Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
PMI Bebas dari Hukuman Mati, Gus Jazil: Diyat Rp15,2 Miliar Dibayar Laziz NU
Politik
23 jam yang lalu
PMI Bebas dari Hukuman Mati, Gus Jazil: Diyat Rp15,2 Miliar Dibayar Laziz NU
2
Kata Hetifah tentang PJJ 'Hybrid'
DPR RI
18 jam yang lalu
Kata Hetifah tentang PJJ Hybrid
3
Masih Ada 7 WNI Yang Terancam Hukuman Mati, Gus Jazil Minta Pemerintah Belajar dari Kasus Eti
Peristiwa
23 jam yang lalu
Masih Ada 7 WNI Yang Terancam Hukuman Mati, Gus Jazil Minta Pemerintah Belajar dari Kasus Eti
4
Tiba di Tanah Air, PMI yang Lolos Hukuman Mati Dijemput Pimpinan MPR, BP2MI dan Menaker
Pemerintahan
24 jam yang lalu
Tiba di Tanah Air, PMI yang Lolos Hukuman Mati Dijemput Pimpinan MPR, BP2MI dan Menaker
5
Lukman Edy: Erick Thohir Membangun Sinergi BUMN dengan TNI-Polri
Ekonomi
22 jam yang lalu
Lukman Edy: Erick Thohir Membangun Sinergi BUMN dengan TNI-Polri
6
Ety Toyib Lolos dari Hukuman Mati, Kepala BP2MI: Ini Berkat Kerja Kolaboratif Pemerintah dan Ormas Islam
Ekonomi
22 jam yang lalu
Ety Toyib Lolos dari Hukuman Mati, Kepala BP2MI: Ini Berkat Kerja Kolaboratif Pemerintah dan Ormas Islam

Laporan KNKT Bocor, Terungkap Lion Air 737 Max JT610 Jatuh karena Kesalahan Konstruksi dan Pilot

Laporan KNKT Bocor, Terungkap Lion Air 737 Max JT610 Jatuh karena Kesalahan Konstruksi dan Pilot
Ilustrasi pesawat Lion Air. (int)
Selasa, 24 September 2019 09:31 WIB
JAKARTA - Harian Wall Streetn Journal (WSJ) pada Ahad (22/09) memublikasikan inti dari laporan hasil penyelidikan terhadap jatuhnya Lion Air Boeing 737 Max JT610 di Laut Jawa pada 29 Oktober 2018 lalu.

Dikutip dari republika.co.id, laporan hasil penyelidikan Indonesia mengenai kecelakaan Lion Air Boeing 737 Max itu sesungguhnya baru akan dirilis secara resmi November mendatang.

Kesimpulan laporan penyelidikan otoritas Indonesia di bawah supervisi Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menurut WSJ adalah kesalahan konstruksi pesawat dan beberapa kesalahan pilot menangani insiden itu.

Pesawat Lion Air tipe Boeng 737 Max dengan nomor penerbangan JT610 jatuh ke laut pada 29 Oktober 2018 lalu, sesaat setelah lepas landas. Seluruh penumpangnya, 189 orang dan awak pesawat tewas dalam kecelakaan itu.

Penyelidikan kecelakaan Boeing 737 Max dipusatkan pada sistem anti-stall yang disebut Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) yang dirancang khusus untuk 737 MAX.

Sistem itu secara otomatis mengambil alih pengendalian pesawat untuk mencegah hidung pesawat terangkat terlalu tinggi dalam kecepatan terlalu rendah, yang akan mengakibatkan pesawat jatuh. Sistem secara otomatis akan menukikkan hidung pesawat ke bawah dan menambah kecepatan.

Kecelakaan serupa dengan Boeing 737 Max terjadi beberapa bulan kemudian dengan pesawat Ethiopian Airlines yang jatuh tidak lama setelah lepas landas dari Addis Ababa dan menewaskan 157 penumpang. Dalam kasus itu, pilot juga berusaha menaikkan hidung pesawat, setelah sistem MCAS secara otomatis menukikan hidung pesawat karena salah fungsi.

WSJ menulis, temuan penyelidik Indonesia sudah dibagikan kepada Administrasi AS, FAA, dan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional, NTSB. Para pejabat AS dijadwalkan mengunjungi Indonesia pada akhir September untuk membahas laporan tersebut.

''Pihak Boeing dan FAA diberitakan khawatir dengan kesimpulan dari Indonesia, yang terlalu menekankan desain dan sertifikasi FAA adalah langkah yang salah,'' kata WSJ.

Karena kalau itu kesimpulannya, Boeing kemungkinan besar menghadapi gugatan jutaan dolar dari keluarga korban. Boeing sebelumnya membantah kesalahan konstruksi dan mengatakan bahwa jatuhnya pesawat itu adalah karena ''kesalahan pilot.''

Juru bicara Boeing kepada kantor berita AFP secara diplomatis menerangkan: ''Boeing akan terus mendukung penyelidikan ketika laporan kecelakaan sedang diselesaikan.''

Sedangkan pihak FAA dan NTSB menolak berkomentar. NTSB mengatakan sedang mempersiapkan pengumuman hasil pemeriksaan mereka ''sekitar akhir bulan,'' sekaligus rekomendasi untuk meningkatkan pelatihan pilot dan kru, dan untuk proses sertifikasi FAA, tulis WSJ.

Karena Persaingan Ketat?

Panel internasional yang dibentuk oleh FAA juga diharapkan menyerahkan laporan pemeriksaan mereka dalam beberapa minggu mendatang. Sampai saat ini, Pesawat Boeing 737 Max masih dilarang terbang karena kedua kecelakaan itu.

Perusahaan Boeing menderita kerugian besar setelah banyak maskapai penerbangan membatalkan pesanan ratusan pesawat 737 Max yang sebelumnya merupakan salah satu model terlaris. Boeing sudah memberikan beberapa usulan perbaikan konstruksi Boeing 737 Max agar bisa mendapat izin terbang lagi. Namun hingga kini FAA belum mengeluarkan izin terbang untuk pesawat itu.

Banyak pihak menuduh Boeing membuat konstruksi pesawat yang tidak aman karena ingin menekan harga pesawat jadi lebih murah di tengah persaingan ketat bisnis pesawat terbang.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ragam

wwwwww