Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Atlet Pelatnas Bulutangkis Jalani Enam Test Fisik
Olahraga
18 jam yang lalu
Atlet Pelatnas Bulutangkis Jalani Enam Test Fisik
2
Klarifikasi Komjen Pongrekun terkait Potongan Video: 'Menggunakan Masker Jangan Dipikir Aman'
Umum
16 jam yang lalu
Klarifikasi Komjen Pongrekun terkait Potongan Video: Menggunakan Masker Jangan Dipikir Aman
3
Bapak Ibu Siap-siap Hemat Ya, Listrik dan Gas LPG 3 Kg Mau Naik Lagi Nih!
Peristiwa
18 jam yang lalu
Bapak Ibu Siap-siap Hemat Ya, Listrik dan Gas LPG 3 Kg Mau Naik Lagi Nih!
4
Ditanya Netizen Soal Agama, Komisaris PT Pelni Sebut Dirinya 'Penyembah Galon'
Pemerintahan
23 jam yang lalu
Ditanya Netizen Soal Agama, Komisaris PT Pelni Sebut Dirinya Penyembah Galon
5
Dedek Bayi Pengidap Omfalokal di Kampar Dapat Bantuan dari Forum Pekanbaru Bertuah
Umum
18 jam yang lalu
Dedek Bayi Pengidap Omfalokal di Kampar Dapat Bantuan dari Forum Pekanbaru Bertuah
6
Hadapi Bima Perkasa, David Singleton: Louvre Tak Mudah Dikalahkan
Olahraga
13 jam yang lalu
Hadapi Bima Perkasa, David Singleton: Louvre Tak Mudah Dikalahkan

Siswi SMP Muhammadiyah yang Dianiaya 3 Siswa dalam Kelas Ternyata Penyandang Disabilitas

Siswi SMP Muhammadiyah yang Dianiaya 3 Siswa dalam Kelas Ternyata Penyandang Disabilitas
Siswi SMP dianiaya tiga siswa dalam kelas. (detik.com)
Kamis, 13 Februari 2020 21:32 WIB
PURWOREJO - Siswi SMP Muhammadiyah Butuh, Purworejo, Jawa Tengah, yang menjadi korban penganiayaan 3 siswa dalam kelas di sekolah, ternyata penyandang disabilitas.

''Yang menjadi korban perundungan adalah siswi penyandang disabilitas,'' kata Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Kamis (13/2/2020), seperti dikutip dari Tirto.id.

Peristiwa perundungan (penganiayaan) tersebut terungkap setelah videonya beredar di media sosial.

Dalam video tersebut terlihat tiga siswa memukul dan menendang seorang siswi yang diduga terjadi di ruang kelas.

Ganjar mengutus langsung Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah Jumeri ke Kabupaten Purworejo untuk berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten setempat guna mengusut tuntas kasus perundungan ini.

Orang nomor satu di Jateng itu juga berkoordinasi dengan pengurus organisasi induk sekolah tempat terjadinya perundungan yang menimpa seorang siswi.

Ganjar mengaku geram mengetahui masih adanya perundungan yang terjadi di lembaga pendidikan. Ganjar berencana mengumpulkan para pemangku kepentingan di bidang pendidikan untuk mengevaluasi persoalan ini.

''Guru, orang tua, dan pengawas sekolah kita tidak cukup bekerja seperti ini karena kasus seperti ini sudah terjadi berkali-kali maka kita harus kerja serius,'' kata Ganjar.

''Mesti dilakukan sistem seperti apa, sarana prasarana seperti apa, kalau perlu dipasangi CCTV sehingga tidak terjadi bullying seperti ini lagi,'' tambahnya.

Sebagai bentuk simpatinya kepada siswi korban perundungan, Ganjar memberikan santunan kepada orang tua yang bersangkutan.

Menurut Ganjar, santunan ini diberikan agar orang tua korban tidak bekerja selama beberapa waktu dan mencurahkan perhatian mereka untuk mendampingi anaknya melewati masa-masa traumatis.

Kepolisian telah menetapkan tiga pelaku perundungan sebagai tersangka. Meski begitu, polisi tidak menahan ketiga pelajar SMP tersebut.

''Tidak dilakukan penahanan karena ancaman hukumannya di bawah lima tahun,'' kata Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Iskandar F. Sutisna saat dikonfirmasi Antara di Semarang, Kamis (13/2/2020).

Menurut Iskandar, ketiga pelaku dijerat dengan Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Meski tidak ditahan, ia memastikan proses hukum terhadap ketiga tetap berjalan sebagaimana ketentuan.***

Editor:hasan b
Sumber:tirto.id
Kategori:Ragam
wwwwww