Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Anis Beri Wejangan untuk Struktur PKS se-Jakarta Timur
Politik
18 jam yang lalu
Anis Beri Wejangan untuk Struktur PKS se-Jakarta Timur
2
Polri Berjanji Tindak Tegas Oknum Brimob yang Jual Senjata ke KKB Papua
Peristiwa
17 jam yang lalu
Polri Berjanji Tindak Tegas Oknum Brimob yang Jual Senjata ke KKB Papua
3
OPM Mengaku Sering Beli Senjata dari Oknum Aparat Indonesia
Peristiwa
15 jam yang lalu
OPM Mengaku Sering Beli Senjata dari Oknum Aparat Indonesia
4
Batal Ikut Turnamen di Perancis, PSSI Ajak Diskusi Shin Tae-yong
Sepakbola
21 jam yang lalu
Batal Ikut Turnamen di Perancis, PSSI Ajak Diskusi Shin Tae-yong
5
Ini Sosok Brimob Penjual Senjata ke OPM saat Diringkus TNI di Bandara
Hukum
17 jam yang lalu
Ini Sosok Brimob Penjual Senjata ke OPM saat Diringkus TNI di Bandara
6
Pandemi, Polisi di Tangerang Panen Raya Jagung Hibrida bersama Masyarakat
Ekonomi
15 jam yang lalu
Pandemi, Polisi di Tangerang Panen Raya Jagung Hibrida bersama Masyarakat

Dua WNI Berhasil Dibebaskan, Militer Filipina Tewas Saat Baku Tembak dengan Penyandera

Dua WNI Berhasil Dibebaskan, Militer Filipina Tewas Saat Baku Tembak dengan Penyandera
Tiga WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf. (kompas.com)
Senin, 23 Desember 2019 09:12 WIB
JAKARTA - Seorang prajurit militer Filipina tewas saat operasi pembebasan warga negara Indonesia (WNI) yang disandera Abu Sayyaf Group (ASG), Ahad (22/12/2019).

Dikutip dari kompas.com, prajurit militer Filipina itu tewas karena tertembak saat baku tembak dengan anggota kelompok Abu Sayyaf.

''Pemerintah Indonesia menyampaikan apresiasi atas kerja sama Pemerintah Filipina yang baik, sekaligus menyampaikan duka cita atas gugurnya satu personel militer Filipina dalam operasi tersebut,'' ujar perwakilan Kementerian Luar Negeri RI berdasarkan siaran pers Kementerian Luar Negeri RI, Ahad (22/12/2019).

Dua orang WNI tersebut disandera selama 90 hari oleh ASG dan berhasil dibebaskan berkat kerja sama intensif antara Pemerintah Indonesia dan Filipina melalui berbagai langkah diplomasi.

WNI tersebut merupakan dua dari tiga orang yang diculik pada September 2019 ketika mereka mencari ikan di perairan Lahad Datu, Malaysia.

Satu orang WNI lainnya yang belum dibebaskan. Saat ini, upaya pembebasannya masih terus dilakukan.

''Operasi pembebasan berhasil menjejak posisi penyandera dan terjadi kontak senjata pada 22 Desember 2019 pagi hari,'' kata dia.

''Dalam operasi tersebut, 2 WNI atas nama SM dan ML berhasil dibebaskan. Sementara itu, satu sandera WNI atas nama MF masih terus diupayakan pembebasannya,'' kata dia.

Adapun langkah diplomasi yang dilakukan antara lain melalui pembicaraan langsung Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Presiden Duterte serta Menteri Luar Negeri (Menlu RI) Retno Marsudi dengan Menteri Pertahanan Filipina.

Pembicaraan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan koordinasi internal antara Pemerintah RI yang dilakukan oleh Kementerian Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenkopolhukam) RI melalui kerja sama intensif antara badan intelejen Indonesia dengan militer Filipina.

Adapun tiga orang WNI diculik ketika tengah mencari ikan di perairan Lahad Datu, Malaysia, pada September 2019.

Ketiganya adalah Maharudin Lunani (48) dan anaknya, Muhammad Farhan (27), serta kru kapal Samiun Maneu (27).

Mereka berasal dari Baubau dan Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Penyanderaan ketiganya diketahui melalui rekaman video di laman Facebook. Dalam penculikan itu, penyandera meminta tebusan sebesar Rp8 miliar.***

Editor:hasan b
Sumber:kompas.com
Kategori:Ragam
wwwwww