Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
22 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
17 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
3
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
16 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
4
Direktur LBH JARAK Sebut "Genk Solo" Mainkan Issue Diversion
Umum
14 jam yang lalu
Direktur LBH JARAK Sebut Genk Solo Mainkan Issue Diversion
5
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
19 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
6
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
Metropolitan
15 jam yang lalu
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
Home  /  Berita  /  PON

Polemik Subsidi Energi, Citra Pemerintah Terkikis oleh Perbedaan Menteri

Polemik Subsidi Energi, Citra Pemerintah Terkikis oleh Perbedaan Menteri
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. (foto: instagram rmol)
Sabtu, 04 Oktober 2025 10:41 WIB
JAKARTA – Perselisihan data subsidi energi antara Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memunculkan kegaduhan politik yang tak hanya berhenti di ranah teknis, tetapi juga memengaruhi kepercayaan publik pada pemerintah.

Bermula dari pernyataan Purbaya yang menyebut harga keekonomian LPG 3 kg mencapai Rp42.750 per tabung, publik di media sosial justru ramai menaruh simpati pada dirinya. Banyak warganet menilai pernyataan Purbaya lebih kredibel dibanding bantahan Bahlil yang menyebut data subsidi masih difinalisasi bersama BPS dan BPH Migas.

“Kami lebih percaya Purbaya daripada Bahlil,” tulis akun @edy.kurniawan315 di kolom komentar Instagram RMOL, Sabtu (4/10/2025). Komentar lain bahkan menyinggung latar belakang pendidikan keduanya, menjadikan isu ini semakin personal.

Bahlil berkeras bahwa Purbaya salah membaca data. “Mungkin beliau belum dapat masukan yang tepat dari Dirjen maupun timnya,” ucapnya di Kantor BPH Migas, Kamis (2/10/2025).

Namun reaksi publik memperlihatkan sisi lain. Di tengah mahalnya harga kebutuhan pokok, perdebatan terbuka antarmenteri justru dipandang sebagai ketidakkompakan pemerintah. Bahkan muncul komentar bernada sinis yang meminta Bahlil diganti dari kursi menteri.

Polemik ini menunjukkan, bagi rakyat, kredibilitas pejabat lebih penting daripada angka statistik semata. Ketika dua pejabat negara saling berbeda pandangan di ruang publik, yang tergerus bukan hanya wibawa pribadi, melainkan juga kepercayaan terhadap soliditas kabinet. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:gelora.co
Kategori:PON, Nasional, Voli, Metropolitan, Ekonomi
wwwwww