Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
RUU Omnibus Law Ciptaker Muat soal Penyiaran dan Jadi Bahaya, Cabut atau Ubah?
DPR RI
10 jam yang lalu
RUU Omnibus Law Ciptaker Muat soal Penyiaran dan Jadi Bahaya, Cabut atau Ubah?
2
Saat Anggota Komisi Intelijen Tegur Pewawancara Tak Kenakan Masker
Nasional
6 jam yang lalu
Saat Anggota Komisi Intelijen Tegur Pewawancara Tak Kenakan Masker
3
Tiga Kementerian Terbitkan SKB untuk Percepat Pemutakhiran DTKS
Pemerintahan
9 jam yang lalu
Tiga Kementerian Terbitkan SKB untuk Percepat Pemutakhiran DTKS
4
Berzakat dan Ciptakan Lebih Banyak Indri di Tengah Pandemi
Umum
8 jam yang lalu
Berzakat dan Ciptakan Lebih Banyak Indri di Tengah Pandemi
5
Survei LKPI: Elektabilitas Soerya Raspationo Paling Unggul di Pilgub Kepri 2020
Peristiwa
6 jam yang lalu
Survei LKPI: Elektabilitas Soerya Raspationo Paling Unggul di Pilgub Kepri 2020
6
Kebakaran di Gedung Telkom Pekanbaru Berasal dari Ruangan Server Induk, Sempat Terdengar Suara Ledakan
Riau
8 jam yang lalu
Kebakaran di Gedung Telkom Pekanbaru Berasal dari Ruangan Server Induk, Sempat Terdengar Suara Ledakan

Kepala WHO Sebut Virus Corona Ancaman Serius bagi Dunia

Kepala WHO Sebut Virus Corona Ancaman Serius bagi Dunia
Tedros Adhanom Ghebreyesus. (cfr.org)
Selasa, 11 Februari 2020 20:16 WIB
JENEWA - Wabah virus corona membuat kondisi sangat darurat untuk China dan ancaman serius bagi dunia.

Dikutip dari sindonews.com, hal itu dikatakan Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, saat berpidato pada pembukaan pertemuan dua hari di Jenewa yang bertujuan meningkatkan penelitian dalam diagnostik, obat-obatan dan vaksin.

Diungkapkan Tedros, hingga saat ini China telah melaporkan 42.708 kasus virus corona yang dikonfirmasi, termasuk 1.017 kematian.

''Dengan 99% kasus di China, ini tetap sangat darurat untuk negara itu, tetapi yang memiliki ancaman sangat besar bagi seluruh dunia,'' katanya kepada lebih dari 400 peneliti dan otoritas nasional, termasuk beberapa yang ikut serta konferensi video dari China dan Taiwan, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (11/2/2020).

Saat berbicara kepada wartawan pada Senin, Tedros mengatakan, pada beberapa kasus, orang-orang yang tidak memiliki riwayat perjalanan ke China juga terinfeksi virus corona di Prancis dan Inggris. Lima warga negara Inggris didiagnosis menderita virus corona di Prancis, setelah tinggal di chalet ski yang sama dengan seseorang yang pernah berada di Singapura.

''Deteksi sejumlah kecil kasus ini bisa menjadi percikan api yang menjadi lebih besar. Tapi untuk saat ini hanya percikan api. Tujuan kami tetap menahannya,'' ujarnya.

Masih banyak pertanyaan tentang asal-usul virus corona baru, yang muncul di pasar satwa liar di pusat Kota Wuhan di China pada Culan Desember, dan disebarkan oleh orang-orang akibat tetesan karena batuk atau bersin.

''Kami berharap bahwa salah satu hasil dari pertemuan ini akan menjadi road map yang disepakati untuk penelitian, di mana peneliti dan donor akan menyelaraskan,'' kata Tedros dalam pertemuan tertutup itu.

''Intinya adalah solidaritas, solidaritas, solidaritas,'' tergasnya.

''Itu terutama benar dalam kaitannya dengan berbagi sampel dan urutan,'' jelas Tedros.

''Untuk mengalahkan wabah ini, kita perlu berbagi secara terbuka dan adil, sesuai dengan prinsip keadilan dan kesetaraan,'' ucapnya.

Sementara itu Kepala Darurat WHO, Dr Mike Ryan, mengatakan kepada wartawan pada Senin, ''Ini adalah inisiatif luar biasa untuk memusatkan pengetahuan kita.''

''Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi kesenjangan dan menghasilkan informasi ilmiah untuk intervensi medis yang sangat dibutuhkan,'' katanya.

''Ini bukan hanya wacana ilmiah, ada masalah besar yang harus dilakukan dengan bagaimana seluruh proses itu diatur,'' tutur Ryan, mengutip kebutuhan untuk memastikan akses yang adil ke produk apa pun yang berasal dari penelitian dan disetujui oleh regulator.

''Menyatukan semua orang, saya pikir akan memberi kita momen lompatan-katak dalam hal koherensi, penetapan prioritas,'' tukasnya.***

Editor:hasan b
Sumber:sindonews.com
Kategori:Ragam

wwwwww