Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
11 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
2
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
Kemenpora
21 jam yang lalu
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
3
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
5 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
4
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
5 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
5
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
4 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
6
Momentum HSP, Menpora Erick Hadiri Penghargaan Katadata Lifetime Achievement Award 2026
Kemenpora
11 jam yang lalu
Momentum HSP, Menpora Erick Hadiri Penghargaan Katadata Lifetime Achievement Award 2026

Bulog Akan Musnahkan 20.000 Ton Beras Senilai Rp160 Miliar, Emil Salim Sebut Bukti Kekeliruan Kebijakan Pangan

Bulog Akan Musnahkan 20.000 Ton Beras Senilai Rp160 Miliar, Emil Salim Sebut Bukti Kekeliruan Kebijakan Pangan
Emil Salim. (tempo.co)
Rabu, 04 Desember 2019 20:33 WIB
JAKARTA - Perum Bulog berencana memusnahkan 20.000 ton beras senilai Rp160 miliar, karena mengalami penurunan mutu. Rencana Bulog tersebut dikritik ekonom dari Universitas Indonesia (UI) Emil Salim.

Dikutip dari republika.co.id, Emil Salim mengatakan, pemusnahan beras tersebut membuktikan adanya kekeliruan dalam kebijakan pangan di Indonesia.

''Ini kan berarti kebijakan pangan, produksi pangan, perdagangan pangan dan impor pangan tidak berada pada jalur yang benar,'' kata dia di Jakarta, Selasa (3/12).

Ia mempertanyakan hal yang menyebabkan stok-stok beras yang berada di Bulog itu menjadi busuk. Sebab hal itu menunjukkan perkiraan untuk pengadaan stok beras keliru sehingga tidak terpakai.

''Pihak yang dirugikan atas hal ini tentu termasuk petani. Apalagi kalau ada impor, tentu nantinya akan memengaruhi harga dan itu merugikan petani," kata guru besar Universitas Indonesia itu.

Bahkan, ia mengatakan dirinya memerhatikan nilai yang diterima petani dalam empat tahun terakhir lebih kecil dari yang dibayarkan termasuk biaya hidup.

Sehingga dalam empat tahun terakhir, nilai tukar petani justru merugikan petani itu sendiri. Ini yang perlu diperbaiki ke depan.

Selain itu, dalam keadaan merugikan petani, harga beras Indonesia di luar negeri malah menunjukkan angka lebih mahal dibandingkan beras Vietnam. Sehingga hal itu cukup membingungkan.

''Nah kalau di sini petani rugi sedangkan beras dijual lebih mahal di luar negeri, lalu surplusnya ke mana? Ditambah lagi stok beras lantas juga dimusnahkan,'' ujar dia.

Keadaan tersebut seharusnya perlu dikaji lebih jauh. Karena ditakutkan terdapat hal-hal yang tidak beres, termasuk kajian terkait penyebab stok beras sampai tidak layak dan mesti dimusnahkan.

Termasuk pula kaitannya dengan ada tidaknya impor beras beserta harga yang ditetapkan atas beras Indonesia di dalam dan di luar negeri juga perlu dikaji.

Sebelumnya, Perum Bulog meminta Pemerintah melalui Kementerian Keuangan mengalokasikan anggaran kepada BUMN tersebut untuk kebijakan disposal atau pembuangan beras yang sudah mengalami penurunan mutu.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh menyebutkan setidaknya 20.000 ton beras dari stok cadangan beras pemerintah akan dimusnahkan.

Stok beras tersebut senilai Rp160 miliar dengan rata-rata harga pembelian di petani Rp 8.000 per kilogram.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ragam
wwwwww