Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Garuda Indonesia Tegaskan Tak Tolerir Pelanggaran Aturan Keselamatan Penerbangan
Umum
21 jam yang lalu
Garuda Indonesia Tegaskan Tak Tolerir Pelanggaran Aturan Keselamatan Penerbangan
2
Kondisi Langka, Mahasiswi Cantik Ini Menopause pada Usia 6 Tahun
Kesehatan
19 jam yang lalu
Kondisi Langka, Mahasiswi Cantik Ini Menopause pada Usia 6 Tahun
3
Rasulullah Mengingatkan, Ini 3 Musuh Utama Umat Islam
Umum
20 jam yang lalu
Rasulullah Mengingatkan, Ini 3 Musuh Utama Umat Islam
4
Kemendagri Apresiasi Unjuk Rasa Otsus Papua oleh FMPI dan Dorong Pertemuan Lanjutan
Pemerintahan
19 jam yang lalu
Kemendagri Apresiasi Unjuk Rasa Otsus Papua oleh FMPI dan Dorong Pertemuan Lanjutan
5
Mahasiswi S2 Tewas Tergantung di Rumah Pacar, Ternyata Tengah Hamil Muda
Peristiwa
20 jam yang lalu
Mahasiswi S2 Tewas Tergantung di Rumah Pacar, Ternyata Tengah Hamil Muda
6
Delapan Warga Lengayang Pesisir Selatan Terinfeksi Corona
Kesehatan
19 jam yang lalu
Delapan Warga Lengayang Pesisir Selatan Terinfeksi Corona
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Ketika Mendagri jadi Khatib Sholat Jumat: Keturunan Tionghoa adalah Bagian dari Kekayaan Berbangsa

Ketika Mendagri jadi Khatib Sholat Jumat: Keturunan Tionghoa adalah Bagian dari Kekayaan Berbangsa
Foto: Puspen
Jum'at, 28 Februari 2020 18:27 WIB
SUMSEL - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian datang ke Palembang bersama beberapa menteri untuk menghadiri acara Rapat Kerja Percepatan Penyaluran dan Pemanfaatan Dana Desa Tahun 2020, yang digelar di Gedung Main Dining Hall, Komplek Jakabaring Sport City(JSC), Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (28/02/2020).

Dalam kunjungannya, Mendagri Tito sempat menunaikan ibadah sholat Jumat di Mesjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo, Palembang. Di Mesjid itu, Mendagri Tito didaulat untuk jadi khatib dan imam sholat Jumat.

Dari atas mimbar khatib, Tito berkutbah tentang persatuan bangsa, taqdir Allah dan bagaimana jadi hamba yang bersyukur.

Kata Mendagri Tito dalam ceramahnya, umat Islam janganlah terjebak dalam pertentangan soal perbedaan ras. Indonesia mestinya bersyukur jadi negara yang memiliki keragaman etnis.

Karena, kata Tito, tak banyak negara, seperti Indonesia. Singapura misalnya, hanya terdiri dari beberapa etnis saja. Negara lain pun, seperti Afganistan, hanya ada tujuh suku. Berbeda dengan Indonesia. Ada banyak suku, dengan beragam bahasa, tradisi dan budayanya.

"Ini jangan menjadi pemecah, tapi adalah kekayaan bagi kita. Inilah nikmat Allah yang diberikan kepada kita semua," kata Tito yang lantas mengutip ayat surat Ar-Rahman yang berbunyi, "Fa bi ayyi aalaa'i rabbikuma tukazziban,".

"Jadi inilah nikmat Allah beragam suku dan ras, termasuk saudara-saudara kita keturunan Tionghoa, adalah bagian dari kekayaan kita," katanya.

Tito pun melanjutkan khutbahnya. Kata dia, Kyai dan para Ulama mengajarkan, Islam itu agama Rahmatan lil Alamin. Agama yang jadi rahmat bagi semesta alam. Jadi, Islam adalah agama yang merangkul atau mengayomi semua pihak dan dalam semua hal.

Artinya, kata Tito, "agama Islam tak mengajarkan sikap membeda-bedakan ras. Membeda-bedakan etnis. Juga membedakan agama dalam pergaulan,".

"Justru Islam mengajarkan pemeluknya untuk jadi pencerah. Termasuk kepada orang yang bukan muslim," kata Tito.

Dalam khutbahnya, Tito juga menyinggung soal virus corona. Ia pun mengingatkan, di tengah merebaknya ketakutan akan virus mematikan tersebut, hubungan atau silahturahmi antar sesama anak bangsa harus tetap di rawat, dijaga. Termasuk membangun hubungan dengan pemerintah.

Lalu Tito bicara tentang kesuksesan dan amanah. Katanya, sebagai umat Islam, Ia percaya akan takdir. Apa yang sekarang ia raih, Ia genggam, itu sudah digariskan okelah Sang Khalik. Ia jadi menteri, adalah takdir dari Allah. Dengan begitu, ia jadi hamba yang tetap bersyukur.

"Saya sangat percaya bahwa kita sebagai umat Islam memiliki rukun iman, salah satunya adalah percaya kepada takdir. Saya menyadari bahwa saya bisa seperti ini, Pak Gubernur seperti ini, Pak Kapolda seperti ini, hanya karena takdir dari Allah SWT. Kita hanya bisa berusaha, berdoa kepada Allah SWT dan menerima takdir kepada kita, bahwa kita tulus," ujarnya.

Apa yang diraihnya sekarang, kata Tito, jadi jenderal bintang empat sampai pensiunnya dan kini memanggul amanah sebagai Mendagri, semata itu adalah datangnya dari Allah SWT. Ini adalah amanah atau kepercayaan yang diberikan Allah. Amanah yang harus dilaksanakan sebaik mungkin. Karena amanah itu yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.

"Ini sebagai amanah dari Allah SWT yang betul-betul harus ditunaikan untuk kepentingan umat dan masyarakat," kata Mendagri

Kesadaran bahwa apa yang sekarang diraih dan dimiliki semata dari Allah, kata Tito, ini yang terus ia tanamkan. Karena pada akhirnya saat dipanggil Allah SWT, manusia itu tak membawa apa-apa. Jabatan dan harta, tidak akan dibawanya ke alam Baqa.

"Jejak kebaikan, amal baik, itu yang akan diperhitungkan di hadapan Allah SWT," kata Tito.***


wwwwww