Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
HNW: Tragedi Ledakan Dahsyat di Beirut Harus Diusut Tuntas
MPR RI
21 jam yang lalu
HNW: Tragedi Ledakan Dahsyat di Beirut Harus Diusut Tuntas
2
Simpati Indonesia Untuk Para Korban Ledakan Lebanon
DPR RI
21 jam yang lalu
Simpati Indonesia Untuk Para Korban Ledakan Lebanon
3
Perlu Terobosan Kreatif untuk Hindari Resesi Ekonomi
MPR RI
21 jam yang lalu
Perlu Terobosan Kreatif untuk Hindari Resesi Ekonomi
4
Hasan Basri: Ada 174 Pasal Yang Akan Kami Pelototi
DPD RI
21 jam yang lalu
Hasan Basri: Ada 174 Pasal Yang Akan Kami Pelototi
5
Kawal RUU Ciptakerja, Ketua DPD Minta Senator Fokus di Kepentingan Daerah
DPD RI
21 jam yang lalu
Kawal RUU Ciptakerja, Ketua DPD Minta Senator Fokus di Kepentingan Daerah
6
Sultan Najamudin Keluhkan Kinerja Menteri Perdagangan
GoNews Group
18 jam yang lalu
Sultan Najamudin Keluhkan Kinerja Menteri Perdagangan

Saat Sergap Al Baghdadi, Pasukan AS Tembak Semua Orang di Luar Rumah, Termasuk Nenek-nenek

Saat Sergap Al Baghdadi, Pasukan AS Tembak Semua Orang di Luar Rumah, Termasuk Nenek-nenek
Abu Bakar Al Baghdadi. (militarytimes)
Rabu, 30 Oktober 2019 07:42 WIB
JAKARTA - Amerika Serikat (AS) mengklaim pasukannya berhasil membunuh pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi, dekat Desa Barisha, sekitar 25 kilometer dari perbatasan Suriah-Turki. Ini merupakan yang ketigakalinya pemimpin ISIS itu dinyatakan terbunuh.

Dikutip dari republika.co.id yang melansir Daily Sabah pada Rabu (30/10), warga yang tinggal di Desa Barisha, Suriah, mengenal Al Baghdadi dengan nama Abu Muhammad Halabi yang tinggal di rumah besar berjarak 500 meter dari desa Barisha yang berada 25 kilometer dari perbatasan Civegozu di Turki. Rumah Al Baghdadi pun dikelilingi tembok beton.

''Ada rumah besar di sini, dan pria yang tinggal di sini dikenal sebagai pedagang kain bernama Abu Muhammad Halabi,'' tutur seorang warga Barisha, Abu Ahmed.

Ia juga menambahkan bahwa warga mengira keluarga Al Baghdadi adalah keluarga migran seperti ribuan keluarga lainnya yang terus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya karena konflik di wilayah tersebut.

Penduduk desa setempat mengatakan tentara Amerika Serikat tiba di desa itu sekitar pukul 12 siang pada 27 Oktober. Warga sangat takut untuk keluar rumah karena operasi besar-besaran untuk melumpuhkan pemimpin ISIS itu.

''Siapa pun yang berjalan atau mengemudi di luar malam itu tertembak,'' tutur Ahmed, seraya menambahkan bahwa operasi itu membutuhkan waktu hingga empat jam. Banyak rumah di daerah itu mengalami rusak, sementara warga membawa korban-korban yang terluka ke rumah sakit.

''Penduduk desa tak tahu siapa yang ada di rumah itu, dan apa yang terjadi di sana malam itu,'' katanya.

Berdasarkan laporan sebuah kendaraan dan sebuah truk turut dihancurkan oleh pasukan Amerika yang melibatkan delapan helikopter dan dua pesawat udara tak berawak.

Rumah tempat tinggal Al Baghdadi bersama keluarganya dihancurkan oleh pesawat tak berawak. Puing-puing bangunan menjadi satu-satunya yang tersisa dari rumah itu. Tiga tenda, dua kendaraan, sepeda motor dan pohon zaitun di daerah itu juga mengalami kerusakan akibat serangan itu.

Sumber lokal mengatakan bahwa terdapat wanita hamil yang takut mendengar ledakan selama penggerebekan sampai mengalami keguguran. Sementara sepasang lansia yang ketakutan mencoba pergi ke rumah putranya yang tak jauh dari tempat tinggalnya justru terkena tembakan di bagian lengan dan kaki.

Saat ini ketakutan masih terlihat di mata warga yang tinggal di tenda dekat  rumah al Baghdadi. Seorang wanita mengatakan ada tentara Amerika yang mendekatinya dan mengajak berbincang dengan bahasa Arab.

''Kami sangat takut saat melihat helikopter Amerika mendarat. Salah satu dari mereka bicara bahasa Arab, saya pikir dia orang Yordania,” katanya. Ia menambahkan bahwa tentara itu kemudian meminta warga yang tinggal di tenda-tenda untuk meninggalkan daerah itu karena akan terjadi kontak senjata besar-besaran. Ia juga mengatakan bahwa tentara Amerika menggeledah warga setelah salah satu perempuan yang tinggal di rumah  Al Baghdadi meledakkan diri. Beberapa tentara menunggu bersama sampai operasi selesai.

Diketahui Al Baghdadi memproklamirkan ISIS pada 2014. Di bawah kepemimpinannya, kelompok teroris itu mengambil kendali atas sejumlah wilayah di Irak dan Suriah. Juga melancarkan serangan mematikan di dua negara itu serta di luar negeri. Ia pun menjadi target utama selama pemerintahan Presiden Barack Obama dan Donald Trump yang memasang hadiah 25 juta dolar Amerika untuk kepala Al Baghdadi.

Kehadiran Al Baghdadi  di desa itu mengejutkan karena beberapa pemimpin ISIS diyakini telah melarikan diri ke Idib setelah kehilangan sebagian wilayah di Suriah oleh pasukan Demokratik Sekutu (SDF) sekutu Amerika pada Maret lalu Beberapa tahun lalu, Al Baghdadi sempat dilaporkan terbunuh tapi tak ada konfirmasi.

Pada 2017, pejabat Rusia juga mengatakan ada kemungkinan besar Al  Baghdadi terbunuh dalam serangan udara Rusia di pinggiran Raqqa namun kala itu pejabat Amerika yakin Al Baghdadi masih hidup. ***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ragam

wwwwww