Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tren Elektabilitas PD dan AHY Konsisten Naik Pada Tiga Survei Nasional
Politik
19 jam yang lalu
Tren Elektabilitas PD dan AHY Konsisten Naik Pada Tiga Survei Nasional
2
Jangankan Mudik, Sekedar Mau Beli Baju Lebaran Warga Kabupaten Juga Tak Boleh Masuk Pekanbaru
Peristiwa
17 jam yang lalu
Jangankan Mudik, Sekedar Mau Beli Baju Lebaran Warga Kabupaten Juga Tak Boleh Masuk Pekanbaru
3
HMI-MPO Cabang Bogor Tuntut Usut Tuntas Mafia Covid-19
Hukum
20 jam yang lalu
HMI-MPO Cabang Bogor Tuntut Usut Tuntas Mafia Covid-19
4
Ejek Kemampuan Densus 88, Teroris OPM: Memang Bisa Lawan Gerilyawan?
Hukum
17 jam yang lalu
Ejek Kemampuan Densus 88, Teroris OPM: Memang Bisa Lawan Gerilyawan?
5
Galank Gunawan akan Beradu Rebound dengan Jamarr Johnson
Olahraga
19 jam yang lalu
Galank Gunawan akan Beradu Rebound dengan Jamarr Johnson
6
Kerennya Emoney Edisi IBL dan Tim Nasional
Olahraga
19 jam yang lalu
Kerennya Emoney Edisi IBL dan Tim Nasional

Luka Parah Kena Anak Panah dan Terbakar Saat Kerusuhan, Putri Akhirnya Tiba di Sumbar dan Tak Akan Kembali ke Wamena

Luka Parah Kena Anak Panah dan Terbakar Saat Kerusuhan, Putri Akhirnya Tiba di Sumbar dan Tak Akan Kembali ke Wamena
Putri (30) korban luka parah tragedi Wamena tiba di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Kamis (10/10) sore. (republika.co.id)
Jum'at, 11 Oktober 2019 09:37 WIB
PADANG - Putri merupakan salah satu perantau Minang yang lolos dari kematian saat kerusuhan di Wamena beberapa waktu lalu, meski terluka parah setelah sejumlah anak panah tertancap di beberapa bagian tubuhnya dan terbakar.

Dikutip dari republika.co.id, pada Kamis (10/10) sore, sekitar pukul 17.45 WIB, Putri tiba di Bandara di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padangpariaman, Sumatera Barat (Sumbar), setelah menempuh penerbangan sejak pagi dari Bandara Sentani Jayapura.

''Senang sekali akhirnya saya tiba di kampung halaman,'' kata Putri kepada awak media di pintu kedatangan domestik BIM. 

Wanita berusia 30 tahun itu mendarat didampingi dua orang dari Ikatan Keluarga Minang (IKM) Papua. Kedatangan Putri disambut Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit serta keluarga dan sanak Putri dari Kabupaten Pesisir Selatan.

Keluarga besar yang menyambut putri berurai air mata memeluk ibu satu anak itu begitu keluar dari pintu kedatangan BIM. Putri pun ikut menangis karena bahagia ia kini sudah bersama keluarga besar. Putri duduk di kursi roda karena tubuhnya belum kuat untuk berjalan.

Putri diketahui mengalami luka di bagian lengan, dada kiri, bahu kanan dan kiri, kaki kanan dan kiri karena terkena tancapan anak panah yang dilepaskan oknum perusuh di Wamena. Sebagian wajah putri juga mengalami luka bakar yang terlihat mulai mengering. 

Usai mengalami kejadian tragis di Wamena, Putri yang merupakan pedagang barang harian itu sempat dirawat di RSUD Wamena. Kemudian ia melanjutkan pengobatan di Jayapura.

Sekarang Putri akan melanjutkan pengobatan di Rumah Sakit Umum Pusat M Djamil Padang dengan biaya yang akan ditanggung oleh Pemprov Sumbar. ''Lengan Putri harus dioperasi ulang nanti di M Djamil karena pengobatan di Jayapura belum maksimal,'' ujar Nasrul Abit.

Namun Putri sempat berujar bahwa bisa sampai dan kembali menghirup udara Ranah Minang membuat dirinya merasa sudah sembuh. Karena ia kini sudah berkumpul bersama keluarga besar yang akan menjaganya. 

''Bisa ketemu keluarga, saya rasanya sudah tidak merasakan sakit. Ingin segera pulang saja ke Pesisir Selatan,' ucap Putri.

Putri bertekad akan melanjutkan sisa hidupnya di Pesisir Selatan. Putri tak mau lagi kembali ke Wamena, Papua walau sejumlah asetnya masih di sana. Putri kini menghadapi sisa hidup tanpa suaminya Syafriyanto (36) dan anaknya Rizki (4) yang harus meregang nyawa akibat tragedi Wamena.

''Tidak akan lagi pergi ke Papua. Anak saya dan suami saya tidak ada lagi. Jadi apa yang saya cari di sana. Kios-kios kita semua telah dibakar,'' ucap Putri.

Jenazah Syafriyanto dan Rizki sudah sejak Kamis (26/9) lalu dipulangkan ke Pesisir Selatan oleh Pemda Papua. Keduanya saat itu dipulangkan bersama enam jenazah lain yang sama-sama berasal dari Pesisir Selatan.

Putri baru empat tahun merantau ke Papua sejak ia menikah dengan Syafriyanto. Putri ikut suaminya yang sudah dua tahun merantau ke Wamena sebelum mereka menikah. Di tahun pertama pernikahan keduanya, mereka dikaruniai Rizki. Rizki dan Syafriyanto tidak dapat keluar hidup-hidup dari Wamena terjebak di tengah kerusuhan. Sementara Putri bisa selamat karena ia mampu bertahan walau sudah mendapatkan luka tertancap sejumlah anak panah dan terbakar api.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ragam
wwwwww