Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hasil Survei SMRC: PKS dan Suku Minang Dominasi Kesadaran akan Isu Kebangkitan PKI
Nasional
12 jam yang lalu
Hasil Survei SMRC: PKS dan Suku Minang Dominasi Kesadaran akan Isu Kebangkitan PKI
2
Bus Pariwisata Tabrak 6 Kendaraan, 4 Orang Tewas dan 20 Terluka
Peristiwa
20 jam yang lalu
Bus Pariwisata Tabrak 6 Kendaraan, 4 Orang Tewas dan 20 Terluka
3
Gedung DPR RI Resmi Diasuransikan
DPR RI
7 jam yang lalu
Gedung DPR RI Resmi Diasuransikan
4
Jadwal Ditunda, Persib Bandung Tetap Lakukan Persiapan
Sepakbola
23 jam yang lalu
Jadwal Ditunda, Persib Bandung Tetap Lakukan Persiapan
5
Persebaya Surabaya Utamakan Keselamatan Pemain
Sepakbola
23 jam yang lalu
Persebaya Surabaya Utamakan Keselamatan Pemain
6
Soal Penundaan Jadwal, Carlos: Kurang Menggembirakan
Sepakbola
24 jam yang lalu
Soal Penundaan Jadwal, Carlos: Kurang Menggembirakan

Bulog Akan Musnahkan 20.000 Ton Beras Senilai Rp160 Miliar, Emil Salim Sebut Bukti Kekeliruan Kebijakan Pangan

Bulog Akan Musnahkan 20.000 Ton Beras Senilai Rp160 Miliar, Emil Salim Sebut Bukti Kekeliruan Kebijakan Pangan
Emil Salim. (tempo.co)
Rabu, 04 Desember 2019 20:33 WIB
JAKARTA - Perum Bulog berencana memusnahkan 20.000 ton beras senilai Rp160 miliar, karena mengalami penurunan mutu. Rencana Bulog tersebut dikritik ekonom dari Universitas Indonesia (UI) Emil Salim.

Dikutip dari republika.co.id, Emil Salim mengatakan, pemusnahan beras tersebut membuktikan adanya kekeliruan dalam kebijakan pangan di Indonesia.

''Ini kan berarti kebijakan pangan, produksi pangan, perdagangan pangan dan impor pangan tidak berada pada jalur yang benar,'' kata dia di Jakarta, Selasa (3/12).

Ia mempertanyakan hal yang menyebabkan stok-stok beras yang berada di Bulog itu menjadi busuk. Sebab hal itu menunjukkan perkiraan untuk pengadaan stok beras keliru sehingga tidak terpakai.

''Pihak yang dirugikan atas hal ini tentu termasuk petani. Apalagi kalau ada impor, tentu nantinya akan memengaruhi harga dan itu merugikan petani," kata guru besar Universitas Indonesia itu.

Bahkan, ia mengatakan dirinya memerhatikan nilai yang diterima petani dalam empat tahun terakhir lebih kecil dari yang dibayarkan termasuk biaya hidup.

Sehingga dalam empat tahun terakhir, nilai tukar petani justru merugikan petani itu sendiri. Ini yang perlu diperbaiki ke depan.

Selain itu, dalam keadaan merugikan petani, harga beras Indonesia di luar negeri malah menunjukkan angka lebih mahal dibandingkan beras Vietnam. Sehingga hal itu cukup membingungkan.

''Nah kalau di sini petani rugi sedangkan beras dijual lebih mahal di luar negeri, lalu surplusnya ke mana? Ditambah lagi stok beras lantas juga dimusnahkan,'' ujar dia.

Keadaan tersebut seharusnya perlu dikaji lebih jauh. Karena ditakutkan terdapat hal-hal yang tidak beres, termasuk kajian terkait penyebab stok beras sampai tidak layak dan mesti dimusnahkan.

Termasuk pula kaitannya dengan ada tidaknya impor beras beserta harga yang ditetapkan atas beras Indonesia di dalam dan di luar negeri juga perlu dikaji.

Sebelumnya, Perum Bulog meminta Pemerintah melalui Kementerian Keuangan mengalokasikan anggaran kepada BUMN tersebut untuk kebijakan disposal atau pembuangan beras yang sudah mengalami penurunan mutu.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh menyebutkan setidaknya 20.000 ton beras dari stok cadangan beras pemerintah akan dimusnahkan.

Stok beras tersebut senilai Rp160 miliar dengan rata-rata harga pembelian di petani Rp 8.000 per kilogram.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ragam
wwwwww