Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kalung Anti Corona Kementan Tak Masuk Akal, Praktisi Medis: Ketakutan di-Reshuffle?
Pemerintahan
23 jam yang lalu
Kalung Anti Corona Kementan Tak Masuk Akal, Praktisi Medis: Ketakutan di-Reshuffle?
2
Kontroversi Kalung Anti Virus Corona, Antara Obat dan Ajian Jimat
Pemerintahan
23 jam yang lalu
Kontroversi Kalung Anti Virus Corona, Antara Obat dan Ajian Jimat
3
Rencana Kementan Luncurkan Kalung Antivirus Corona, #KalungAntiBego jadi Trending di Twitter
Kesehatan
23 jam yang lalu
Rencana Kementan Luncurkan Kalung Antivirus Corona, #KalungAntiBego jadi Trending di Twitter
4
Gus Jazil Minta Pemerintah Selamatkan Lembaga Pendidikan Swasta
Pendidikan
24 jam yang lalu
Gus Jazil Minta Pemerintah Selamatkan Lembaga Pendidikan Swasta
5
KUR UMKM Penyelamatan Ekonomi Nasional Berperan Penting Saat Pandemi Covid-19
Pemerintahan
12 jam yang lalu
KUR UMKM Penyelamatan Ekonomi Nasional Berperan Penting Saat Pandemi Covid-19

Bulog Akan Musnahkan 20.000 Ton Beras Senilai Rp160 Miliar, Emil Salim Sebut Bukti Kekeliruan Kebijakan Pangan

Bulog Akan Musnahkan 20.000 Ton Beras Senilai Rp160 Miliar, Emil Salim Sebut Bukti Kekeliruan Kebijakan Pangan
Emil Salim. (tempo.co)
Rabu, 04 Desember 2019 20:33 WIB
JAKARTA - Perum Bulog berencana memusnahkan 20.000 ton beras senilai Rp160 miliar, karena mengalami penurunan mutu. Rencana Bulog tersebut dikritik ekonom dari Universitas Indonesia (UI) Emil Salim.

Dikutip dari republika.co.id, Emil Salim mengatakan, pemusnahan beras tersebut membuktikan adanya kekeliruan dalam kebijakan pangan di Indonesia.

''Ini kan berarti kebijakan pangan, produksi pangan, perdagangan pangan dan impor pangan tidak berada pada jalur yang benar,'' kata dia di Jakarta, Selasa (3/12).

Ia mempertanyakan hal yang menyebabkan stok-stok beras yang berada di Bulog itu menjadi busuk. Sebab hal itu menunjukkan perkiraan untuk pengadaan stok beras keliru sehingga tidak terpakai.

''Pihak yang dirugikan atas hal ini tentu termasuk petani. Apalagi kalau ada impor, tentu nantinya akan memengaruhi harga dan itu merugikan petani," kata guru besar Universitas Indonesia itu.

Bahkan, ia mengatakan dirinya memerhatikan nilai yang diterima petani dalam empat tahun terakhir lebih kecil dari yang dibayarkan termasuk biaya hidup.

Sehingga dalam empat tahun terakhir, nilai tukar petani justru merugikan petani itu sendiri. Ini yang perlu diperbaiki ke depan.

Selain itu, dalam keadaan merugikan petani, harga beras Indonesia di luar negeri malah menunjukkan angka lebih mahal dibandingkan beras Vietnam. Sehingga hal itu cukup membingungkan.

''Nah kalau di sini petani rugi sedangkan beras dijual lebih mahal di luar negeri, lalu surplusnya ke mana? Ditambah lagi stok beras lantas juga dimusnahkan,'' ujar dia.

Keadaan tersebut seharusnya perlu dikaji lebih jauh. Karena ditakutkan terdapat hal-hal yang tidak beres, termasuk kajian terkait penyebab stok beras sampai tidak layak dan mesti dimusnahkan.

Termasuk pula kaitannya dengan ada tidaknya impor beras beserta harga yang ditetapkan atas beras Indonesia di dalam dan di luar negeri juga perlu dikaji.

Sebelumnya, Perum Bulog meminta Pemerintah melalui Kementerian Keuangan mengalokasikan anggaran kepada BUMN tersebut untuk kebijakan disposal atau pembuangan beras yang sudah mengalami penurunan mutu.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh menyebutkan setidaknya 20.000 ton beras dari stok cadangan beras pemerintah akan dimusnahkan.

Stok beras tersebut senilai Rp160 miliar dengan rata-rata harga pembelian di petani Rp 8.000 per kilogram.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ragam

wwwwww