Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
22 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
17 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
3
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
16 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
4
Direktur LBH JARAK Sebut "Genk Solo" Mainkan Issue Diversion
Umum
14 jam yang lalu
Direktur LBH JARAK Sebut Genk Solo Mainkan Issue Diversion
5
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
19 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
6
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
Metropolitan
15 jam yang lalu
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
Home  /  Berita  /  PON

22 Pendemo Tewas, Represi Aparat Madagaskar Picu Sorotan Dunia

22 Pendemo Tewas, Represi Aparat Madagaskar Picu Sorotan Dunia
Presiden Madagaskar Andry Rajoelina (foto: facebook andry rajoelina)
Sabtu, 04 Oktober 2025 10:26 WIB
JAKARTA – Gelombang protes di Madagaskar yang menuntut Presiden Andry Rajoelina mundur telah berubah menjadi tragedi kemanusiaan. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat sedikitnya 22 orang tewas sejak aksi dimulai pada 25 September, menjadikan demonstrasi ini salah satu yang paling berdarah dalam sejarah politik negeri pulau itu.

Pada Jumat (3/10/2025), ribuan orang kembali turun ke jalan di ibu kota Antananarivo. Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa, seperti terlihat dalam rekaman Real TV Madagaskara. Tindakan aparat semakin menambah kemarahan demonstran yang menuntut akses terhadap kebutuhan dasar seperti air dan listrik.

Dalam pidatonya yang disiarkan lewat Facebook, Presiden Rajoelina menyerukan ketenangan dan dialog, namun tetap menolak mundur. Ia menuding aksi ini dimanfaatkan lawan politik sebagai upaya kudeta, meski tanpa bukti jelas. “Beberapa orang ingin menghancurkan negara kita,” katanya.

Kelompok demonstran yang menamakan diri “Gen Z” membantah tudingan tersebut. Mereka menilai pernyataan presiden sebagai bentuk pengalihan isu dan memberikan tenggat 24 jam agar pemerintah merespons tuntutan rakyat.

Komunitas internasional mulai menyoroti situasi di Madagaskar. Dengan korban jiwa yang terus bertambah dan penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat, desakan terhadap pemerintah agar menghormati hak asasi manusia semakin kuat.

Tragedi di Antananarivo menegaskan bahwa krisis politik di Madagaskar bukan hanya soal perebutan kekuasaan, melainkan juga tentang keselamatan warga yang hak dasarnya terabaikan. Selama represi terus berlangsung, risiko pertumpahan darah lebih besar masih membayangi. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:PON, Olympic, Basket
wwwwww