Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
10 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
2
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
12 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
3
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
18 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
4
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
6 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
5
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
7 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
6
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Umum
12 jam yang lalu
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Home  /  Berita  /  Olympic

Bocah SD di Ngada Akhiri Hidup, Alarm Keras Kegagalan Negara Jamin Hak Pendidikan Dasar

Bocah SD di Ngada Akhiri Hidup, Alarm Keras Kegagalan Negara Jamin Hak Pendidikan Dasar
Ilustrasi (net)
Selasa, 03 Februari 2026 08:16 WIB

NGADA – Kabar duka dari Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyentak nurani publik. Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar berinisial YS, nekat mengakhiri hidupnya di sebuah pohon cengkeh milik neneknya, Kamis (29/1/2026). Tragedi ini dipicu oleh persoalan yang sangat mendasar: permintaan buku tulis yang tak mampu dipenuhi sang ibu karena himpitan ekonomi.

Pengamat politik, Rocky Gerung menilai insiden memilukan ini sebagai bukti nyata adanya ketimpangan tajam dalam kebijakan pemerintah. Saat Presiden Prabowo Subianto baru saja menggaungkan keberhasilan ekonomi Indonesia di forum internasional World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, realita pahit justru terjadi di pelosok negeri.

"Pemerintah terbuai dengan isu-isu besar seperti Danantara, IHSG, hingga misi menggenjot pertumbuhan ekonomi tinggi. Namun, peristiwa ini membatalkan narasi kebesaran bangsa tersebut. Seorang anak berusia 10 tahun gantung diri hanya karena ibunya tidak bisa menyediakan buku tulis," ujar Rocky Gerung melalui kanal YouTube pribadinya, Selasa (3/2/2026).

Rocky menekankan bahwa buku tulis seharusnya menjadi hak dasar yang dijamin oleh negara tanpa pengecualian. Ia melihat ada disparitas atau kesenjangan yang berujung pada penderitaan (misery) rakyat kecil yang tak tersentuh oleh angka-angka pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan penguasa.

"Siapapun yang membayangkan kejadian itu pasti menemukan ada yang salah di dalam syarat-syarat bangsa memelihara peradaban. Ada yang salah dengan kebijakan pemerintah dalam memastikan keadilan sosial," jelasnya, Senin malam (2/2/2026).

Sebelum melakukan aksi nekatnya, YS sempat menuliskan sepucuk surat untuk ibunya. Isinya mengutarakan keinginan memiliki buku tulis demi menunjang pendidikannya. Namun, keterbatasan ekonomi membuat permintaan sederhana itu menjadi beban yang tak sanggup dipikul keluarga.

Bagi Rocky, fenomena ini adalah alarm keras bahwa di balik ambisi pertumbuhan ekonomi 6 hingga 8 persen, ada jiwa-jiwa yang tercecer dan terabaikan. Hak anak untuk terdidik dan menjadi pemimpin masa depan seolah terenggut oleh kemiskinan sistemik yang gagal diatasi pemerintah.

"Buku tulis adalah kemampuan seseorang untuk memperlihatkan bahwa dia berniat menjadi berguna bagi bangsa. Kita berada dalam kondisi di mana disparitas pada akhirnya menghasilkan penderitaan nyata," pungkasnya.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Olympic, Umum, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur
wwwwww