Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
10 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
10 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
11 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
11 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
11 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Bank Jakarta Perkuat Tata Kelola dan Optimalisasi Layanan
Ekonomi
7 jam yang lalu
Bank Jakarta Perkuat Tata Kelola dan Optimalisasi Layanan
Home  /  Berita  /  Nasional

Anak Pengayuh Becak dari Semarang Jadi Peneliti Keuangan Iklim, Raeni Mengajar di University of Birmingham

Anak Pengayuh Becak dari Semarang Jadi Peneliti Keuangan Iklim, Raeni Mengajar di University of Birmingham
Raeni kini sudah jadi Asisten Profesor di Universitas Birmingham Inggris. Foto: Instagram @raeni_raeni
Rabu, 17 Juni 2026 08:40 WIB

JAKARTA - Kegigihan dalam dunia akademik mampu mengubah garis hidup seseorang secara drastis. Sosok pemuda inspiratif yang dahulu menghebohkan publik karena datang ke lokasi wisuda menggunakan becak, kini resmi diangkat menjadi pengajar di salah satu universitas terbaik Inggris.

Usai menyelesaikan S3, namanya tercatat di laman resmi kampusnya. Bukan sebagai lulusan biasa, melainkan sebagai asisten profesor. Mengutip laman resmi Universitas Birmingham, Raeni kini menjabat sebagai Asisten Profesor Departemen Akuntansi, University of Birmingham.

Fokus kerjanya saat ini sangat krusial, yaitu bertugas dalam penelitian soal pengembangan kerangka akuntabilitas untuk perubahan iklim, dengan penekanan khusus pada keuangan iklim. Universitas Birmingham merupakan kampus top 11 di Inggris dan 76 dunia versi QS WUR 2026.

Perjalanan Panjang dari Semarang ke Inggris

Sebelum meraih posisi prestisius di luar negeri, ia membangun fondasi akademiknya dengan penuh perjuangan dari bawah:

  • * Tahun 2014: Lulus S1 dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan sempat jadi sorotan karena saat momen wisuda ia diantar dengan becak sang ayah.
  • * Tahun 2016: Pernah menjadi pengajar atau dosen non-PNS di jurusan Pendidikan Ekonomi, Unnes.
  • * Pendidikan Master: Mengambil gelar Msc dalam Akuntansi dan Keuangan Internasional di Universitas Birmingham dan lulus dengan predikat istimewa.
  • * Gelar Doktor: Melanjutkan PhD Akuntansi di kampus yang sama hingga selesai.

Pengakuan Internasional dan Penghargaan Ilmiah

Ia adalah sosok yang gigih dalam dunia akademik. Atas kontribusi ilmiahnya, ia telah menerima Penghargaan Rob Gray Emerging Scholar dan Hadiah Peringatan Reg Mathews dari CSEAR UK.

Selain itu, ia juga aktif berkontribusi sebagai peninjau ad hoc untuk jurnal-jurnal bergengsi dan telah terpilih sebagai peninjau ahli untuk Global Environmental Outlook yang akan datang, sebuah laporan unggulan dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP). Selama di Inggris, ia juga pernah menjadi anggota Madya Bidang Pendidikan Tinggi (AFHEA), Akademi Pendidikan Tinggi, Inggris.

Pengorbanan Orang Tua dan Hadiah Laptop

Untuk menempuh S1, ia mengandalkan beasiswa Bidikmisi. Keberhasilan ini tidak lepas dari pengorbanan luar biasa sang ayah yang rela menggunakan uang pesangon demi mendukung fasilitas belajarnya.

"Untungnya saya bersyukur sekali mempunyai orang tua yang bagi saya sangat luar biasa. Bapak ketika beliau keluar dari pekerjaan dan pesangonnya digunakan untuk membelikan laptop saya untuk kuliah sebagai hadiah karena beliau sudah promise (janji) kalau ketika akan nanti kalau saya lulus beasiswa saya boleh dibelikan laptop," jelasnya.

Setamat sarjana, ia mendapatkan kesempatan emas untuk melanjutkan studi ke jenjang magister lewat jalur yang sangat kompetitif di tingkat nasional.

"S2 ada namanya beasiswa presiden yang mungkin itu seleksinya sangatlah ketat dan hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkan. Yang Maha Kuasa memberikan amanah itu salah satunya kepada saya," ungkapnya. Sebelum menjadi asisten profesor, ia juga tercatat sebagai peneliti pascadoktoral di Stockholm Environment Institute di York yang berkontribusi pada proyek UK Partnering for Accelerated Climate Transitions (UK PACT) di Indonesia. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:detik.com
Kategori:Nasional
wwwwww