Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Sebagian PNS Akan Dipindahkan ke Desa, Ini Kriterianya
Nasional
18 jam yang lalu
Sebagian PNS Akan Dipindahkan ke Desa, Ini Kriterianya
2
Pengungkapan Asal Mula Covid-19: "Saya bisa Menghilang Kapan Saja"
Kesehatan
20 jam yang lalu
Pengungkapan Asal Mula Covid-19: Saya bisa Menghilang Kapan Saja
3
Mendagri Tekankan Disiplin Protokol Kesehatan pada Persiapan Pembelajaran Tatap Muka
Pemerintahan
21 jam yang lalu
Mendagri Tekankan Disiplin Protokol Kesehatan pada Persiapan Pembelajaran Tatap Muka
4
Padat Karya Kemendes PDTT Sasar 5 Juta Pekerja Desa
Pemerintahan
20 jam yang lalu
Padat Karya Kemendes PDTT Sasar 5 Juta Pekerja Desa
5
Cyber Indonesia Laporkan Anji ke Polisi
Hukum
19 jam yang lalu
Cyber Indonesia Laporkan Anji ke Polisi
6
Kisah Mualaf Wilfred Hoffman, Publikasikan Buku Menggegerkan Saat Jadi Dubes Jerman di Maroko
Umum
19 jam yang lalu
Kisah Mualaf Wilfred Hoffman, Publikasikan Buku Menggegerkan Saat Jadi Dubes Jerman di Maroko

Sedang Direnovasi dan Dicat Warna warni, Gedung Kantor Gubernur Sumbar Diprotes

Sedang Direnovasi dan Dicat Warna warni, Gedung Kantor Gubernur Sumbar Diprotes
Kantor Gubernur Sumbar yang memiliki warna cat kombinasi. (Humas)
Sabtu, 23 Januari 2016 07:29 WIB

PADANG - Gedung Kantor Gubernur Sumbar yang sedang direnovasi total pasca rusak berat dilanda gempa 2009. Namun, karena dicat dengan warna-warni dapat protes dari berbagai kalangan. Diantaranya sorotan langsung dari petinggi adat dari Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar, dan tokoh muda Sumbar dari Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari dua universitas ternama di Sumatera.

Ketua BEM Universitas Andalas (Unand) Reido Deskumar meminta agar penggunaan warna untuk kantor pemerintahan tersebut dicari ta-hu kembali agar tidak menimbulkan polemik di masyarakat. Karena katanya ketika sebuah instansi memakai lambang sesuatu pasti ada makna yang tersirat.

“Kalau memang ini merujuk kepada warna dari simbol adat di Sumbar tentu harus dipergunakan dengan benar. Tapi kalau ini hanya semata hanya warna biasa saja, perlu dijelaskan kepada masyarakat,” ungkapnya dikutip dari harianhaluan.com, Sabtu (23/1/2016).

Menurut Reido, penjelasan ini sebagai tujuan agar tidak muncul gesekan di masyarakat karena perbedaan interpretasi dari pemakaian warna yang ada. “Sebetulnya ini merupakan hal yang tidak begitu penting untuk diperdebatkan, hanya saja ketika itu memakai simbol daerah tentu harus dipakai dan dipergunakan dengan benar,” katanya.

Setali tiga uang denga Reido, Ketua BEM UNP Galan Victory juga meminta agar penggunaan ornamen apapun untuk sebuah gedung pemerintahan harus jelas dan mempunyai makna tertentu. Begitu juga dengan warna kantor gubernur saat ini yang memang merujuk ke simbol yang merupakan kearifan local Minangkabau.

“Harus jelas maknanya apa. Karena lamang ini tidak bisa dipakai begitu saja, karena hanya akan menimbulkan berbagai penilaian dan persepsi di masyarakat,” katanya kepada Haluan kemarin.

Galan berharap pihak pemerintah atau kontraktor bisa menjelaskan hal ini kepada masyarakat. “Kalau memang memakai lambang adat ten¬tunya harus dipergunakan dengan benar dan sesuai dengan ketentuan yang ada,” tuturnya.

Sementara itu Ketua LKAAM Sumbar M. Sayuti Dt. Rajo Panghulu mengatakan akan menyurati pihak kontraktor atau pun dinas terkait perihal warna ini. Menurutnya ini dilakukan agar pemakaian lambang atau symbol tertentu tidak menjadi pembodohan di masyarakat.

”Kalau memang dibutuhkan kita akan segera menyurati pihak terkait agar bisa menjelaskan hal ini. Karena bagaimana pun kalau memang merujuk lambang adat atau lambing luhak itu sudah salah secara urutannya,” ujar M. Sayuti. (***)

Editor:Calva
Sumber:Harianhaluan.com
Kategori:Ragam

wwwwww