Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Bicara Tenis Meja, Ling Ling Agustin: Itu Banyolan Doang
Olahraga
18 jam yang lalu
Bicara Tenis Meja, Ling Ling Agustin: Itu Banyolan Doang
2
Krisna Bayu Sarankan Lifter Deni Minta Maaf
Olahraga
24 jam yang lalu
Krisna Bayu Sarankan Lifter Deni Minta Maaf
3
Kapolda Jabar dan Muspida Bandung Ditemui OC Piala Menpora 2021
Olahraga
17 jam yang lalu
Kapolda Jabar dan Muspida Bandung Ditemui OC Piala Menpora 2021
4
Ternyata Deni dan Eko Sudah Bikin Janji Tampil Habis-habisan
Olahraga
22 jam yang lalu
Ternyata Deni dan Eko Sudah Bikin Janji Tampil Habis-habisan
5
Soal Pencoretan dari Pelatnas, Deni: Saya Tak Pernah Dapat Surat Teguran
Olahraga
22 jam yang lalu
Soal Pencoretan dari Pelatnas, Deni: Saya Tak Pernah Dapat Surat Teguran
6
Aturan Investasi Miras Dicabut, Gelora Apresiasi Presiden
Politik
20 jam yang lalu
Aturan Investasi Miras Dicabut, Gelora Apresiasi Presiden

Hasil Riset, 92 Persen Malware Menyusup Melalui Jalan Ini

Hasil Riset, 92 Persen Malware Menyusup Melalui Jalan Ini
Ilustrasi. (suara.com)
Rabu, 04 Desember 2019 10:32 WIB
JAKARTA - Peretas keamanan siber menyusupkan malware kepada target mereka melalui surat elektronik atau email. Persentasenya mencapai 92 persen.

Dikutip dari suara.com, demikian hasil riset Trend Micro Indonesia yang diungkapkan Country Manager Trend Micro Indonesia Laksana Budiwiyono dalam sebuah acara di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, pada Selasa (3/12/2019).

''Fenomena serangan melalui email, 92 persen terjadi gara-gara mengklik tautan di email. Delapan persen sisanya dari faktor eksternal, misalnya colokan USB yang sudah terinfeksi virus,'' terang Laksana.

Ads

Meski cara ini terdengar klasik, namun pada kenyataannya masyarakat Indonesia masih kerap terkena jebakan ini karena iming-iming hadiah yang ditawarkan dalam email tersebut.

''Indonesia nomor 2 yang paling banyak mengklik tautan di email yang sudah terinfeksi malware,'' imbuhnya.

Ketika pemilik email membuka tautan tersebut, ia akan langsung terhubung dan membuka laman atau aplikasi tertentu yang sebenarnya merupakan kamuflase dari malware.

''Setelah malware masuk, data pengguna akan terenkripsi. Kalau sudah begini, saya pikir semua konsultan keamanan (siber) tidak akan sanggup untuk memecahkan kode enkripsi tersebut,'' ujar Laksana.

Jika data pengguna sudah terenkripsi, lanjut Laksana, biasanya peretas memeras atau meminta tebusan kepada pemilik data untuk membuka enkripsi data yang sudah diretas.

Parahnya, aksi peretasan ini seakan sudah terorganisir dan dalam beberapa kasus, ada beberapa pihak yang menawarkan jasa pembajakan.

''Kalau mau bertindak kejahatan siber, ternyata itu ada penyedia jasanya. Ada tawaran untuk menciptakan serangan siber di dunia pasar gelap,'' pungkasnya.***

Editor:hasan b
Sumber:suara.com
Kategori:Ragam
wwwwww