Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Terapkan New Normal, DPR Minta Pemerintah Tak Tergesa-gesa
Peristiwa
20 jam yang lalu
Terapkan New Normal, DPR Minta Pemerintah Tak Tergesa-gesa
2
Ketua DPD RI Ajak Elemen Bangsa Gotong Royong Tekan Covid-19
Politik
20 jam yang lalu
Ketua DPD RI Ajak Elemen Bangsa Gotong Royong Tekan Covid-19
3
Petani Mengamuk, Lalu Bacok Istri hingga Tewas Mengenaskan
Umum
20 jam yang lalu
Petani Mengamuk, Lalu Bacok Istri hingga Tewas Mengenaskan
4
Syarief Hasan : Tap MPRS No. XXV/1966 Beri Kepastian Hukum dalam RUU HIP
Politik
20 jam yang lalu
Syarief Hasan : Tap MPRS No. XXV/1966 Beri Kepastian Hukum dalam RUU HIP
5
Dugaan Gratifikasi, KPK Tangkap Mantan Sekretaris MA Nurhadi dan Menantunya di Jakarta Selatan
Hukum
21 jam yang lalu
Dugaan Gratifikasi, KPK Tangkap Mantan Sekretaris MA Nurhadi dan Menantunya di Jakarta Selatan
6
DMI: Kapasitas Masjid Hanya Boleh 40 Persen Saat New Normal
Kesehatan
20 jam yang lalu
DMI: Kapasitas Masjid Hanya Boleh 40 Persen Saat New Normal

Korban Keracunan Ikan Tongkol di Jember Terus Bertambah, Sudah 350 Orang

Korban Keracunan Ikan Tongkol di Jember Terus Bertambah, Sudah 350 Orang
Korban keracunan ikan tongkol dirawat di Puskesmas. (detik.com)
Jum'at, 03 Januari 2020 18:07 WIB
JEMBER - Jumlah korban keracunan akibat mengonsumsi ikan tongkol bakar di Jember, terus bertambah. Hingga Jumat (3/1/2019) pagi, jumlah korban sudah mencapai 350 orang. Demikian menurut data yang dirilis Dinas Kesehatan Jember.

Dikutip dari merdeka.com, sehari sebelumnya, pada Kamis (02/01) siang, jumlah korban baru mencapai 250 orang, meningkat dari beberapa jam sebelumnya yang mencapai 199.

Sebagai besar korban keracunan massal itu sudah diperbolehkan pulang dari puskesmas/rumah sakit tempat mereka dirawat.

''Dari jumlah 250 orang yang terdata, tinggal dua orang yang masih rawat inap di puskesmas dan rumah sakit,'' ujar Plt Kepala Diskes Jember, Diah Kusworini saat jumpa pers bersama dengan Dinas Perikanan Jember dan Loka Pengawas Obat dan Makanan (POM) Jember di kantor Bupati Jember, Kamis (2/1) kemarin.

Kasus keracunan massal akibat konsumsi tongkol bakar saat malam tahun baru ini menjadi kasus pertama sepanjang sejarah di Jember. Dalam pernyataan terbarunya pada Jumat ini, Dinkes menegaskan, peningkatan jumlah kasus atau korban adalah bukan karena sakit baru. Tetapi karena baru dilaporkan kepada petugas, setelah pemerintah melakukan penyelidikan epidemiologi.

''Tujuan pengembangan kasus adalah untuk memastikan orang yang telah mengonsumsi ikan tongkol bisa diketahui kondisinya. Jika sakit harus segera mendapat pertolongan,'' kata Diah.

Dalam penyelidikan epidemiologi, petugas akan menanyakan kepada korban keracunan, tentang siapa saja yang ikut mengonsumsi ikan tongkol. Selanjutnya, petugas akan mengembangkan dengan mencari orang-orang yang makan ikan tongkol.

''Tidak semua orang yang makan ikan tongkol bakar (saat malam tahun baru kemarin) akan merasakan sakit. Tetapi yang sudah sakit, 100 persen (dipastikan karena) setelah mengonsumsi ikan tongkol,'' ujar Diah.

Selain itu, tingkat keracunan tiap orang yang mengonsumsi ikan tongkol bakar yang diduga tidak segar, juga bergantung pada daya tahan tubuh masing-masing yang berbeda.

Jumlah 350 korban keracunan massal di Jember itu tersebar di 24 Puskesmas, klinik kesehatan dan rumah sakit yang ada di Jember. Sebagai bentuk kesiagaan dalam status Kejadian Luar Biasa (KLB), Dinkes Jember telah mengerahkan sebanyak 50 Puskesmas, 13 rumah sakit serta klinik kesehatan pratama.

Ikan Tongkol Tikus

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Dinas Perikanan Jember menyebut, para korban diduga mengonsumsi ikan tongkol yang kondisinya sudah tidak segar. Dinas Perikanan juga tidak menemukan indikasi adanya pedagang yang menggunakan zat pengawet seperti formalin.

''Dari penyelidikan kami di temukan fakta bahwa sejak tanggal 23 hingga 31 Desember, di Puger panen ikan. Salah satunya adalah ikan yang menurut masyarakat setempat disebut Ikan Tongkol Locok (bahasa Madura, red) atau ikan tongkol tikus,'' ujar Plt Kepala Dinas Perikanan, Murtadlo

Ikan tongkol tikus ini, yang memiliki warna hitam, diduga yang banyak dikonsumsi korban keracunan massal. ''Ikan yang tidak bersisik, cenderung memiliki daya tahan kesegaran dibandingkan ikan yang bersisik. Ikan tongkol masuk jenis yang tidak bersisik, sehingga menyimpan kesegarannya harus benar,'' kata Murtadlo.

Kondisi panen ini berbarengan dengan animo masyarakat yang memiliki tradisi bakar ikan pada malam pergantian tahun. Karena itu, sejak tanggal 30 Desember, masyarakat dari berbagai daerah di Jember, berbondong-bondong ke Puger untuk mencari ikan tongkol sebagai persiapan tahun baru. Niat masyarakat untuk berburu ikan segar ini, sayangnya tidak dibarengi dengan cara menyimpan yang benar untuk mempertahankan kesegarannya.

''Mereka bahkan ada yang belanja pagi hari. Tetapi dibakarnya baru pada malam, bahkan menjelang tengah malam. Padahal, kemampuan kesegaran ikan tongkol locok ini hanya bisa bertahan maksimal 3 hingga 4 jam. Kecuali, ikan ini disimpan di alat yang memadai seperti Cold Storage atau freezer. Atau es batu yang banyak,'' tutur Murtadlo.

Fakta yang terjadi di lapangan, lanjut Murtadlo, para pembeli setelah beli ikan, tidak langsung disimpan di alat khusus. Mereka bahkan masih ada yang jalan-jalan terlebih dulu setelah membeli ikan segar di Puger. Di sisi lain, ikan segar yang baru di beli itu, di simpan dalam kondisi di atas 6 derajat celcius.

''Sehingga, kandungan histamin dalam ikan tongkol itu akan meningkat ketika disimpan di udara terbuka. Ini yang menjadi penyebab orang-orang yang konsumsi ikan tongkol dengan penyimpanan di atas empat jam, akan pusing-pusing,'' papar Murtadlo.

Histamin adalah zat racun yang keluar dari tubuh ikan, setelah mati beberapa jam dan tidak disimpan dengan benar. Biasanya terdapat di insang ikan.

Meski demikian, pemerintah meminta untuk tidak takut mengkonsumsi ikan laut dari Puger. ''Ikan laut itu sehat, asal cara menyimpan dan mengolahnya benar,'' pungkas Murtadlo.***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:Ragam

wwwwww