Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Aksi Solidaritas Kematian George Floyd Berujung Ricuh Hampir ke Seluruh Amerika
Internasional
19 jam yang lalu
Aksi Solidaritas Kematian George Floyd Berujung Ricuh Hampir ke Seluruh Amerika
2
Kematian George Floyd Berujung Rusuh, KJRI Chicago Pastikan WNI Aman
Peristiwa
19 jam yang lalu
Kematian George Floyd Berujung Rusuh, KJRI Chicago Pastikan WNI Aman
3
Umumkan Amerika Keluar dari Keanggotaan, Donald Trump Sebut WHO 'Boneka' China
Internasional
10 jam yang lalu
Umumkan Amerika Keluar dari Keanggotaan, Donald Trump Sebut WHO Boneka China
4
Aksi Ricuh Demonstrasi Merebak di 30 Kota di Amerika
Internasional
10 jam yang lalu
Aksi Ricuh Demonstrasi Merebak di 30 Kota di Amerika
5
Minta Polri Tidak Terlalu Parno, IPW: Segera Bebaskan Ruslan Buton
Peristiwa
9 jam yang lalu
Minta Polri Tidak Terlalu Parno, IPW: Segera Bebaskan Ruslan Buton
6
Lawan Covid -19, Aziz Syamsudin Ajak Warga Budayakan Gotong Royong
Politik
11 jam yang lalu
Lawan Covid -19, Aziz Syamsudin Ajak Warga Budayakan Gotong Royong

Hasil Riset, 92 Persen Malware Menyusup Melalui Jalan Ini

Hasil Riset, 92 Persen Malware Menyusup Melalui Jalan Ini
Ilustrasi. (suara.com)
Rabu, 04 Desember 2019 10:32 WIB
JAKARTA - Peretas keamanan siber menyusupkan malware kepada target mereka melalui surat elektronik atau email. Persentasenya mencapai 92 persen.

Dikutip dari suara.com, demikian hasil riset Trend Micro Indonesia yang diungkapkan Country Manager Trend Micro Indonesia Laksana Budiwiyono dalam sebuah acara di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, pada Selasa (3/12/2019).

''Fenomena serangan melalui email, 92 persen terjadi gara-gara mengklik tautan di email. Delapan persen sisanya dari faktor eksternal, misalnya colokan USB yang sudah terinfeksi virus,'' terang Laksana.

Meski cara ini terdengar klasik, namun pada kenyataannya masyarakat Indonesia masih kerap terkena jebakan ini karena iming-iming hadiah yang ditawarkan dalam email tersebut.

''Indonesia nomor 2 yang paling banyak mengklik tautan di email yang sudah terinfeksi malware,'' imbuhnya.

Ketika pemilik email membuka tautan tersebut, ia akan langsung terhubung dan membuka laman atau aplikasi tertentu yang sebenarnya merupakan kamuflase dari malware.

''Setelah malware masuk, data pengguna akan terenkripsi. Kalau sudah begini, saya pikir semua konsultan keamanan (siber) tidak akan sanggup untuk memecahkan kode enkripsi tersebut,'' ujar Laksana.

Jika data pengguna sudah terenkripsi, lanjut Laksana, biasanya peretas memeras atau meminta tebusan kepada pemilik data untuk membuka enkripsi data yang sudah diretas.

Parahnya, aksi peretasan ini seakan sudah terorganisir dan dalam beberapa kasus, ada beberapa pihak yang menawarkan jasa pembajakan.

''Kalau mau bertindak kejahatan siber, ternyata itu ada penyedia jasanya. Ada tawaran untuk menciptakan serangan siber di dunia pasar gelap,'' pungkasnya.***

Editor:hasan b
Sumber:suara.com
Kategori:Ragam

wwwwww