Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
11 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
2
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
Kemenpora
21 jam yang lalu
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
3
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
5 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
4
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
5 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
5
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
4 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
6
Momentum HSP, Menpora Erick Hadiri Penghargaan Katadata Lifetime Achievement Award 2026
Kemenpora
11 jam yang lalu
Momentum HSP, Menpora Erick Hadiri Penghargaan Katadata Lifetime Achievement Award 2026

Muhammadiyah Ingatkan Menteri Agama, Jangan Sembarangan Tuduh Seseorang Radikal

Muhammadiyah Ingatkan Menteri Agama, Jangan Sembarangan Tuduh Seseorang Radikal
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. (sinarharapan.co))
Jum'at, 25 Oktober 2019 07:12 WIB
YOGYAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk mantan jenderal Fachrul Razi sebagai Menteri Agama dalam Kabinet Indonesia Maju. Jokowi memberikan tugas utama kepada Fachrul Razi mengatasi radikalisme.

Dikutip dari republika.co.id, Muhammadiyah mengingatkan Menag Fachrul Razi bisa melakukan tindakan terukur dalam menangani isu radikalisme, sehingga tidak sembarangan menuduh seseorang radikal.

''Harus tetap terukur jangan 'gebyah uyah' (menyamaratakan). Artinya jangan sembarangan untuk menyimpulkan ini radikal, ini bukan radikal,'' kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, di kediamannya di Kasihan, Bantul, Yogyakarta, Rabu (23/10).

Menurut Haedar, dalam konteks apa pun, baik agama maupun dalam konteks umum, perlu ada pemahaman yang komprehensif, agar tidak gebyah uyah dalam melakukan penanganan. Sebab, bukan hanya agama, perilaku berbangsa dan sosial juga memiliki bagian-bagian yang berpotensi ekstrem dan radikal.

Karena itu, ia berharap radikalisme tidak dilekatkan pada agama, apalagi tertuju pada agama tertentu. ''Beragama, bernegara, beridiologi, bersosial itu juga ada kecenderungan ekstrem dan radikal yang mengarah pada kekerasan. Kita banyak contoh kejadian-kejadian di tanah air kita ini bahwa korban dari tindakan-tindakan yang ekstrem bukan hanya karena agama. Oleh karena itu harus terukur,'' kata dia.

Agama dan institusi keagamaan, kata Haedar, harus menjadi kekuatan yang mencerdaskan, mendamaikan, memajukan, serta menyatukan. Bahkan berperan membela nilai-nilai rohani dan keadaban yang baik.

''Saya pikir semua agama kan begitu komitmennya,'' kata dia.

Selain itu, ia juga menitipkan pesan agar Menag dapat memosisikan diri sebagai menteri untuk semua golongan. Meski memiliki latar belakang militer, Menag harus berdiri untuk semua rakyat Indonesia, bukan hanya untuk golongan militer.

''Nanti kalau hanya mengurus golongannya, mengurus kepentingannya nanti malah timbul ketidakadilan,'' kata dia.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ragam
wwwwww