Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Atletik Menuju Era Industri, LBP Dinilai Penuhi Kriteria Pimpin PB PASI
Olahraga
24 jam yang lalu
Atletik Menuju Era Industri, LBP Dinilai Penuhi Kriteria Pimpin PB PASI
2
Gus Menteri Beberkan Program Prioritas Pembangunan Desa ke DPR
Politik
17 jam yang lalu
Gus Menteri Beberkan Program Prioritas Pembangunan Desa ke DPR
3
WHO Prediksi Tahun Ini Pandemi Covid-19 Makin Parah, Ini Alasannya
Kesehatan
24 jam yang lalu
WHO Prediksi Tahun Ini Pandemi Covid-19 Makin Parah, Ini Alasannya
4
Dikunjungi Listyo Sigit, Tito Dorong Penguatan Kerjasama Kemendagri-Polri
Nasional
19 jam yang lalu
Dikunjungi Listyo Sigit, Tito Dorong Penguatan Kerjasama Kemendagri-Polri
5
PDIP Rotasi Ribka Tjiptaning ke Komisi VII Usai Tolak Vaksin
Politik
11 jam yang lalu
PDIP Rotasi Ribka Tjiptaning ke Komisi VII Usai Tolak Vaksin
6
Jika Yakin Bersih, MAKI Tantang Herman Herry dan Ihsan Yunus Berani Datangi KPK
Politik
11 jam yang lalu
Jika Yakin Bersih, MAKI Tantang Herman Herry dan Ihsan Yunus Berani Datangi KPK

Ibunya Janda dan Miskin Tak Mampu Bayar Tunggakan, Ijazah Gadis Manis Ini Ditahan Sekolah

Ibunya Janda dan Miskin Tak Mampu Bayar Tunggakan, Ijazah Gadis Manis Ini Ditahan Sekolah
Ine Widiarti saat berada di rumahnya. (liputan6.com)
Minggu, 08 Desember 2019 09:38 WIB
KARAWANG - Setelah lulus dari SMK, Ine Widiarti (17) berharap bisa bekerja agar bisa meringankan beban ibunya yang janda dan miskin.

Namun harapan gadis berparas manis ini untuk melamar pekerjaan terhalang karena ijazahnya masih ditahan pihak sekolah, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Lentera Bangsa Karawang, Jawa Barat. Sebab, ibunya yang janda dan miskin belum bisa melunasi tunggakan kepada pihak sekolah.

Dikutip dari liputan6.com, tiga tahun lampau, Ine masuk ke kekolah kejuruan ini. Tahun 2019, ia lulus. Sayang, ijazahnya ditahan.

Ine bilang, sekolah beralasan menahan ijazahnya lantaran masih ada kewajiban yang mesti ditunaikan.

''Sejak lulus sekolah, ijazah masih ditahan pihak sekolah karena masih ada kewajiban yang belum lunas,'' kata Ine, di rumahnya di Dusun Cikangkung Tinir, Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok, Karawang, Kamis (5/12/2019).

Rumah reot itu dihuni bertiga. Ine, ibunda dan adiknya. Kondisinya memprihatinkan, lapuk dan jauh dari kata higienis.

Lantai rumah dari tanah, dinding terbuat dari bilik bambu yang sudah bolong-bolong di sana-sini. Kondisi tempat tidurnya sungguh tidak layak.

Ine mengaku memiliki tunggakan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) serta biaya lainnya sebesar Rp5.585.000. Tunggakan biaya pendidikan itu hingga saat ini belum bisa dilunasi karena faktor ekonomi ibu kandung yang pas-pasan. Itulah alasan ijazah ditahan.

Sekolah Membantah

Ibunda Ine, Rani, tentu saja punya keinginan yang besar anaknya mendapatkan ijazah setelah bersekolah selama tiga tahun. Ijazah itu untuk digunakan melamar pekerjaan.

Namun jangankan untuk melunasi tunggakan, untuk makan sehari-hari juga, Rani mengaku kesulitan. Terlebih ia harus menghidupi dua anaknya yang sudah menginjak dewasa.

''Belum bisa melunasi tunggakan ke sekolah karena saya orang miskin,'' ucap Rani.

Sehari-hari, ia jualan sayuran keliling kampung. Penghasilannya pun tak menentu. Paling tinggi, sehari ia memperoleh Rp50 ribu dan langsung habis untuk makan sehari-hari.

''Penghasilan tidak pasti, keuntungan penjualan buat makan bertiga,'' dia menuturkan.

Kepala SMK Lentera Bangsa, Ahkmad Jaelani, membantah menahan ijazah salah satu lulusannya. Sebab, kata dia, sekolah tidak boleh menahan ijazah.

Namun di sisi lain, dia pun mengakui masih ada kewajiban siswi bernama Ine Widiarti yang masih belum diselesaikan hingga ijazahnya masih tertahan.

''Sekolah tidak menahan ijazah, namun masih ada kewajiban yang harus diselesaikan,'' tandasnya.

Dia mengaku tidak hapal persis nilai kewajiban yang mesti dilunasi. Tetapi sejak lulus sekolah, seharusnya orangtua dan siswa datang ke sekolah untuk membicarakan dan menyelesaikan persoalan ijazah.***

Editor:hasan b
Sumber:liputan6.com
Kategori:Ragam
wwwwww