Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
13 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
13 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
14 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
14 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
14 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Metropolitan
21 jam yang lalu
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Home  /  Berita  /  Voli

Dilema Perut vs Kerja, Menteri Rachmat Pambudy Sebut MBG Lampaui Urgensi Lapangan Kerja

Dilema Perut vs Kerja, Menteri Rachmat Pambudy Sebut MBG Lampaui Urgensi Lapangan Kerja
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Rachmat Pambudy
Jum'at, 30 Januari 2026 07:55 WIB

JAKARTA – Di tengah tuntutan masyarakat akan ketersediaan lapangan pekerjaan, pemerintah justru menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan prioritas yang jauh lebih mendesak untuk segera dieksekusi.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy mengungkapkan argumennya bahwa memberikan bantuan pangan langsung saat ini lebih krusial dibandingkan menciptakan peluang kerja. Ia menganalogikan kondisi rakyat yang lapar tidak bisa menunggu proses pencarian kerja yang lama.

"Saya mengatakan MBG lebih mendesak daripada lapangan kerja. Ada yang bilang, tolong kasih kail, jangan ikan. Kalau dikasih kail, sudah keburu mati," cetus Rachmat dalam acara Prasasti Economic Forum di The Ritz-Carlton Pacific Place, Kamis (29/1/2026).

Kebijakan yang menitikberatkan pada "pemberian ikan" ini diambil sebagai respons atas potret kelaparan yang masih ditemukan di wilayah pelosok Indonesia. Rachmat menilai pembangunan infrastruktur sosial melalui gizi harus menjadi fondasi utama, bahkan jika harus mendahului kebutuhan sektor tenaga kerja.

Ia membeberkan fakta miris saat mendampingi presiden ke daerah-daerah, di mana ditemukan banyak pelajar tingkat SMP hingga SMA yang masih mengalami kendala dasar seperti kemampuan baca tulis. Hal ini, menurutnya, merupakan dampak nyata dari kurangnya asupan gizi.

"Cobalah lihat saudara-saudara kita di ujung pelosok desa kita, mereka lapar, mereka kelaparan. Makan bergizi adalah bagian daripada pembangunan yang harus diselesaikan," tambahnya.

Rachmat menekankan bahwa pemerintah tidak ingin hanya terpaku pada pembangunan infrastruktur fisik. Ia meminta publik memahami bahwa pemenuhan gizi adalah infrastruktur sosial yang wajib diselesaikan terlebih dahulu untuk mengatasi persoalan mendasar di tingkat akar rumput.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:detik.com
Kategori:Voli, Metropolitan, Ekonomi, DKI Jakarta
wwwwww