Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Metropolitan
21 jam yang lalu
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
2
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
Olympic
21 jam yang lalu
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
3
PP FTI Prihatin dan Kecewa Triathlon Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
SEA Games
19 jam yang lalu
PP FTI Prihatin dan Kecewa Triathlon Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
4
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
SEA Games
20 jam yang lalu
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
5
Kalahkan Jeon Hyeok Jin, Ginting Melaju ke Babak 16 Besar
Sepakbola
17 jam yang lalu
Kalahkan Jeon Hyeok Jin, Ginting Melaju ke Babak 16 Besar
6
‎Sarana Jaya Gandeng BPKP Perkuat Tata Kelola dan Pengawasan Perusahaan
Ekonomi
21 jam yang lalu
‎Sarana Jaya Gandeng BPKP Perkuat Tata Kelola dan Pengawasan Perusahaan
Home  /  Berita  /  Metropolitan

‎SGY Nilai Kritik Dino Alarm Serius bagi Diplomasi Indonesia

‎SGY Nilai Kritik Dino Alarm Serius bagi Diplomasi Indonesia
Pengamat Kebijakan Publik, Sugiyanto (SGY). (Ist)
Senin, 22 Desember 2025 14:49 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA - Pengamat kebijakan publik, Sugiyanto (SGY) menilai, kritik diplomat senior Dino Patti Djalal terhadap Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono sebagai peringatan serius bagi arah diplomasi Indonesia.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan Menteri Luar Negeri berkaliber global yang mampu memimpin diplomasi secara aktif dan berwibawa di tengah dinamika geopolitik internasional.

‎
‎SGY mengatakan, sejak awal pembentukan Kabinet Merah Putih di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, posisi Menteri Luar Negeri menjadi satu-satunya jabatan strategis yang diisi figur relatif baru di bidang diplomasi.
‎
‎"Jabatan Menlu bukan sekadar administratif, melainkan wajah dan suara resmi negara di panggung global. Karena itu, kritik Dino Patti Djalal harus dibaca sebagai alarm penting," ujar SGY Dalam keterangan tertulis, Senin (22/12/2025).
‎
‎Ia mengaku, awalnya memilih berpikir positif karena pengangkatan menteri merupakan hak prerogatif presiden sebagaimana diatur dalam Pasal 17 ayat (2) UUD 1945. Namun, dalam perjalanannya, Sugiyanto menilai belum terlihat capaian, terobosan, maupun kepemimpinan diplomatik yang menonjol dari Menlu Sugiono.
‎
‎Menurut SGY, Kritik Dino Patti Djalal memiliki bobot kuat karena disampaikan oleh diplomat senior dengan pengalaman hampir empat dekade, termasuk sebagai mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat dan Wakil Menteri Luar Negeri. 
‎
‎"Ini bukan opini personal biasa, melainkan kegelisahan seorang diplomat yang paham standar kepemimpinan internasional,” katanya.
‎
‎SGY merinci, empat poin kritik utama Dino. Pertama, soal kepemimpinan internal Kementerian Luar Negeri yang dinilai belum menunjukkan arah komando dan konsolidasi strategis. Kedua, lemahnya komunikasi publik terkait arah dan prioritas politik luar negeri. Ketiga, minimnya pelibatan pemangku kepentingan seperti akademisi dan komunitas strategis. Keempat, melemahnya kolaborasi negara dan masyarakat dalam praktik diplomasi multi-track.
‎
‎"Empat kritik itu bermuara pada satu pesan besar yaitu, Indonesia membutuhkan Menteri Luar Negeri berkaliber global, seorang negarawan yang mampu memimpin, berkomunikasi, dan mengorkestrasi kekuatan diplomasi nasional," tegasnya.
‎
‎Ia menekankan, kritik tersebut seharusnya dipahami sebagai masukan konstruktif, bukan serangan personal. Sugiyanto berharap pemerintah menjadikannya bahan refleksi agar diplomasi Indonesia tidak bersifat pasif dan reaktif.
‎
‎"Pada akhirnya, saya sependapat dengan kritik Dino Patti Djalal. Harapannya, Menlu Sugiono dapat segera memperkuat kapasitas dan kepemimpinannya sehingga Indonesia tetap dihormati di panggung internasional," pungkasnya. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:Metropolitan, Basket
wwwwww