Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ekonomi Anjlok, Wakil Ketua MPR: Bukti Kebijakan Pemerintah Tak Efektif
MPR RI
14 jam yang lalu
Ekonomi Anjlok, Wakil Ketua MPR: Bukti Kebijakan Pemerintah Tak Efektif
2
Soal Bantuan Karyawan dengan Upah di Bawah Rp5 Juta, Ini Catatan Komisi XI
DPR RI
14 jam yang lalu
Soal Bantuan Karyawan dengan Upah di Bawah Rp5 Juta, Ini Catatan Komisi XI
3
Transjakarta Siap Bayar Upah jika Tuntutan Memiliki Dasar yang Kuat
Ekonomi
8 jam yang lalu
Transjakarta Siap Bayar Upah jika Tuntutan Memiliki Dasar yang Kuat
4
Daripada Ribut, Abdul Fikri Faqih: Alihkan Anggaran POP Untuk Internet Gratis
DPD RI
11 jam yang lalu
Daripada Ribut, Abdul Fikri Faqih: Alihkan Anggaran POP Untuk Internet Gratis
5
Membaca 'Ancaman Resesi Ekonomi dan Solusinya'
DPR RI
10 jam yang lalu
Membaca Ancaman Resesi Ekonomi dan Solusinya
6
Soal Bansos Buat Pekerja, Abdul Fikri Faqih Ingatkan Jangan Sampai Timbul Kecemburuan
DPR RI
11 jam yang lalu
Soal Bansos Buat Pekerja, Abdul Fikri Faqih Ingatkan Jangan Sampai Timbul Kecemburuan

Pengungsi Rohingya Sambut Gembira Putusan Pengadilan Internasional

Pengungsi Rohingya Sambut Gembira Putusan Pengadilan Internasional
Para pengungsi Rohingya di kamp-kamp pengungsian Bazar Cox menyaksikan siaran langsung pembacaan putusan ICJ yang berbasis di Den Haag, Belanda, melalui televisi. (sindonews)
Jum'at, 24 Januari 2020 07:28 WIB
DHAKA - Muslim Rohingya yang mengungsi di Bangladesh menyambut gembira putusan ICJ (Pengadilan Internasional) tentang kasus genosida yang dilakukan Myanmar.

Dikutip dari sindonews.com, para pengungsi Rohingya gembira karena putusan itu memberikan harapan bagi mereka untuk bisa kembali dengan selamat ke negara bagian Rakhine.

Para pengungsi Rohingya di kamp-kamp pengungsian Bazar Cox menyaksikan siaran langsung pembacaan putusan ICJ yang berbasis di Den Haag, Belanda itu, melalui televisi.

''Putusan ini membuat kami berharap tentang repatriasi yang kami inginkan, repatriasi dengan keamanan dan martabat, ke Arakan (Rakhine),'' ujar Abdur Rahim, seorang pengungsi yang bertugas sebagai wakil presiden Masyarakat Arakan Rohingya untuk Perdamaian dan Hak Asasi Manusia, sebuah lembaga nirlaba.

''Semua orang Rohingya senang dengan keputusan itu,'' imbuh Rahim seperti dikutip dari Radio Free Asia, Jumat (24/1/2020).

Panel hakim ICJ yang berjumlah 17 orang memutuskan dengan suara bulat memerintahkan Myanmar untuk mengambil langkah-langkah untuk melindungi minoritas Rohingya yang tidak memiliki kewarganegaraan dari kekejaman lebih lanjut.

Hakim juga memerintahkan Myanmar untuk menahan diri dari menghancurkan bukti-bukti dugaan kejahatan yang dapat digunakan dalam pemeriksaan di masa depan.

Ketika para hakim menjatuhkan putusan mereka, beberapa pengungsi Rohingya di Bangladesh menangis. Sementara yang lain mulai berdoa.

Kasus terhadap Myanmar diajukan ke Pengadilan Internasional oleh Gambia, negara kecil di Afrika Barat yang mayoritas Muslim. Gambia mendesak ICJ untuk memastikan bahwa kekejaman terhadap orang-orang Rohingya tidak berlanjut.

Bulan lalu, pengacara yang mewakili Gambia mengutip informasi dari komisi pencarian fakta yang dimandatkan PBB, yang laporan akhirnya menyimpulkan bahwa serangan terhadap Rohingya di Rakhine dilakukan dengan niat genosida.

''Pengaduan Gambia menceritakan penderitaan dan rasa sakit kami. Putusan ini memberi kami perasaan bahwa kami bisa mendapatkan pengakuan sebagai Rohingya di Myanmar. Kami berterima kasih kepada Tuhan Yang Mahakuasa,'' ujar seorang wanita Rohingya yang tinggal di kamp Lambarshia di Cox's Bazar, Shahana Akter.

Putusan ICJ ini juga disambut baik oleh Menteri Luar Negeri Bangladesh, A.K. Abdul Momen. Ditengah lawatannya ke Ekuador, Momen memuji putuan ICJ.

Dia menyebut putusan itu kemenangan bagi kemanusiaan dan tonggak sejarah bagi para aktivis hak asasi manusia di semua negara.

Sejak 2018, Bangladesh dan Myanmar telah mendorong rencana bilateral untuk pemulangan sukarela pengungsi Rohingya dari kamp di dan sekitar Cox's Bazar. Program ini gagal lepas landas karena para pengungsi telah menolak untuk kembali ke Rakhine, menyuarakan kekhawatiran tentang keselamatan mereka dan kewarganegaraan di Myanmar.

Lebih dari 740.000 Rohingya menyeberang ke Bangladesh ketika mereka melarikan diri dari serangan militer yang brutal, yang diluncurkan setelah serangan oleh pemberontak Rohingya terhadap pos-pos polisi dan tentara di Rakhine pada Agustus 2017.***

Editor:hasan b
Sumber:sindonews.com
Kategori:Ragam

wwwwww