Harga Emas Melejit, Masyarakat Dihadapkan pada Pilihan Jual atau Tahan
![]() |
| (ilustrasi/foto: ari saputra) |
Saat ini, harga emas Antam telah mencapai Rp 2.198.000 per gram dan berpotensi naik di atas Rp 2.300.000 hingga akhir tahun. Di level global, harga emas diperkirakan bisa menembus US$ 3.850 per troy ons, dipicu melemahnya ekonomi Amerika Serikat dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menyebut, ketegangan geopolitik antara Rusia-Ukraina serta konflik di Timur Tengah memperkuat minat masyarakat pada logam mulia. “Ketika tensi global meningkat, orang lebih memilih emas karena dianggap aman,” katanya.
Fenomena ini terlihat di dalam negeri. Sebagian masyarakat memilih menahan emas yang dimiliki sebagai tabungan jangka panjang, sementara lainnya justru menjual di tengah harga tinggi untuk kebutuhan mendesak.
Ekonom senior INDEF, Tauhid Ahmad, menambahkan harga emas yang terus naik menjadi refleksi ketidakpastian pasar. “Namun untuk level Rp 2.400.000 per gram masih sulit tercapai, karena Bank Indonesia pasti menahan pelemahan rupiah terlalu jauh,” jelasnya.
Lonjakan harga emas kini menciptakan dilema: apakah masyarakat sebaiknya membeli untuk investasi, menahan sebagai tabungan, atau menjual untuk keuntungan instan? Satu hal yang pasti, emas kembali menegaskan posisinya bukan hanya sebagai komoditas, tetapi juga bagian dari gaya hidup finansial masyarakat di tengah ketidakpastian global. ***













