Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
12 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
18 jam yang lalu
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
3
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
9 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
4
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
Hukum
17 jam yang lalu
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
5
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
7 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
6
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
6 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Home  /  Berita  /  Voli

Harga Minyak Global Naik Tipis, Geopolitik Masih Jadi Penekan Pasar

Harga Minyak Global Naik Tipis, Geopolitik Masih Jadi Penekan Pasar
Ilustrasi (foto: rmol/reni erina)
Jum'at, 03 Oktober 2025 10:16 WIB
JAKARTA – Harga minyak dunia sedikit menguat pada Jumat (3/10/2025) setelah empat hari tertekan. Meski sempat rebound, pasar energi belum sepenuhnya tenang karena sejumlah faktor geopolitik dan kebijakan produksi yang bisa kembali menekan harga.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 18 sen atau 0,3 persen menjadi 64,29 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 19 sen atau 0,3 persen ke level 60,67 dolar AS per barel.

Kenaikan ini tidak mampu menghapus pelemahan tajam sepekan terakhir. Brent turun 8,3 persen, sementara WTI melemah 7,6 persen. Jika tren tak berbalik, Brent bisa mencatat level penutupan terendah sejak Mei, dan WTI berpotensi menyentuh titik terlemah sejak awal Mei.

Analis IG, Tony Sycamore, menilai pasar belum keluar dari tekanan. Menurutnya, rencana OPEC+ menambah produksi hingga 500.000 barel per hari menjadi ancaman serius bagi kestabilan harga.

“Kenaikan produksi sebesar itu bisa menyeret harga kembali ke 58 dolar AS, bahkan menguji level terendah tahun ini di 55 dolar AS,” jelasnya.

Selain itu, faktor politik juga memperburuk suasana pasar. Laporan Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat stok minyak mentah, bensin, dan sulingan meningkat akibat permintaan menurun. Situasi makin tertekan dengan risiko penutupan pemerintahan Amerika Serikat yang bisa memperlambat aktivitas ekonomi.

Tidak kalah penting, ekspor minyak dari wilayah Kurdi Irak kembali berjalan. Pasokan tambahan ini bisa semakin menekan harga di tengah permintaan global yang masih lesu.

Dengan kombinasi faktor produksi berlebih, lemahnya konsumsi, dan ketidakpastian politik, harga minyak diperkirakan tetap sulit menemukan titik stabil dalam waktu dekat. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:PON, Voli, Ekonomi
wwwwww