Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Saat Anggota Komisi Intelijen Tegur Pewawancara Tak Kenakan Masker
Nasional
7 jam yang lalu
Saat Anggota Komisi Intelijen Tegur Pewawancara Tak Kenakan Masker
2
RUU Omnibus Law Ciptaker Muat soal Penyiaran dan Jadi Bahaya, Cabut atau Ubah?
DPR RI
10 jam yang lalu
RUU Omnibus Law Ciptaker Muat soal Penyiaran dan Jadi Bahaya, Cabut atau Ubah?
3
Tiga Kementerian Terbitkan SKB untuk Percepat Pemutakhiran DTKS
Pemerintahan
9 jam yang lalu
Tiga Kementerian Terbitkan SKB untuk Percepat Pemutakhiran DTKS
4
Berzakat dan Ciptakan Lebih Banyak Indri di Tengah Pandemi
Umum
8 jam yang lalu
Berzakat dan Ciptakan Lebih Banyak Indri di Tengah Pandemi
5
Survei LKPI: Elektabilitas Soerya Raspationo Paling Unggul di Pilgub Kepri 2020
Peristiwa
6 jam yang lalu
Survei LKPI: Elektabilitas Soerya Raspationo Paling Unggul di Pilgub Kepri 2020
6
Kebakaran di Gedung Telkom Pekanbaru Berasal dari Ruangan Server Induk, Sempat Terdengar Suara Ledakan
Riau
9 jam yang lalu
Kebakaran di Gedung Telkom Pekanbaru Berasal dari Ruangan Server Induk, Sempat Terdengar Suara Ledakan

497.000 Bocah Muslim Uighur Dikirim ke Kamp untuk Dikosongkan Otaknya dari Nilai-nilai Islam

497.000 Bocah Muslim Uighur Dikirim ke Kamp untuk Dikosongkan Otaknya dari Nilai-nilai Islam
Bocah-bocah Muslim Uighur. (sindonews.com)
Selasa, 31 Desember 2019 12:00 WIB
BEIJING - Penguasa China mengambil paksa 497.000 anak-anak Muslim Uighur di Xinjiang, kemudian mengirimnya ke kamp-kamp yang dikelola pemerintah.

Media Amerika Serikat (AS) The New York Times menyebutkan laporan tersebut berdasarkan dokumen Kementerian Pendidikan China.

Negara-negara Barat, terutama AS, dan para aktivis hak asasi manusia (HAM) menganggap kamp-kamp di Xinjiang merupakan kamp persekusi. Namun, Beijing menegaskan kamp-kamp itu merupakan tempat pelatihan kerja dan sekolah kejuruan yang bertujuan membekali para warga Uighur dan minoritas Muslim lainnya dengan keterampilan kerja dan menjauhkan mereka dari paham ekstremisme.

Beijing melalui kedutaanbesar-nya di beberapa negara Asia mengecam pemberitaan negatif tentang warga Uighur di Xinjiang. Mereka bahkan mengundang masyarakat negara-negara Asia untuk berkunjung ke Xinjiang agar bisa melihat langsung kondisi yang terjadi.

Sedangkan tindakan keras pada sebagian komunitas Uighur, menurut Beijing, adalah kebijakan kontraterorisme seperti halnya dilakukan pada negara-negara lain pada umumnya. Fakta bahwa tidak sedikit warga Uighur pergi ke Suriah untuk bergabung dan kelompok ISIS. Bahkan, ada beberapa warga Uighur pernah bergabung dengan kelompok teroris pimpinan Santoso yang berulah di wilayah Poso, Indonesia.

Berdasarkan dokumen Kementerian Pendidikan China, anak-anak berusia delapan tahun ditempatkan di sekolah asrama yang dikelola pemerintah oleh otoritas China untuk menghapus nilai-nilai dan kepercayaan Muslim versi mereka. Partai Komunis China (CCP) berpendapat bahwa sekolah-sekolah itu berfungsi sebagai cara untuk memerangi kemiskinan dan bahwa pemerintah telah meningkatkan akses anak-anak Uighur pada pendidikan.

Dokumen itu juga mengatakan bahwa Sekretaris Jenderal CCP Xi Jinping menganggap pendidikan sebagai alat penting dalam memberantas sepenuhnya ekstremisme kekerasan sebaik yang dilakukan pemerintah Xinjiang. Dokumen itu menambahkan bahwa generasi baru pemuda Uighur sekuler akan diberi hak istimewa untuk menumbuhkan patriotisme dan cinta mereka pada partai.

Menurut laporan The New York Times pada 28 Desember 2019, sekitar 497.000 siswa sekolah dasar dan menengah terdaftar di sekolah asrama milik pemerintah tahun lalu. Beijing dilaporkan berencana untuk membuka setidaknya satu sekolah di setiap kota di Xinjiang pada akhir 2020.

Laporan itu mengatakan bahwa siswa hanya bisa bertemu keluarga mereka setiap dua minggu dan tidak diizinkan menggunakan bahasa Uighur di sekolah. Pakar internasional, termasuk sarjana China-Jerman Adrian Zenz percaya bahwa sekolah sedang didirikan untuk mengindoktrinasi anak-anak Uighur dengan pandangan pro-CCP.***

Editor:hasan b
Sumber:sindonews.com
Kategori:Ragam

wwwwww