Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Marciano Beri Semangat Atlet Balap Sepeda Raih Prestasi di Youth Olympic Games Dakar 2026
Olympic
20 jam yang lalu
Marciano Beri Semangat Atlet Balap Sepeda Raih Prestasi di Youth Olympic Games Dakar 2026
2
Mulyanto: Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat
MPR RI
21 jam yang lalu
Mulyanto: Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat
3
Usman Husin Soroti Tarif Ferry Kupang-Rote, Khawatir Harga Sembako Ikut Naik
Nasional
20 jam yang lalu
Usman Husin Soroti Tarif Ferry Kupang-Rote, Khawatir Harga Sembako Ikut Naik
4
Achsanul Qosasi Minta Suporter Madura United dan Bonek Tak Terprovokasi Medsos
Sepakbola
20 jam yang lalu
Achsanul Qosasi Minta Suporter Madura United dan Bonek Tak Terprovokasi Medsos
5
Bernando Tavares Ungkap Alasan Persebaya Lepas Gali Freitas
Sepakbola
20 jam yang lalu
Bernando Tavares Ungkap Alasan Persebaya Lepas Gali Freitas
6
‎Sampah Jakarta Berkurang 500 Ton per Hari, DKI-Bekasi Perkuat Kerja Sama Bantargebang
Metropolitan
24 jam yang lalu
‎Sampah Jakarta Berkurang 500 Ton per Hari, DKI-Bekasi Perkuat Kerja Sama Bantargebang

Hasil Riset, 92 Persen Malware Menyusup Melalui Jalan Ini

Hasil Riset, 92 Persen Malware Menyusup Melalui Jalan Ini
Ilustrasi. (suara.com)
Rabu, 04 Desember 2019 10:32 WIB
JAKARTA - Peretas keamanan siber menyusupkan malware kepada target mereka melalui surat elektronik atau email. Persentasenya mencapai 92 persen.

Dikutip dari suara.com, demikian hasil riset Trend Micro Indonesia yang diungkapkan Country Manager Trend Micro Indonesia Laksana Budiwiyono dalam sebuah acara di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, pada Selasa (3/12/2019).

''Fenomena serangan melalui email, 92 persen terjadi gara-gara mengklik tautan di email. Delapan persen sisanya dari faktor eksternal, misalnya colokan USB yang sudah terinfeksi virus,'' terang Laksana.

Meski cara ini terdengar klasik, namun pada kenyataannya masyarakat Indonesia masih kerap terkena jebakan ini karena iming-iming hadiah yang ditawarkan dalam email tersebut.

''Indonesia nomor 2 yang paling banyak mengklik tautan di email yang sudah terinfeksi malware,'' imbuhnya.

Ketika pemilik email membuka tautan tersebut, ia akan langsung terhubung dan membuka laman atau aplikasi tertentu yang sebenarnya merupakan kamuflase dari malware.

''Setelah malware masuk, data pengguna akan terenkripsi. Kalau sudah begini, saya pikir semua konsultan keamanan (siber) tidak akan sanggup untuk memecahkan kode enkripsi tersebut,'' ujar Laksana.

Jika data pengguna sudah terenkripsi, lanjut Laksana, biasanya peretas memeras atau meminta tebusan kepada pemilik data untuk membuka enkripsi data yang sudah diretas.

Parahnya, aksi peretasan ini seakan sudah terorganisir dan dalam beberapa kasus, ada beberapa pihak yang menawarkan jasa pembajakan.

''Kalau mau bertindak kejahatan siber, ternyata itu ada penyedia jasanya. Ada tawaran untuk menciptakan serangan siber di dunia pasar gelap,'' pungkasnya.***

Editor:hasan b
Sumber:suara.com
Kategori:Ragam
wwwwww