Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
9 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
7 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
9 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
4
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
7 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
9 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Metropolitan
15 jam yang lalu
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Home  /  Berita  /  Olympic

Ironi Bisnis Umrah Rp1,2 Miliar: Tokoh Nasional Disiksa Hingga Tak Berdaya Sebelum Dibuang Sekarat

Ironi Bisnis Umrah Rp1,2 Miliar: Tokoh Nasional Disiksa Hingga Tak Berdaya Sebelum Dibuang Sekarat
Mantan Sekretaris Jenderal Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) DKI Jakarta Herlan Matrusdi (68) dianiaya selama sepekan sebelum ditemukan tak bernyawa di area Gumuk Pasir, Grogol IX, Parangtritis, Kretek, Bantul, DIY.
Senin, 02 Februari 2026 09:31 WIB

YOGYAKARTA – Dibalik dinding sunyi sebuah homestay di Yogyakarta, seorang tokoh olahraga berkuda nasional, Herlan Matrusdi (68), harus melewati tujuh hari paling kelam dalam hidupnya. Mantan Sekjen Pordasi DKI Jakarta ini tidak hanya kehilangan hartanya dalam sengketa bisnis travel umrah senilai Rp1,2 miliar, tapi juga kehilangan martabat dan nyawanya di tangan orang yang ia anggap rekan.

oleh tersangka RM (41) dan FM (61) sejak pertengahan Januari 2026. Alih-alih mendapatkan penyelesaian bisnis, Herlan justru mendapatkan siksaan fisik yang tak henti hingga fisiknya hancur.

"Kondisi korban sudah sangat memprihatinkan, bahkan sampai buang air kecil di celana karena tidak mampu lagi bergerak akibat penganiayaan berulang," ungkap Kapolres Bantul, AKBP Bayu Puji Hariyanto, Minggu (1/2/2026).

Martabat yang Terbuang di Bagasi

Puncak kekejian ini terekam dengan jelas melalui lensa CCTV. Pada petang hari tanggal 27 Januari, alih-alih dibawa ke rumah sakit, tubuh Herlan yang sudah dalam kondisi kritis justru digotong paksa oleh kedua pelaku ke dalam bagasi sempit sebuah mobil Avanza sewaan.

Bagi para pelaku, Herlan bukan lagi rekan bisnis, melainkan "beban" yang harus dibuang. Sekitar pukul 18.45 WIB, di bawah temaram senja Gumuk Pasir Parangtritis, tubuh renta itu diletakkan di atas pasir dalam kondisi sekarat—ditinggalkan sendirian menjemput maut.

Hasil autopsi sementara menunjukkan betapa hebatnya penderitaan Herlan; tulang-tulang iganya patah berurutan, serambi jantungnya memar, dan wajahnya penuh luka robek akibat hantaman benda tumpul. Tokoh yang biasanya akrab dengan kegagahan olahraga berkuda itu ditemukan keesokan harinya oleh seorang pencari rumput dalam kondisi tak bernyawa.

Kini, RM dan FM harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Pasal berlapis dengan ancaman 15 tahun penjara telah menanti. Kasus ini menjadi potret kelam bagaimana ambisi materi mampu meluluhkan rasa kemanusiaan dan mengubah rekan menjadi algojo yang paling dingin.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:cnnindonesia.com
Kategori:Olympic, Non Olympic, Beladiri, DKI Jakarta, DI Yogyakarta
wwwwww