Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
'Gelora Kemerdekaan 2020' dan Launching API GELORA di HUT RI ke-75
Politik
14 jam yang lalu
Gelora Kemerdekaan 2020 dan Launching API GELORA di HUT RI ke-75
2
DPP PAN Tegaskan Muswil PAN Riau Digelar Akhir Agustus 2020
Politik
13 jam yang lalu
DPP PAN Tegaskan Muswil PAN Riau Digelar Akhir Agustus 2020
3
Kuatkan Hubungan Kerjasama Antar Negara saat Pandemi, Azis Syamsudin Temui Dubes Singapura
Politik
13 jam yang lalu
Kuatkan Hubungan Kerjasama Antar Negara saat Pandemi, Azis Syamsudin Temui Dubes Singapura
4
Negara Harus Lindungi PMI ABK, Jangan Pas Ada Kasus Baru Kelihatan Sibuk
Pemerintahan
11 jam yang lalu
Negara Harus Lindungi PMI ABK, Jangan Pas Ada Kasus Baru Kelihatan Sibuk
5
Bangun Ribuan Titik Jaringan Wi-Fi, Gus Jazil: Langkah Konkret GBB Membantu Pendidikan Masyarakat di Masa Pandemi
Politik
12 jam yang lalu
Bangun Ribuan Titik Jaringan Wi-Fi, Gus Jazil: Langkah Konkret GBB Membantu Pendidikan Masyarakat di Masa Pandemi
6
Islam Kembali Dihina, Muhammadiyah Imbau Umat Muslim Tidak Terpancing
Peristiwa
13 jam yang lalu
Islam Kembali Dihina, Muhammadiyah Imbau Umat Muslim Tidak Terpancing

Hasil Riset, 92 Persen Malware Menyusup Melalui Jalan Ini

Hasil Riset, 92 Persen Malware Menyusup Melalui Jalan Ini
Ilustrasi. (suara.com)
Rabu, 04 Desember 2019 10:32 WIB
JAKARTA - Peretas keamanan siber menyusupkan malware kepada target mereka melalui surat elektronik atau email. Persentasenya mencapai 92 persen.

Dikutip dari suara.com, demikian hasil riset Trend Micro Indonesia yang diungkapkan Country Manager Trend Micro Indonesia Laksana Budiwiyono dalam sebuah acara di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, pada Selasa (3/12/2019).

''Fenomena serangan melalui email, 92 persen terjadi gara-gara mengklik tautan di email. Delapan persen sisanya dari faktor eksternal, misalnya colokan USB yang sudah terinfeksi virus,'' terang Laksana.

Meski cara ini terdengar klasik, namun pada kenyataannya masyarakat Indonesia masih kerap terkena jebakan ini karena iming-iming hadiah yang ditawarkan dalam email tersebut.

''Indonesia nomor 2 yang paling banyak mengklik tautan di email yang sudah terinfeksi malware,'' imbuhnya.

Ketika pemilik email membuka tautan tersebut, ia akan langsung terhubung dan membuka laman atau aplikasi tertentu yang sebenarnya merupakan kamuflase dari malware.

''Setelah malware masuk, data pengguna akan terenkripsi. Kalau sudah begini, saya pikir semua konsultan keamanan (siber) tidak akan sanggup untuk memecahkan kode enkripsi tersebut,'' ujar Laksana.

Jika data pengguna sudah terenkripsi, lanjut Laksana, biasanya peretas memeras atau meminta tebusan kepada pemilik data untuk membuka enkripsi data yang sudah diretas.

Parahnya, aksi peretasan ini seakan sudah terorganisir dan dalam beberapa kasus, ada beberapa pihak yang menawarkan jasa pembajakan.

''Kalau mau bertindak kejahatan siber, ternyata itu ada penyedia jasanya. Ada tawaran untuk menciptakan serangan siber di dunia pasar gelap,'' pungkasnya.***

Editor:hasan b
Sumber:suara.com
Kategori:Ragam

wwwwww