Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
RUU Omnibus Law Ciptaker Muat soal Penyiaran dan Jadi Bahaya, Cabut atau Ubah?
DPR RI
11 jam yang lalu
RUU Omnibus Law Ciptaker Muat soal Penyiaran dan Jadi Bahaya, Cabut atau Ubah?
2
Saat Anggota Komisi Intelijen Tegur Pewawancara Tak Kenakan Masker
Nasional
7 jam yang lalu
Saat Anggota Komisi Intelijen Tegur Pewawancara Tak Kenakan Masker
3
Tiga Kementerian Terbitkan SKB untuk Percepat Pemutakhiran DTKS
Pemerintahan
10 jam yang lalu
Tiga Kementerian Terbitkan SKB untuk Percepat Pemutakhiran DTKS
4
Berzakat dan Ciptakan Lebih Banyak Indri di Tengah Pandemi
Umum
9 jam yang lalu
Berzakat dan Ciptakan Lebih Banyak Indri di Tengah Pandemi
5
Survei LKPI: Elektabilitas Soerya Raspationo Paling Unggul di Pilgub Kepri 2020
Peristiwa
7 jam yang lalu
Survei LKPI: Elektabilitas Soerya Raspationo Paling Unggul di Pilgub Kepri 2020
6
Kebakaran di Gedung Telkom Pekanbaru Berasal dari Ruangan Server Induk, Sempat Terdengar Suara Ledakan
Riau
9 jam yang lalu
Kebakaran di Gedung Telkom Pekanbaru Berasal dari Ruangan Server Induk, Sempat Terdengar Suara Ledakan

Shalat di Masjid Uighur, Sekelompok Turis Malaysia Ditangkap Pasukan Bersenjata China

Shalat di Masjid Uighur, Sekelompok Turis Malaysia Ditangkap Pasukan Bersenjata China
Sejumlah warga Malaysia yang sempat ditangkap dan ditahan pasukan bersenjata China. (merdeka.com)
Selasa, 31 Desember 2019 11:10 WIB
KUALA LUMPUR - Sekelompok turis Muslim asal Malaysia ditangkap pasukan bersenjata China di Provinsi Xinjiang. Mereka ditangkap usai shalat di masjid milik Muslim Uighur.

Demikian dilaporkan World of Buzz pada Kamis, seperti dikutip dari merdeka.com. Salah seorang anggota kelompok itu berbagi pengalaman buruk mereka setelah tiba dengan selamat di Malaysia dari Xinjiang.

''Saat kami merasa lega dibebaskan, kami juga kecewa karena hak kami sebagai Muslim ditolak untuk shalat di masjid,'' kata pemimpin kelompok itu dalam unggahan Facebook, seperti dikutip dari laman Alaraby, Senin (30/12).

Insiden bermula ketika kelompok itu menemukan sebuah masjid yang dapat diakses saat dalam perjalanan. Mereka sangat senang karena itu adalah satu-satunya masjid yang bisa dimasuki dan shalat dengan tenang.

Namun setelah mereka selesai salat, pasukan bersenjata dan polisi menunggu mereka di luar masjid. Salah seorang penjaga masjid ditegur seorang perwira China.

Pemimpin kelompok wisatawan itu, Khir Ariffin dengan cepat menyarankan anggota lain dari kelompok itu, seorang editor senior di kantor berita nasional Malaysia Bernama, untuk menghubungi rekan kerjanya.

''Beri tahu mereka jika kita tidak bisa dihubungi dalam 24 jam ke depan, beri tahu kedutaan tanpa menyebarkan berita ke media. SOS,'' kata Ariffin.

Pemimpin kelompok itu segera menyadari bahwa mereka telah diikuti sepanjang waktu mereka berada di China, dengan petugas yang diduga menyamar sebagai ''petugas kebersihan umum, warga setempat, dan pemilik toko''.

''Kami terus diawasi,'' kata Ariffin.

Pasukan bersenjata dan polisi kemudian membawa kelompok tersebut dari masjid ke lokasi yang tak diketahui. Kelompok itu tercengang melihat gerbang dan kompleks yang berada di tengah-tengah desa tua yang terpencil.

''Tim yang dipenuhi pejabat militer dan polisi menunggu kedatangan kami,'' tulisnya.

Mereka kemudian ditahan di ruang isolasi ''yang menyerupai penjara'' sementara pemandu wisata berbicara dengan pejabat China. Setelah beberapa jam, kelompok itu dibebaskan.

Bungkam Tak Selesaikan Masalah

''Saya percaya satu-satunya alasan kami dibebaskan karena ada anggota kami dari media dan para pejabat tidak ingin apa yang terjadi di Xinjiang diketahui dunia,'' kata Ariffin.

Pemimpin kelompok itu mendesak orang lain untuk mengangkat masalah Uighur.

''Tetap diam tidak akan menyelesaikan masalah ini. Tuhan mengizinkan kita untuk melihat Uighur sekilas sehingga kita bisa berbagi,'' tambahnya.

Tindakan keras China di Xinjiang dinilai para aktivis sebagai penjara udara terbuka bagi penduduk setempat. Bagi mereka yang tinggal di luar kamp, pemeriksaan ID di mana-mana dan keamanan yang ketat adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sebuah investigasi Guardian mengungkapkan, China juga telah menghancurkan puluhan masjid dan tempat ibadah Muslim di Xinjiang selama tiga tahun terakhir.

Muslim di Xinjiang dipaksa untuk tidak berpuasa selama bulan suci Ramadhan, dan diduga dipaksa minum alkohol dan makan daging babi saat ditahan di dalam kamp

Lebih dari 1 juta Uighur dan warga Muslim dari etnis minoritas lainnya diyakini PBB dipenjara di dalam kamp-kamp tahanan. ***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:Ragam

wwwwww