Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Timnas Basket Indonesia Tetap Jalani Latihan Saat Ramadhan
Olahraga
20 jam yang lalu
Timnas Basket Indonesia Tetap Jalani Latihan Saat Ramadhan
2
Aneh, Larang Pemudik Masuk Solo, Gibran Tetap Izinkan Wisatawan dari Jakarta
Peristiwa
17 jam yang lalu
Aneh, Larang Pemudik Masuk Solo, Gibran Tetap Izinkan Wisatawan dari Jakarta
3
Ricardo Dicopot dari Dirut Pertamina Hulu Rokan, Ini Sosok Penggantinya
Peristiwa
15 jam yang lalu
Ricardo Dicopot dari Dirut Pertamina Hulu Rokan, Ini Sosok Penggantinya
4
Siapkan Prizepool 100 Juta, UniPin Resmi Luncurkan Ladies Series MLBB 2021
Olahraga
20 jam yang lalu
Siapkan Prizepool 100 Juta, UniPin Resmi Luncurkan Ladies Series MLBB 2021
5
Surat Rekom Diserahkan ke Pimpinan, Komisi V DPRD Riau Segera Gunakan Hak Interplasi dan Bentuk Pansus Covid
Peristiwa
18 jam yang lalu
Surat Rekom Diserahkan ke Pimpinan, Komisi V DPRD Riau Segera Gunakan Hak Interplasi dan Bentuk Pansus Covid
6
TNI-Polri Kembali Kontak Tembak dengan KKB di Ilaga Papua
Peristiwa
17 jam yang lalu
TNI-Polri Kembali Kontak Tembak dengan KKB di Ilaga Papua

Muhammadiyah Ingatkan Menteri Agama, Jangan Sembarangan Tuduh Seseorang Radikal

Muhammadiyah Ingatkan Menteri Agama, Jangan Sembarangan Tuduh Seseorang Radikal
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. (sinarharapan.co))
Jum'at, 25 Oktober 2019 07:12 WIB
YOGYAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk mantan jenderal Fachrul Razi sebagai Menteri Agama dalam Kabinet Indonesia Maju. Jokowi memberikan tugas utama kepada Fachrul Razi mengatasi radikalisme.

Dikutip dari republika.co.id, Muhammadiyah mengingatkan Menag Fachrul Razi bisa melakukan tindakan terukur dalam menangani isu radikalisme, sehingga tidak sembarangan menuduh seseorang radikal.

''Harus tetap terukur jangan 'gebyah uyah' (menyamaratakan). Artinya jangan sembarangan untuk menyimpulkan ini radikal, ini bukan radikal,'' kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, di kediamannya di Kasihan, Bantul, Yogyakarta, Rabu (23/10).

Menurut Haedar, dalam konteks apa pun, baik agama maupun dalam konteks umum, perlu ada pemahaman yang komprehensif, agar tidak gebyah uyah dalam melakukan penanganan. Sebab, bukan hanya agama, perilaku berbangsa dan sosial juga memiliki bagian-bagian yang berpotensi ekstrem dan radikal.

Karena itu, ia berharap radikalisme tidak dilekatkan pada agama, apalagi tertuju pada agama tertentu. ''Beragama, bernegara, beridiologi, bersosial itu juga ada kecenderungan ekstrem dan radikal yang mengarah pada kekerasan. Kita banyak contoh kejadian-kejadian di tanah air kita ini bahwa korban dari tindakan-tindakan yang ekstrem bukan hanya karena agama. Oleh karena itu harus terukur,'' kata dia.

Agama dan institusi keagamaan, kata Haedar, harus menjadi kekuatan yang mencerdaskan, mendamaikan, memajukan, serta menyatukan. Bahkan berperan membela nilai-nilai rohani dan keadaban yang baik.

''Saya pikir semua agama kan begitu komitmennya,'' kata dia.

Selain itu, ia juga menitipkan pesan agar Menag dapat memosisikan diri sebagai menteri untuk semua golongan. Meski memiliki latar belakang militer, Menag harus berdiri untuk semua rakyat Indonesia, bukan hanya untuk golongan militer.

''Nanti kalau hanya mengurus golongannya, mengurus kepentingannya nanti malah timbul ketidakadilan,'' kata dia.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ragam
wwwwww