Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Timnas Basket Indonesia Tetap Jalani Latihan Saat Ramadhan
Olahraga
21 jam yang lalu
Timnas Basket Indonesia Tetap Jalani Latihan Saat Ramadhan
2
Aneh, Larang Pemudik Masuk Solo, Gibran Tetap Izinkan Wisatawan dari Jakarta
Peristiwa
19 jam yang lalu
Aneh, Larang Pemudik Masuk Solo, Gibran Tetap Izinkan Wisatawan dari Jakarta
3
Ricardo Dicopot dari Dirut Pertamina Hulu Rokan, Ini Sosok Penggantinya
Peristiwa
16 jam yang lalu
Ricardo Dicopot dari Dirut Pertamina Hulu Rokan, Ini Sosok Penggantinya
4
Siapkan Prizepool 100 Juta, UniPin Resmi Luncurkan Ladies Series MLBB 2021
Olahraga
21 jam yang lalu
Siapkan Prizepool 100 Juta, UniPin Resmi Luncurkan Ladies Series MLBB 2021
5
Surat Rekom Diserahkan ke Pimpinan, Komisi V DPRD Riau Segera Gunakan Hak Interplasi dan Bentuk Pansus Covid
Peristiwa
19 jam yang lalu
Surat Rekom Diserahkan ke Pimpinan, Komisi V DPRD Riau Segera Gunakan Hak Interplasi dan Bentuk Pansus Covid
6
TNI-Polri Kembali Kontak Tembak dengan KKB di Ilaga Papua
Peristiwa
19 jam yang lalu
TNI-Polri Kembali Kontak Tembak dengan KKB di Ilaga Papua

Percakapan di 'Grup STM' Tunggu Bayaran Demo Disebut Milik Polisi, Begini Kata Karo Penmas Polri

Percakapan di Grup STM Tunggu Bayaran Demo Disebut Milik Polisi, Begini Kata Karo Penmas Polri
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. (int)
Selasa, 01 Oktober 2019 16:57 WIB
JAKARTA - Percakapan sejumlah siswa STM di grup whatsapp yang menunggu uang pembayaran atas demo yang mereka lakukan di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Senin (30/9), beredar di media sosial.

Dikutip dari merdeka.com, dalam chat (percakapan) yang beredar tersebut, anak-anak STM itu mengatakan datang ke Jakarta untuk berdemo karena dibayar. Mereka gelisah, marah-marah di grup tersebut, mencari keberadaan si korlap aksi, lantaran pembayaran tak kunjung mereka terima.

Setelah percakapan anak-anak STM itu beredar, warganet yang penasaran, mencoba menelusuri nomor-nomor yang tertera melalui aplikasi pelacak nomor telepon Truecaller atau Get Contact. Hasilnya, didapati pemilik nomor-nomor pada 'grup STM' tersebut adalah anggota kepolisian.

Ada Upaya Propaganda

Menanggapi itu, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyatakan, ada upaya propaganda di media sosial menggunakan cara tersebut.

''Nah ini, jadi kita paham betul apa yang ada di media sosial itu. Karena sebagian besar adalah anonymous, narasi-narasi yang dibangun adalah narasi propaganda, tentunya dari direktorat Cyber Bareskrim sudah memprofiling,'' tutur Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (1/9).

Menurut Dedi, pada akhirnya narasi yang digunakan bersifat provokatif untuk membuat kegaduhan di masyarakat. Sama halnya dengan kasus surat suara tercoblos di tujuh kontainer dan lainnya.

''Belum bisa dipastikan, kalau itu anggota polisi pun kan belum bisa dipastikan betul anggota atau bukan, dan narasinya saya belum baca, ada unsur perbuatan pidananya nggak. Kalau enggak ada perbuatan pidana, nanti jajaran multimedia akan membuat literasi digital agar masyarakat betul-betul cerdas dan bijak menggunakan sosmed,'' kata Dedi.***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:Ragam
wwwwww