Sindiran Rojali-Rohana Jadi Viral, Pemerintah Diminta Dengarkan Suara Publik
![]() |
| Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi. |
JAKARTA – Viral istilah “Rojali” (rombongan jarang beli) dan “Rohana” (rombongan hanya nanya) di media sosial jadi fenomena unik yang menyuarakan keresahan publik soal kondisi ekonomi. Meski dikemas dalam bentuk humor, istilah ini menyentil realitas yang tak bisa diabaikan.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengingatkan agar publik dan pemerintah tidak menganggap remeh sindiran tersebut. Baginya, ini bukan sekadar guyonan, melainkan sinyal sosial yang harus dipahami dengan serius.
“Saya tidak melihat ini sebagai bahan tertawaan. Justru ini kritik publik yang menyampaikan masih ada ketimpangan dan tantangan ekonomi yang harus kita benahi bersama,” ujarnya, Selasa (5/8/2025).
Prasetyo menegaskan, istilah Rojali dan Rohana bisa dimaknai sebagai pengingat bagi pemerintah untuk mendorong kebijakan yang lebih menyentuh masyarakat bawah, sekaligus memperbaiki efektivitas belanja negara dan investasi.
Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mencoba menjawab fenomena ini lewat data. Ia mengklaim bahwa sektor ritel nasional masih tumbuh positif, dan inflasi inti terkendali di level 2,32%, menandakan daya beli masyarakat masih terjaga.
“Tiga perusahaan ritel besar kita tumbuh rata-rata di atas 5 persen. Jadi ini bukan soal pelemahan konsumsi,” kata Airlangga.
Namun di balik paparan statistik itu, suara masyarakat tetap bergema lewat cara mereka sendiri: meme, guyonan, dan istilah lucu seperti Rojali dan Rohana. Bagi sebagian kalangan, ini cara elegan menyampaikan kegelisahan di tengah gempuran angka makro yang seringkali tak menyentuh dapur mereka.
Di era digital ini, sindiran publik bukan hanya kritik, tapi juga ajakan berdialog. Pemerintah dituntut bukan sekadar menjawab lewat data, tapi juga hadir merespons keresahan yang hidup di lapangan. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | liputan6.com |
| Kategori | : | Voli, DKI Jakarta |













