Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
HNW: Tragedi Ledakan Dahsyat di Beirut Harus Diusut Tuntas
MPR RI
21 jam yang lalu
HNW: Tragedi Ledakan Dahsyat di Beirut Harus Diusut Tuntas
2
Simpati Indonesia Untuk Para Korban Ledakan Lebanon
DPR RI
21 jam yang lalu
Simpati Indonesia Untuk Para Korban Ledakan Lebanon
3
Perlu Terobosan Kreatif untuk Hindari Resesi Ekonomi
MPR RI
21 jam yang lalu
Perlu Terobosan Kreatif untuk Hindari Resesi Ekonomi
4
Hasan Basri: Ada 174 Pasal Yang Akan Kami Pelototi
DPD RI
20 jam yang lalu
Hasan Basri: Ada 174 Pasal Yang Akan Kami Pelototi
5
Kawal RUU Ciptakerja, Ketua DPD Minta Senator Fokus di Kepentingan Daerah
DPD RI
20 jam yang lalu
Kawal RUU Ciptakerja, Ketua DPD Minta Senator Fokus di Kepentingan Daerah
6
Sultan Najamudin Keluhkan Kinerja Menteri Perdagangan
GoNews Group
18 jam yang lalu
Sultan Najamudin Keluhkan Kinerja Menteri Perdagangan

Jokowi Tunjuk Mantan Jenderal Jadi Menteri Agama, Kiai di Berbagai Daerah Kecewa dan Protes

Jokowi Tunjuk Mantan Jenderal Jadi Menteri Agama, Kiai di Berbagai Daerah Kecewa dan Protes
Menteri Agama Fachrul Razi. (dok)
Kamis, 24 Oktober 2019 08:54 WIB
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk Fachrul Razi sebagai Menteri Agama (Menag) dalam Kabinet Indonesia Maju. Fachrul Razi merupakan mantan jenderal pertama menjabat Menag pasca reformasi.

Dikutip kompas.com, penunjukan Fachrul Razi sebagai Menag mengecewakan banyak kiai di berbagai daerah di Indonesia. Hal itu diungkapkan Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ( PBNU) KH Robikin Emhas.

''Saya dan pengurus lainnya banyak mendapat pertanyaan terkait Menteri Agama. Selain pertanyaan, banyak kiai dari berbagai daerah yang menyatakan kekecewaannya dengan nada protes,'' kata Robikin dalam keterangan tertulis, Rabu (23/10/2019).

Menurut Robikin, para kiai paham bahwa Kemenag harus berada di garda depan dalam mengatasi radikalisme berbasis agama. Namun sayangnya, pemilihan pemimpin Kemenag tak sesuai dengan yang diharapkan dalam membentengi NKRI dari ajaran radikalisme. 

''Para kiai sudah lama merisaukan fenomena terjadinya pendangkalan pemahaman agama yang ditandai merebaknya sikap intoleran. Lebih tragis lagi, bahkan sikap ekstrem dengan mengatasnamakan agama. Semua di luar kelompoknya kafir dan halal darahnya. Teror adalah di antara ujung pemahaman keagamaan yang keliru seperti ini,'' katanya.

Karena dampak dari radikalisme itu sangat membahayakan, kata Robikin, maka secara kelembagaan, NU sudah mengantisipasi dan mengingatkannya jauh-jauh hari.

''Bahkan NU menyatakan Indonesia sudah kategori darurat radikalisme, di samping darurat narkoba dan LGBT,'' tandas Robikin.***

Editor:hasan b
Sumber:kompas.com
Kategori:Ragam

wwwwww