Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
14 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
20 jam yang lalu
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
3
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
12 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
4
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
9 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
5
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
Hukum
19 jam yang lalu
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
6
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
8 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Home  /  Berita  /  PON

Harga Emas Melejit, Masyarakat Dihadapkan pada Pilihan Jual atau Tahan

Harga Emas Melejit, Masyarakat Dihadapkan pada Pilihan Jual atau Tahan
(ilustrasi/foto: ari saputra)
Jum'at, 03 Oktober 2025 10:55 WIB
JAKARTA – Kenaikan harga emas hingga menembus level tertinggi sepanjang sejarah bukan hanya memengaruhi pasar global, tetapi juga gaya hidup dan keputusan finansial masyarakat. Bagi sebagian orang, emas adalah aset lindung nilai, sementara bagi yang lain justru menjadi peluang untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek.

Saat ini, harga emas Antam telah mencapai Rp 2.198.000 per gram dan berpotensi naik di atas Rp 2.300.000 hingga akhir tahun. Di level global, harga emas diperkirakan bisa menembus US$ 3.850 per troy ons, dipicu melemahnya ekonomi Amerika Serikat dan meningkatnya ketegangan geopolitik.

Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menyebut, ketegangan geopolitik antara Rusia-Ukraina serta konflik di Timur Tengah memperkuat minat masyarakat pada logam mulia. “Ketika tensi global meningkat, orang lebih memilih emas karena dianggap aman,” katanya.

Fenomena ini terlihat di dalam negeri. Sebagian masyarakat memilih menahan emas yang dimiliki sebagai tabungan jangka panjang, sementara lainnya justru menjual di tengah harga tinggi untuk kebutuhan mendesak.

Ekonom senior INDEF, Tauhid Ahmad, menambahkan harga emas yang terus naik menjadi refleksi ketidakpastian pasar. “Namun untuk level Rp 2.400.000 per gram masih sulit tercapai, karena Bank Indonesia pasti menahan pelemahan rupiah terlalu jauh,” jelasnya.

Lonjakan harga emas kini menciptakan dilema: apakah masyarakat sebaiknya membeli untuk investasi, menahan sebagai tabungan, atau menjual untuk keuntungan instan? Satu hal yang pasti, emas kembali menegaskan posisinya bukan hanya sebagai komoditas, tetapi juga bagian dari gaya hidup finansial masyarakat di tengah ketidakpastian global. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:detik.com
Kategori:PON, Nasional, Ekonomi
wwwwww