Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Penanganan Covid-19 Amburadul, Komisi I DPR: Biosecurity Indonesia Lemah
Politik
22 jam yang lalu
Penanganan Covid-19 Amburadul, Komisi I DPR: Biosecurity Indonesia Lemah
2
Pilkada Sudah di Depan Mata, Waketum DPP PKB Minta Presiden Tentukan Nama Sekjen KPU
Politik
23 jam yang lalu
Pilkada Sudah di Depan Mata, Waketum DPP PKB Minta Presiden Tentukan Nama Sekjen KPU
3
Cegah Kekacauan Umat di Indonesia, Komisi Agama Minta Pemerintah Responsif
Nasional
21 jam yang lalu
Cegah Kekacauan Umat di Indonesia, Komisi Agama Minta Pemerintah Responsif
4
Ditinggal Maju Pilkada 2020, Ini Kata Sekwan Soal Pengganti Tiga Pimpinan DPRD Riau
Politik
22 jam yang lalu
Ditinggal Maju Pilkada 2020, Ini Kata Sekwan Soal Pengganti Tiga Pimpinan DPRD Riau
5
Opini Pasca AS Batasi Pasokan ke Perusahaan Semikonduktor Terbesar China
Internasional
23 jam yang lalu
Opini Pasca AS Batasi Pasokan ke Perusahaan Semikonduktor Terbesar China
6
DPR Sebut Vanuatu Menghasut Dunia soal Papua
DPR RI
24 jam yang lalu
DPR Sebut Vanuatu Menghasut Dunia soal Papua

Percakapan di 'Grup STM' Tunggu Bayaran Demo Disebut Milik Polisi, Begini Kata Karo Penmas Polri

Percakapan di Grup STM Tunggu Bayaran Demo Disebut Milik Polisi, Begini Kata Karo Penmas Polri
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. (int)
Selasa, 01 Oktober 2019 16:57 WIB
JAKARTA - Percakapan sejumlah siswa STM di grup whatsapp yang menunggu uang pembayaran atas demo yang mereka lakukan di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Senin (30/9), beredar di media sosial.

Dikutip dari merdeka.com, dalam chat (percakapan) yang beredar tersebut, anak-anak STM itu mengatakan datang ke Jakarta untuk berdemo karena dibayar. Mereka gelisah, marah-marah di grup tersebut, mencari keberadaan si korlap aksi, lantaran pembayaran tak kunjung mereka terima.

Setelah percakapan anak-anak STM itu beredar, warganet yang penasaran, mencoba menelusuri nomor-nomor yang tertera melalui aplikasi pelacak nomor telepon Truecaller atau Get Contact. Hasilnya, didapati pemilik nomor-nomor pada 'grup STM' tersebut adalah anggota kepolisian.

Ada Upaya Propaganda

Menanggapi itu, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyatakan, ada upaya propaganda di media sosial menggunakan cara tersebut.

''Nah ini, jadi kita paham betul apa yang ada di media sosial itu. Karena sebagian besar adalah anonymous, narasi-narasi yang dibangun adalah narasi propaganda, tentunya dari direktorat Cyber Bareskrim sudah memprofiling,'' tutur Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (1/9).

Menurut Dedi, pada akhirnya narasi yang digunakan bersifat provokatif untuk membuat kegaduhan di masyarakat. Sama halnya dengan kasus surat suara tercoblos di tujuh kontainer dan lainnya.

''Belum bisa dipastikan, kalau itu anggota polisi pun kan belum bisa dipastikan betul anggota atau bukan, dan narasinya saya belum baca, ada unsur perbuatan pidananya nggak. Kalau enggak ada perbuatan pidana, nanti jajaran multimedia akan membuat literasi digital agar masyarakat betul-betul cerdas dan bijak menggunakan sosmed,'' kata Dedi.***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:Ragam

wwwwww