat tidak mencerminkan analisis ekonomi yang komprehensif.

Menurut Syafruddin, kerusakan masif di tiga provinsi tersebut berpotensi menggerus aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari kehilangan aset rumah tangga hingga runtuhnya basis produksi pertanian.

‎
‎"Bagaimana pula seorang Menko Perekonomian berani sebut tak berpengaruh terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional. Memangnya 3 provinsi itu selama ini tak dihitung berkontribusi secara nasional?" ucap Syafruddin dalam keterangan resmi, Senin (8/12/2025).
‎
‎Ia menilai, optimisme berlebihan justru mengabaikan indikator ekonomi mikro yang kini terpukul keras. 
‎
‎"Kita sangat berharap para petinggi kita agak berempati memberi pernyataan," ujarnya.
‎
‎Syafruddin menegaskan, kerusakan rumah, sawah, dan ladang merupakan hilangnya akumulasi modal jangka panjang masyarakat yang berdampak langsung pada daya beli dan kesejahteraan. 
‎
‎"Kini ribuan hancur karena banjir bandang dan longsor. Pemiskinan sudah otomatis terjadi. Ini mencakupi 3 provinsi yang tak kurang dari 10 juta penduduk," katanya.
‎
‎Ia menyoroti, urgensi pemerintah memasukkan pengetahuan lokal sebagai variabel penting dalam mitigasi ekonomi dan kebencanaan.
‎
‎"Ketika local knowledge menyampaikan pesan bahwa bencana alam ini terutama akibat ulah manusia terkait pembalakan dan penambangan yang memperparah kerusakan akibat hidrometereologi, mengapa kita cenderung menolak local knowledge? Mengapa kita tidak menghargai?" tegasnya. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:Nasional, Ekonomi
wwwwww