Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Aksi Solidaritas Kematian George Floyd Berujung Ricuh Hampir ke Seluruh Amerika
Internasional
16 jam yang lalu
Aksi Solidaritas Kematian George Floyd Berujung Ricuh Hampir ke Seluruh Amerika
2
Kematian George Floyd Berujung Rusuh, KJRI Chicago Pastikan WNI Aman
Peristiwa
16 jam yang lalu
Kematian George Floyd Berujung Rusuh, KJRI Chicago Pastikan WNI Aman
3
Umumkan Amerika Keluar dari Keanggotaan, Donald Trump Sebut WHO 'Boneka' China
Internasional
6 jam yang lalu
Umumkan Amerika Keluar dari Keanggotaan, Donald Trump Sebut WHO Boneka China
4
Miris, Sejumlah PRT Terjebak Utang Gara-gara Dipecat via WA dan Tak Ada Pesangon saat Corona
Ekonomi
23 jam yang lalu
Miris, Sejumlah PRT Terjebak Utang Gara-gara Dipecat via WA dan Tak Ada Pesangon saat Corona
5
Aksi Ricuh Demonstrasi Merebak di 30 Kota di Amerika
Internasional
7 jam yang lalu
Aksi Ricuh Demonstrasi Merebak di 30 Kota di Amerika
6
Lawan Covid -19, Aziz Syamsudin Ajak Warga Budayakan Gotong Royong
Politik
7 jam yang lalu
Lawan Covid -19, Aziz Syamsudin Ajak Warga Budayakan Gotong Royong

Harta Bendanya Ludes, Lebih 900 Perantau Minang di Wamena Berharap Dipulangkan

Harta Bendanya Ludes, Lebih 900 Perantau Minang di Wamena Berharap Dipulangkan
Warga menunggu pesawat Hercules milik TNI AU di Pangkalan TNI AU Manuhua Wamena, Jayawijaya, Papua, Rabu (25/9/2019). (republika.co.id)
Kamis, 26 September 2019 13:49 WIB
PADANG - Kerusuhan yang pecah di di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin (23/9), menyebabkan sembilan perantau asal Pesisir Selatan, Sumatera Barat, kehilangan nyawa dan beberapa orang terluka.

Dikutip dari republika.co.id, saat ini masih ada 327 kepala keluarga (KK) atau lebih 900 jiwa perantau Minang berada di Wamena. Namun mereka tak lagi memiliki usaha dan harta benda. Sebab, semuanya ludes karena dibakar dan dirusak massa saat kerusuhan. Karena itu, mereka berharap dibantu dipulangkan ke kampung halamannya.

''Sebanyak 327 KK ini terdiri dari sekitar 900-an orang. Semua sekarang menyelamatkan diri ke tenda pengungsian dan berharap untuk bisa pulang ke kampung halaman,'' kata Ketua Ikatan Keluarga Minang (IKM) Papua, Zulhendri Sikumbang dihubungi dari Padang, Kamis.

Zulhendri mengatakan, usai peristiwa kerusuhan, para perantau sudah tidak punya tempat untuk ditinggali, padahal mereka memiliki istri dan anak yang masih kecil-kecil. Ia mengungkapkan bahwa selain pendidikan anak yang terlantar, hidup di tenda pengungsian sangat berat bagi bayi dan balita.

Menurut Zulhendri, para perantau Minang sangat berharap bisa pulang ke kampung halaman. Ia menyatakan, pihaknya sudah mencoba berkoordinasi dengan Pemprov Sumbar, namun karena jumlah perantau yang sangat banyak dan tentunya butuh dana sangat besar untuk memfasilitasi mereka kembali ke Sumbar.

Zulhendri pun berharap warga Minang di kampung halaman bisa ikut membantu agar seluruh perantau di Wamena bisa diungsikan ke kampung halaman. Kerisauan perantau Minang terjadi menyusul pecahnya kerusuhan di Wamena, Jayapura. Sebanyak 10 korban di antaranya berasal dari Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar.

Jenazah para korban kerusuhan itu akan dipulangkan ke kampung halaman dengan bantuan Pemkab Jayapura, Pemprov Sumbar, dan Pemkab Pesisir Selatan. Diperkirakan jenazah akan sampai di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pada Kamis.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ragam

wwwwww