Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
17 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
Olympic
10 jam yang lalu
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
3
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
Sepakbola
10 jam yang lalu
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
4
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
11 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
5
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
11 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
6
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
16 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas

Pemuda dan Aktor Keindonesiaan

Minggu, 30 Oktober 2016 10:02 WIB
Pemuda dan Aktor Keindonesiaan

*Fakhrurrazi

Wahai pemuda, janganlah engkau pilih hidup ini bagai nyanyian, jangan terpana dengan keindahan yang terpampang di matamu. Jangan pula engkau tak menghiraukan nasib bangsa ini. Kapan kamu akan move on dari tempat hitam menuju lumbung ilmu? Nusantara ini sangat membutuhkan mu.

Bumi pertiwi ini telah banyak melahirkan cendikia-candikia yang memiliki segudang ilmu yang bisa ditorehkan kepada dunia. Jadikan sebagai tempat engkau merujuk. Karena sesungguhnya mereka telah dibuka hijab awan hitam menuju penataran ilmu yang putih dan bercahaya. Khazanah ketinggian keilmuan mereka dapat memberikan jawaban bagi yang mempelajarinya. Bukankah engkau suka dengan pemuda berilmu?

Banyak sudah, tokoh-tokoh dari tanah air yang bisa kita jadikan idola dan pedoman dalam silsilah kehidupan. Lihatlah Mohammad Natsir dengan pemikirannya yang cemerlang dan islami dan idenya yang sangat terkenal yaitu mosi integral mampu menyatukan kembali Indonesia yang telah terpecah belah ketika itu.

Keinginannya yang lain adalah ingin menjadikan Indonesia ini sebagai Negara Islam. Alasan beliau sangat logis, karena negara Indonesia penduduknya mayoritas adalah muslim dan beliau juga beranggapan bahwa Islam tidak mengenal istilah pemisahan antara agama dan politik.

Meskipun Islam tidak menawarkan sebuah bentuk pemerintahan yang konkrit, tetapi Islam kaya akan nilai-nilai yang dapat dijadikan patokan dalam sebuah pemerintahan. Menurut beliau hal demikian dapat menjadi wasilah bagi tercapainya tujuan hidup manusia.

Begitu juga dengan bapak Indonesia sang proklamator. Dengan orasinya yang membangkitkan gelora para pemuda untuk merebut kemerdekaan kala itu, pemikirannya yang komprehensif dengan memadukan tiga ideologi yaitu; nasionalisme, islamisme dan marxisme. Ketiga ideologi itu beliau kumpulkan dalam satu kesatuan dalam melawan imperialisme dan demi kepentingan bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia termasuk salah satu negara yang aman dan sejahtera. Hal itu tidak luput dari peradaban manusia yang terbentuk dari dahulu hingga sekarang dan tentunya sebuah peradaban disebut bagus bisa dilihat dari aspek  moral dan perkembangan Ilmu pengetahuan. Boleh dikatakan di balik kesuksesan moral dan perkembangan Ilmu pengetahuan  bangsa ini pasti ada aktor yang menghantar dalam pusaran kedamaian dan kesejahteraan.

Pemantapan moral dan ilmu pengetahuan dalam kedamaian, harusnya kita berutang budi kepada tokoh-tokoh modernis-‘alim ulama. KH. Hasyim Asy’ari, misalnya. Dengan talenta kepiawannya dalam memimpin, membentuk kader lewat lembaga pendidikan atau pesantren yang selalu menjunjung tinggi moralitas dan perkembangan ilmu pengetahuan, pemikiran beliau terus dibawa dan dikembangkan sampai detik ini.

Di antara pemikiran beliau yang sangat luwes berintegritas adalah moralitas dan ilmu, hal ini bisa kita temukan dalam banyak literatur sampai sekarang ini seperti yang pernah diungkapkan oleh Syamsul dan Erwin dalam bukunya “Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam”. Etika yang harus menghujam dalam benak murid, misalnya murid harus memperhatikan etika dalam belajar, murid harus beretika terhadap guru, murid harus beretika terhadap pelajaran dan begitu juga sebaliknya.

KH. Hasyim Asy’ari juga berpesan kepada guru. Seorang guru harus ada etika ketika dan akan mengajar kepada murid.  Etika-etika yang lain yang harus dimiliki dan dipedomani oleh seorang guru dalam mendidik moral dan mendapatkan ilmu.

Begitu juga dengan kredibelitas beliau dengan ilmu seperti karangan yang dihasilkan beliau. ”Adabul 'Alim Wal Muta'allim, At-Tibyan Fin Nahyi An-Muqothoatil Arham Wal Aqorib Wal Ikhwan, Risalah Ahlis Sunnah Wal Jama'ah, Dhou'ul Misbah Fi Bayani Ahkamin Nikah dan masih banyak lainnya.

Keilmuwan dan pemikiran yang dituangkan oleh  KH. Hasyim Asyari dalam dunia pendidikan adalah upaya mendidik dan memberdayakan manusia agar menjadi manusia yang unggul dalam aspek moral dan Ilmu pengetahuan.

Pemikiran yang sama juga dimiliki oleh ulama-ulama Aceh yang selalu menginginkan keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan moral. Sebut saja seperti pengaruh ideologi yang dibawakan oleh Abu Hasan Krueng Kalee dan Syekh Abuya Muda Wali Alkhalidi. Dari tangan-tangan mereka telah banyak melahirkan tokoh-tokoh ulama yang intelek dan intelek yang ulama. Yang bermanfaat untuk Aceh dan Indonesia pada umumnya.

Jika kita menjelajah lebih jauh lagi pemikiran-pemikiran emas para tokoh yang dijadikan patron oleh masyarakat dalam berkehidupan tidak lepas dari petualangan membekali diri dengan ilmu dan menerapkan konsep yang pernah disampaikan Rasul: Khairunnas Anfa’uhum Linnas artinya “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad).

Lalu, kiprah sebagai pemuda atau yang biasa diistilahkan dengan iron stock (penerus masa depan) harus bisa mengikuti napak tilas para tokoh-tokoh yang tercantum dalam memori sejarah tersebut dengan langkah yang berbeda namun dalam tujuan yang sama.

Peran pemuda sangat ditunggu-tungu oleh masyarakat-bangsa sehingga para pemuda perlu membekali diri mereka dengan dua kemampuan. Pertama melatih soft skill (keterampilan personal). Soft skill dapat digambarkan seperti pemuda harus memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi, bisa memanejemeni waktu dengan baik, memiliki kapasitas spiritual yang baik dan memiliki ilmu kepemimpinan yang bagus. 

Kedua hard skill (keterampilan intelektual). Keterampilan intelektual umumnya mengacu pada kemampuan atau kapasitas mental untuk berpikir. Dengan menginternalisasikan nilai-nilai di atas dan memiliki dua keterampilan tersebut, mudah-mudahan bisa melahirkan pemuda (negarawan) yang agamis, nasionalis (cinta tanah air) dan berilmu pengetahuan. Amin.

*Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta Jawa Tengah dan merupakan alumnus Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Editor:Zainal Bakri
Kategori:Ragam
wwwwww