Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Nono Sampono: Indonesia Harus Waspadai Perkembangan Strategi Kawasan Asia-Pasifik
Pemerintahan
20 jam yang lalu
Nono Sampono: Indonesia Harus Waspadai Perkembangan Strategi Kawasan Asia-Pasifik
2
BAP DPD RI Kembali Lanjutkan Mediasi Dugaan Maladministrasi Bupati Jember
Politik
19 jam yang lalu
BAP DPD RI Kembali Lanjutkan Mediasi Dugaan Maladministrasi Bupati Jember
3
Revisi UU Pemilu, 'Ada Penumpang' di Ambang Batas Parlemen
DPR RI
21 jam yang lalu
Revisi UU Pemilu, Ada Penumpang di Ambang Batas Parlemen
4
Supaya Tak Bergantung dari China, Wakil Ketua DPD: Kita harus jadi Produsen
Politik
19 jam yang lalu
Supaya Tak Bergantung dari China, Wakil Ketua DPD: Kita harus jadi Produsen
5
Berangkatkan 43 Ribu PMI, BP2MI Masih Koordinasi dengan Kemenaker dan Gugus Tugas Covid-19
Ekonomi
19 jam yang lalu
Berangkatkan 43 Ribu PMI, BP2MI Masih Koordinasi dengan Kemenaker dan Gugus Tugas Covid-19
6
Pemain Persib Bandung Negatif Covid 19 dari Hasil Swab
Sepakbola
19 jam yang lalu
Pemain Persib Bandung Negatif Covid 19 dari Hasil Swab

Bukan Transgender, Penyanyi Selina Operasi Buang Payudara Namun Sisakan Puting, Alasannya Bikin Geleng Kepala

Bukan Transgender, Penyanyi Selina Operasi Buang Payudara Namun Sisakan Puting, Alasannya Bikin Geleng Kepala
Selina Jenkins. (theage.com.au)
Minggu, 22 September 2019 11:22 WIB
MELBOURNE - Banyak wanita menghabiskan banyak uang untuk biaya operasi memperbesar ukuran payudaranya dengan harapan penampilannya telihat lebih menarik.

Namun sebaliknya dengan Selina Jenkis, penyanyi dan pencipta lagu di Australia ini justru menjalani operasi untuk menghilangkan payudaranya.

Dikutip dari liputan6.com, Selina Jenkins memutuskan membuang payudaranya karena menganggapnya sebagai bagian tubuh yang mengganggu. Dia mengibaratkan payudara miliknya sebagai 'tamu tidak diundang' yang menyusahkan hidupnya.

Sehingga, meski tidak mengidap kanker dan tidak berniat menjadi transgender, dia nekat untuk menyingkirkan buah dadanya untuk selamanya.

Pada usia 31 tahun, dia melakukan pengangkatan payudara atau masektomi ganda yang mengambil seluruh jaringan payudaranya dengan hanya menyisakan bagian putingnya saja.

Tujuh tahun setelah menjalani operasi itu, dia mengaku semakin mencintai tubuhnya saat ini. ''Ini adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup saya,'' tuturnya kepada ABC, dikutip pada Sabtu (21/9/2019).

''Saya merasa demikian setiap hari, waktu mandi, ketika ganti baju atau ketika sedang bercermin, atau ketika melakukan gerakan yoga,'' lanjutnya.

Tidak Nyaman

Jenkins mengaku sudah merasa tidak nyaman dengan sepasang payudara di dadanya sejak dia masih remaja.

''Saya merasakan itu sejak payudara saya semacam menyembul begitu saja ketika saya berusia 12 tahun, dan saya merasa keberadaannya tidak pas di tubuh saya,'' ungkapnya.

''Ketika masih anak-anak, saya mengira, adalah sebuah kesalahan bagi seseorang untuk memiliki payudara. Dan seiring saya dewasa dan melewati masa pubertas, saya tidak kunjung merasa nyaman dengan keduanya.''

''Payudara ini tidak memberi manfaat apapun bagi saya, baik secara fisik maupun seksual, saya tidak paham mengapa mereka harus melekat di tubuh saya,'' ucapnya lagi.

''Ketidaksukaan ini terus berkembang, terlebih lagi ketika kehadirannya terasa semakin mengganggu aktivitas saya ketika berolahraga, melakukan yoga atau menunggang kuda.''

Ia melanjutkan, "Saya merasa sangat tidak nyaman, saya sering menderita sakit di punggung. Bagi saya tidak ada kebaikan apapun dari payudara ini.''

Namun keinginan Jenkins untuk menyingkirkan kedua organ payudaranya ini tidak berjalan mudah.

Tahun 2012, sejumlah dokter bedah plastik yang didatanginya di Australia menolak melakukan operasi pengangkatan payudara miliknya kecuali untuk alasan medis atau bagian dari proses peralihan dirinya menjadi seorang laki-laki.

Jenkins mengaku dirinya merasa menjadi orang pertama yang menghendaki tindakan operasi nekat semacam itu di Australia. Ia akhirnya berhasil menemukan seorang ahli bedah plastik di Florida, AS yang bersedia membantu dirinya melakukan operasi itu.

Baru setelah menjalani operasi, seorang dokter bedah plastik di Melbourne, Andrew Ives, bersedia mengobservasi dirinya. Bagi Jenkins sendiri, ini adalah sebuah keputusan mengenai kepemilikan atas tubuhnya sendiri dan juga citra dirinya.

Oleh karena itu ia sempat mempertanyakan respons berbeda dari ahli medis atas keinginannya untuk menghilangkan payudara. Ia menilai keputusanya itu tidak berbeda dengan keputusan jutaan perempuan untuk melakukan operasi pembesaran payudara.

''Saya sangat tidak bahagia dengan bagian tubuh saya yang satu ini dan tersedia pilihan bagi saya untuk mengubahnya,'' katanya.

Didukung Dokter

Dr Andrew Ives sepakat dengan pendapatnya dan menilai keinginan Jenkinsa untuk menghilangkan kedua payudaranya memang sesuatu yang tidak normal yang dapat memicu perbedaan ahli medis dalam menyikapinya.

''[Sekarang] seseorang bisa mendatangi klinik bedah plastik mana saja dan meminta pembesaran payudara. Dan itu adalah hal yang normal. Sementara apa yang diinginkan Selina, bukan hal yang normal,''

''Dan sesungguhnya itu adalah standar ganda...mengapa anda bersedia melakukan operasi pembesaran payudara pada seseorang tapi tidak bersedia melayani permintaan untuk menyingkirkan payudara mereka. Mengapa menilai keinginan itu tidak wajat?''

Namun Dr Ives meyakini di masa mendatang sikap para ahli bedah plastik ini lambat laun akan berubah. Seseorang yang memiliki keinginan serupa dengan Selina di kemudian hari akan lebih mendapat dukungan, seiring berevolusinya 'standar operasi bedah plastik yang dianggap normal' di masyarakat. ***

Editor:hasan b
Sumber:liputan6.com
Kategori:Ragam

wwwwww