Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Petugas Kebersihan DKI Jakarta Nikahi Bule Cantik Austria, Begini Kisah Cintanya
Umum
13 jam yang lalu
Petugas Kebersihan DKI Jakarta Nikahi Bule Cantik Austria, Begini Kisah Cintanya
2
Tak Setuju hanya 95%, Komisi VIII DPR Minta BPKH Kembalikan 100% Dana Haji ke JCH
Politik
6 jam yang lalu
Tak Setuju hanya 95%, Komisi VIII DPR Minta BPKH Kembalikan 100% Dana Haji ke JCH
3
JPU KPK Sebut Imam Nahrawi Kerap Terima Uang Tidak Sah Melalui Asisten Pribadi
Hukum
14 jam yang lalu
JPU KPK Sebut Imam Nahrawi Kerap Terima Uang Tidak Sah Melalui Asisten Pribadi
4
Ada Lonjakan Tagihan Listrik, PLN Pusat Minta Maaf Alasan Pembayaran Dihitung Rata-rata Tiga Bulan
Ekonomi
8 jam yang lalu
Ada Lonjakan Tagihan Listrik, PLN Pusat Minta Maaf Alasan Pembayaran Dihitung Rata-rata Tiga Bulan
5
RS Bantah Berikan Rp15 Juta Agar Pasien Meninggal Akibat Asam Lambung Jadi Pasien Covid-19
Kesehatan
11 jam yang lalu
RS Bantah Berikan Rp15 Juta Agar Pasien Meninggal Akibat Asam Lambung Jadi Pasien Covid-19
6
Anggaran Covid-19 Membengkak dari Rp405,1 T jadi Rp677,2 Triliun, Ini Tanggapan Anggota Komisi XI DPR RI
Politik
10 jam yang lalu
Anggaran Covid-19 Membengkak dari Rp405,1 T jadi Rp677,2 Triliun, Ini Tanggapan Anggota Komisi XI DPR RI

Presiden Suriah Ragukan Al-Baghdadi Tewas, Bandingkan dengan Kematian Osama dan Saddam Hussein

Presiden Suriah Ragukan Al-Baghdadi Tewas, Bandingkan dengan Kematian Osama dan Saddam Hussein
Presiden Suriah Bashar Assad. (sindonews.com)
Jum'at, 01 November 2019 07:46 WIB
DAMASKUS - Presiden Suriah Bashar Assad meragukan klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tentang tewasnya pemimpin ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi dalam operasi penyergapan oleh pasukan AS.

Dikutip dari sindonews.com, Assad mengatakan, serangan pasukan khusus AS yang dipublikasikan secara luas yang diduga membunuh Abu Bakar al-Baghdadi meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban dan tidak boleh diambil berdasarkan nilai nominalnya.

''Damaskus tidak berpartisipasi dalam penyerbuan dengan cara apa pun,'' kata Assad, menambahkan bahwa ia baru tahu tentang klaim itu melalui laporan media.

Assad menambahkan bahwa peserta imajiner yang ikut ambil bagian dalam operasi seharusnya memberikan kredibilitas, sementara negara-negara dalam daftar seperti itu kemungkinan akan tersanjung menjadi bagian dari operasi hebat.

''Kami tidak membutuhkan kredit semacam itu. Kami yang memerangi terorisme. Kami tidak memiliki hubungan dan tidak memiliki kontak dengan institusi Amerika,'' ujarnya seperti disitir dari Russia Today, Jumat (1/11/2019).

Pujian keras Washington atas tindakannya sendiri, gambar 'anjing pahlawan' yang mengambil bagian dalam serangan dan rekaman yang konon serangan udara, tidak meyakinkan Assad apakah itu benar-benar terjadi atau tidak.

Selain itu, ia berpikir seluruh perselingkuhan itu mirip dengan pembunuhan tahun 2011 terhadap teroris terkenal lainnya - pemimpin al-Qaeda Osama bin Laden.

''Mengapa jasad Baghdadi tidak ditampilkan? Ini adalah skenario yang sama yang mirip dengan Bin Laden. Jika mereka akan menggunakan dalih yang berbeda untuk tidak menunjukkan jasadnya, mari kita ingat bagaimana (mantan pemimpin Irak) Presiden Saddam Hussein ditangkap dan bagaimana seluruh operasi ditunjukkan dari A ke Z; mereka menunjukkan gambar dan klip video setelah mereka menangkapnya,'' tutur Assad.

Pembunuhan putra-putra Saddam juga didokumentasikan dan dipublikasikan secara luas, kata Assad, sambil menambahkan, menunjukkan bahwa Amerika menyembunyikan segalanya tentang pembunuhan bin Laden dan pembunuhan al-Baghdadi, karena suatu alasan.

''Ini adalah bagian dari trik yang dimainkan oleh orang Amerika. Itulah sebabnya kita tidak boleh percaya semua yang mereka katakan, kecuali mereka menemukan bukti. Politisi Amerika sebenarnya bersalah sampai terbukti tidak bersalah, bukan sebaliknya,'' tegasnya.

Assad mengatakan, secara keseluruhan, tidak mungkin kematian pemimpin ISIS - jika dia benar-benar terbunuh - dan bahkan kehancuran utama kelompok teroris akan mengubah apa pun. Akar masalah ideologi Wahabi yang berusia lebih dari dua abad tidak akan hilang sekaligus.

Assad mengklaim pemikiran Islam radikal dan Al-Baghdadi hanyalah alat AS selama ini. Ia menambahkan bahwa alat-alat itu dapat dengan mudah dirancang ulang di tempat lain.

''Saya percaya semua yang berhubungan dengan operasi ini adalah tipuan. Baghdadi akan diciptakan kembali dengan nama yang berbeda, individu yang berbeda, atau ISIS secara keseluruhan dapat direproduksi sesuai kebutuhan dengan nama yang berbeda tetapi dengan pemikiran dan tujuan yang sama. Direktur seluruh skenario itu sama, orang Amerika,'' tukasnya.***

Editor:hasan b
Sumber:sindonews.com
Kategori:Ragam

wwwwww