Kisah Mualaf Agustina, Mimpi Diminta Pemuda Tampan Ucapkan Syahadat

Kisah Mualaf Agustina, Mimpi Diminta Pemuda Tampan Ucapkan Syahadat
Agustina Sri Kumardani Paningrum. (republika.co.id)
Senin, 10 Februari 2020 11:51 WIB
AGUSTINA Sri Kumardani Paningrum mengaku sangat beruntung mendapatkan hidayah sekitar 20 tahun lalu. Agustina mengaku hatinya merasa damai setelah bersyahadat dan menjalankan ajaran Islam.

Dikutip dari republika.co.id, Agustina mengisahkan, tidak mudah meyakinkan keluarga besarnya atas jalan hidup yang dia pilih. Hanya beberapa orang saja dari anggota keluarganya yang mendukungnya.

Perempuan asal Jawa Tengah ini kemudian harus hijrah jauh dari keluarga karena perbedaan keyakinannya. 

''Saya harus siap dengan konsekuensinya saat itu, bapak saya dengan tegas tidak mengakui saya sebagai anak karena pilihan agama saya,'' kata dia, sebagaimana dikutip dari dokumentasi Harian Republika, beberapa waktu lalu.  

Kedua orangtuanya bertanya-tanya alasan dia memilih memeluk Islam. Agustina meyakinkan bahwa pilihannya bukan karena saat itu dia berpacaran dengan pria Muslim. 

Bagi dia, ini murni pilihan karena keyakinannya dengan Islam. Saat menjadi Muslim dia merasa lebih tenang dan damai. Sikap bapak dan adik-adiknya memang berubah setelah Agustina memeluk Islam. Mereka mengacuhkannya. Agustina tak pernah diajak berbicara. 

Kehidupannya tidak lagi ditopang ayahnya. Agustina terpaksa harus membiayai hidupnya sendiri, pun saat dia menikah. Agustina bersyukur, saat dia menikah keluarga mertuanya mau membiayai segala kebutuhan pernikahan mereka. Ini merupakan salah satu keberkahan Islam, ketika ada kesulitan Allah selalu memberikan kemudahan.

Meskipun begitu, tak ada perubahan sikap dari ibunya. Hanya saja memang pada awalnya ibunya merasa sedih dan kecewa.  

Karena sikap keluarganya tersebut, Agustina memutuskan hijrah sembari mencari pekerjaan. Karena memang dia memeluk Islam setelah lulus kuliah. 

Sebenarnya dia sudah mendapatkan pekerjaan di Pati, tetapi karena memilih menjaga perasaan kedua orangtuanya, dia memilih tidak tinggal bersama mereka. 

Agustina memutuskan hijrah ke Jakarta. Dia tinggal bersama dengan saudaranya. Di Jakarta jugalah dia mendapatkan pekerjaan. Tak lama kemudian, sekitar tujuh bulan bekerja, dia menikah. 

Menikah menjadi pilihannya. Karena saat itu dia merasa tidak ingin menjadi beban saudaranya. Lagi pula Agustina merasa sudah saatnya dia hidup mandiri.

Selama tinggal bersama saudara di Jakarta, dia mendalami Islam, istri saudaranya memiliki pemahaman agama dan pintar mengaji. Dia pun belajar mengaji Alquran dari saudaranya.

Meskipun Agustina menikah, hubungan dengan kedua orang tuanya belum juga membaik. Barulah ketika anak pertamanya lahir, hubungan mereka mulai mencair.

''Saat itu saya melahirkan anak pertama, apalagi bapak saya baru kehilangan adik bungsu saya yang meninggal dunia, hubungan kami dengan bapak mulai membaik,'' tutur dia.

Meskipun sejak lama, sikap keluarganya dingin, Agustina tetap silaturahim dan baik dengan mereka. 

Dia bersyukur, telah dikaruniai tiga anak yang pandai. Apalagi anak pertamanya saat ini sedang menempuk pendidikan sarjana di universitas impiannya, Universitas Padjajaran. Demikian juga kedua anak lainnya yang kini berada di sekolah menengah pertama. Dia berharap anak-anaknya tidak akan mengalami ujian berat yang dialami ibunya.

Saat ini Agustina hanya berharap dapat selalu istiqamah dalam keislamannya. Dia yakin hanya Islamlah yang membuat hidup, hati dan keluarganya damai dan bahagia.

Bagi Agustina, Islam bukanlah hal baru. Dia mengenal Islam lebih dekat sejak tinggal bersama kakak eyangnya yang Muslim. Dia memilih tinggal bersamanya karena memang sedang menempuh pendidikan sarjana di Malang.

Pada 1996, pertama kali Agustina mulai mempelajari Islam. Tak hanya dari eyangnya, dia juga sering mempelajari Islam bersama teman kuliahnya. 

Sehingga tidak aneh ketika suatu saat, dia berkunjung ke rumah salah satu kerabatnya dan menemukan buku tata cara shalat. Dia mampu membaca dan melafalkannya dengan lancar. 

Saudaranya ketika itu terkejut, Agustina yang selama ini dikenal sebagai non-Muslim taat ternyata lancar melafalkan bahasa Arab.

''Membaca bahasa Arab saat itu mudah saja bagi saya, bagi saya ini seperti menghafalkan pelajaran lainnya, hanya saja dengan bahasa yang berbeda, sam ahalnya seperti melafalkan bahasa asing lainnya,'' jelas dia.

Agustina bukanlah sosok yang tertutup dengan agama lain. Baginya,saat masih memeluk agama terdahulu, keduanya memiliki beberapa ajaran yang mirip, yakni cinta kasih. 

Agustina awalnya menilai Islam memiliki ajaran yang sama dengan agama yang dianutnya sebelumnya. Tetapi saat dia mendalaminya, ternyata Islam memiliki ajaran yang lebih kompleks dan mendalam. 

Islam mengajarkan cara hidup, bukan sekadar beribadah menyembah Tuhan.

''Sejak bangun tidur hingga tidur, Islam mengaturnya, bahkan kehidupan bernegara dan berpolitik pun Islam ada,'' jelas dia. 

Setelah mengenal Islam dan mempelajari Islam tak langsung, dia bersyahadat. Wanita kelahiran Pati 44 tahun lalu ini mendapat keyakinannya setelah bermimpi. 

''Saat itu saya bermimpi sedang bersama teman saya, tiba-iba datang pemuda tampan, kemudian, dia mengajak teman saya ke suatu tempat, saya meminta untuk ikut, tetapi pemuda tersebut berkata jika dia ingin ikut bersamanya maka dia harus mengucapkan syahadat,'' jelas dia. 

Setelah bermimpi tersebut, dia menceritakan mimpi ini kepada teman dan kekasihnya yang kini menjadi suaminya. Tetapi mereka tidak menjelaskan secara jelas, Agustina justru dibiarkan mencari jawaban itu sendiri. 

Hingga satu ketika di pengujung kuliahnya, ada perasaan yang berbeda. Saat beribadah biasanya dia adalah orang yang sangat berkonsentrasi. 

Tetapi satu malam, dia tak dapat berkonsentrasi, bahkan terasa tidak nyaman. Berdiri berlama-lama untuk berdoa pun rasanya tidak nyaman.

Pada titik itulah, dia mulai meyakinkan diri untuk memeluk Islam. Oktober 1996, dia kemudian mengucapkan syahadat untuk pertama kalinya. ***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ragam

wwwwww