Makna Pahlawan Zaman Kini: Kisah Perjuangan 10 Tokoh yang Ditetapkan Presiden Prabowo di Hari Pahlawan
![]() |
| Keluarga menangis di dekat foto almarhumah Marsinah seusai pemberian gelar pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025). |
JAKARTA – Upacara peringatan Hari Pahlawan di Istana Negara, Senin (10/11/2025), menjadi momen bersejarah bagi bangsa Indonesia. Presiden Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh yang dinilai berjasa besar bagi kemerdekaan, keadilan, dan kemanusiaan.
Para tokoh yang mendapat anugerah tahun ini datang dari latar belakang perjuangan yang beragam — mulai dari pejuang buruh, ulama, hingga pemimpin militer dan politik. Mereka adalah simbol keberanian melawan penindasan dan teladan dalam memperjuangkan cita-cita bangsa.
Salah satu nama yang menarik perhatian publik adalah Marsinah, buruh pabrik sepatu asal Sidoarjo yang gugur dalam perjuangannya menuntut keadilan bagi pekerja. Kasus pembunuhannya pada 1993 mengguncang Indonesia dan menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Kini, namanya diabadikan sebagai pejuang hak asasi manusia dan keadilan sosial.
Tokoh lainnya, Jenderal (Purn) Soeharto, diakui atas kiprahnya dalam perjuangan kemerdekaan, terutama dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Meski masa kepemimpinannya selama Orde Baru masih menuai perdebatan, pemerintah menilai jasanya dalam menjaga stabilitas dan pembangunan ekonomi bangsa patut dikenang sebagai bagian dari sejarah Indonesia.
Presiden juga menganugerahkan gelar pahlawan kepada KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), presiden keempat Indonesia yang dikenal sebagai tokoh toleransi dan pluralisme. Gus Dur dikenang karena keberaniannya membuka ruang kebebasan beragama dan membela kelompok minoritas.
“Beliau bukan hanya pemimpin, tapi juga simbol kemanusiaan dan kebebasan berpikir bagi bangsa ini,” ujar salah satu anggota Dewan Gelar, dalam keterangannya.
Nama Letnan Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo turut masuk dalam daftar penerima gelar. Ia dikenal sebagai komandan RPKAD yang berperan penting dalam masa pasca-peristiwa 30 September 1965, serta sebagai tokoh yang membawa operasi militer ke Papua pada era awal integrasi wilayah tersebut.
Sementara itu, Prof Mochtar Kusumaatmadja, tokoh hukum laut Indonesia, dikenang lewat gagasannya tentang Wawasan Nusantara dan perjuangannya menjadikan konsep negara kepulauan (Archipelagic State) diakui secara internasional melalui United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).
Di wilayah timur Indonesia, dua nama besar ikut mendapat pengakuan: Sultan Muhammad Salahuddin dari Bima, NTB, dan Sultan Zainal Abidin Syah dari Tidore, Maluku Utara. Keduanya dinilai berperan menjaga keutuhan NKRI di masa transisi kemerdekaan dan menunjukkan kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat.
Dari tanah Jawa Timur, sosok ulama karismatik Syaikhona Muhammad Kholil juga dianugerahi gelar pahlawan atas jasanya sebagai guru spiritual pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Kiprah beliau dalam pendidikan dan perjuangan melawan penjajahan Belanda menjadikannya pilar penting dalam sejarah Islam Nusantara.
Dari Sumatera Utara, Rondahaim Saragih Garingging dikenang sebagai panglima rakyat Simalungun yang memimpin perlawanan terhadap Belanda. Ia membangun jejaring antarkerajaan di pesisir Sumatera Timur untuk mempertahankan tanah air dari penjajahan.
Penganugerahan gelar pahlawan tahun ini menegaskan makna luas dari kata perjuangan. Tak hanya mereka yang mengangkat senjata, tetapi juga yang melawan lewat pikiran, pena, atau suara. Dari Marsinah yang memperjuangkan buruh hingga Gus Dur yang menegakkan kemanusiaan, semuanya memiliki benang merah: keberanian melawan ketidakadilan. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | republika.co.id |
| Kategori | : | Voli, DKI Jakarta |













