Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mahfuz: Gelora Indonesia Partai Terbuka dan Kekuatan Politik Baru
Politik
18 jam yang lalu
Mahfuz: Gelora Indonesia Partai Terbuka dan Kekuatan Politik Baru
2
Sepasang PNS yang Pingsan Bugil dalam Kijang Innova Ternyata Pejabat Dinas Pendidikan
Peristiwa
17 jam yang lalu
Sepasang PNS yang Pingsan Bugil dalam Kijang Innova Ternyata Pejabat Dinas Pendidikan
3
Istri Polisi Sekap dan Aniaya Bidan dalam Poskesdes, Korban Harus Dirawat di Rumah Sakit
Peristiwa
18 jam yang lalu
Istri Polisi Sekap dan Aniaya Bidan dalam Poskesdes, Korban Harus Dirawat di Rumah Sakit
4
Pasien Positif Covid-19 ke-118 di Riau Ternyata Warga Kepri, Saat Ini Dirawat di RSUD Arifin Achmad
Kesehatan
8 jam yang lalu
Pasien Positif Covid-19 ke-118 di Riau Ternyata Warga Kepri, Saat Ini Dirawat di RSUD Arifin Achmad
5
Ki Gendeng Pamungkas Meninggal Dunia Akibat Komplikasi Diabetes dan Jantung
Umum
6 jam yang lalu
Ki Gendeng Pamungkas Meninggal Dunia Akibat Komplikasi Diabetes dan Jantung
6
Andrianus Garu Minta Jokowi Tunda Pilkada dan Evaluasi Kabinet Jilid 2
Pemerintahan
6 jam yang lalu
Andrianus Garu Minta Jokowi Tunda Pilkada dan Evaluasi Kabinet Jilid 2

Guru Honorer Dwi Hariyadi, Merangkap Jadi Tukang Angkut Sampah Agar Bisa Nafkahi Keluarga

Guru Honorer Dwi Hariyadi, Merangkap Jadi Tukang Angkut Sampah Agar Bisa Nafkahi Keluarga
Dwi Haryadi menarik gerobak sampah. (tribunnews)
Selasa, 17 Desember 2019 21:04 WIB
MALANG - Menjadi guru dengan status honorer sudah pasti mendapatkan gaji sangat kecil. Kenyataan hidup yang menyedihkan itu juga dialami Dwi Hariyadi, guru honorer di salah SD negeri di Malang, Jawa Timur.

Dikutip dari tribunnews.com, Selasa (17/12), meski gajinya sebagai guru honor sangat kecil, Dwi tetap setia menekuni profesinya sebagai pengajar. Sebab, menjadi guru memang merupakan cita-citanya sejak kecil. Bahkan Dwi, sudah puluhan tahun mengabdi sebagai honorer.

Untuk menafkahi keluarganya, jelas tidak mungkin bagi Dwi hanya mengadakan gajinya sebagai guru honor. Karena itu, Dwi harus menjalankan pekerjaan lainnya, yakni sebagai pengangkut sampah.

Pria asal Probolinggo itu telah merantau ke Malang sejak tahun 90-an. Ia merupakan alumni salah satu kampus pendidikan di Malang.

Sejak semester 2 kuliahnya, Dwi telah menjadi tukang sampah demi melanjutkan pendidikannya dan memenuhi kebutuhan di rantau.

''Karena jadi tukang sampah ini juga saya bisa sampai lulus kuliah, jadinya saya teruskan sampai sekarang,'' kata Dwi dalam rilis Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Setiap hari selepas mengumpulkan sampah di pemukiman warga dan dibawa ke TPS yang tak jauh dari Velodrom Malang, Dwi bergegas menuju sekolah tempatnya mengajar.

Ia mengaku tak pernah malu dengan pekerjaannya sebagai guru sekaligus sebagai tukang sampah.

Dari pekerjaan sebagai tukang sampah ini, Dwi mengidupi istri dan menyekolahkan ketiga anaknya.

Menurut Dwi menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Walau digaji rendah, Dwi tetap bersyukur selama ini ia menganggap menjadi guru adalah tabungan amal untuknya

''Guru dan tukang sampah tidak ada hubungannya, Saya menjadi guru secara professional, dan menjadi tukang sampah sebagai tambahan pendapatan bagi keluarga,'' jelas bapak tiga anak ini.

Dwi mengimbau para guru honorer lainnya terus setia berjuang di bidang pendidikan, meskipun gajinya sangat kecil.

''Tidak ada orang hebat tanpa adanya guru, maka dari itu, bagi guru-guru di luar sana yang masih bergaji rendah tetaplah berjuang di jalan pendidikan,'' pesan guru yang turut menerima bantuan biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia oleh Global Zakat-ACT ini.***

Editor:hasan b
Sumber:tribunnews.com
Kategori:Ragam

wwwwww