Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Dampak Kerumunan Pilkada dan Libur Akhir Tahun harus Diantisipasi
MPR RI
18 jam yang lalu
Dampak Kerumunan Pilkada dan Libur Akhir Tahun harus Diantisipasi
2
Minta Tetapkan Tersangka Kasus Korupsi Bansos Siak, Komisi III DPR RI Sambangi Kejati Riau
Politik
4 jam yang lalu
Minta Tetapkan Tersangka Kasus Korupsi Bansos Siak, Komisi III DPR RI Sambangi Kejati Riau
3
RDPU dengan DPR, Ferry J Kono: Masih Banyak Yang Belum Memahami Peran KOI
Olahraga
17 jam yang lalu
RDPU dengan DPR, Ferry J Kono: Masih Banyak Yang Belum Memahami Peran KOI
4
Kepincut Teqball, Mantan Pemain Timnas: Ada Kenikmatan dan Keindahan
Olahraga
24 jam yang lalu
Kepincut Teqball, Mantan Pemain Timnas: Ada Kenikmatan dan Keindahan
5
Kikis Fanatisme dan Radikalisme, Pemerintah Disarankan Hidupkan Dialog
MPR RI
22 jam yang lalu
Kikis Fanatisme dan Radikalisme, Pemerintah Disarankan Hidupkan Dialog
6
Allysa Amalia, Pengidola Cheong Min Tan Ingin Raih Prestasi Dunia
Olahraga
19 jam yang lalu
Allysa Amalia, Pengidola Cheong Min Tan Ingin Raih Prestasi Dunia

Kenapa Virus Mematikan Banyak Muncul di China? Begini Dugaan Ahli Vaksin

Kenapa Virus Mematikan Banyak Muncul di China? Begini Dugaan Ahli Vaksin
Petugas rumah sakit menggunakan pakaian pelindung untuk mencegah terinfeksi virus corona. (detik.com)
Sabtu, 25 Januari 2020 07:59 WIB
JAKARTA - Wabah virus corona baru sudah merenggut 26 jiwa manusia di China. Virus sangat mematikan ini pun sudah menyebar ke berbagai negara.

Dikutip dari detik.com, virus corona baru yang diberi nama 2019-nCoV ini pertama kali terdeteksi pada akhir Desember 2019 lalu di kota Wuhan, China. Sejak saat itu virus terus menyebar hingga ke berbagai negara.

China diketahui beberapa kali menjadi negara tempat kemunculan berbagai virus baru penyebab penyakit yang mematikan. Contohnya saja virus flu burung, virus severe acute respiratory syndrome (SARS), dan yang terbaru 2019-nCoV. Mengapa sepertinya China menjadi 'hot spot' virus baru mematikan?

Vaksinolog (ahli vaksin) lulusan University of Siena, dr Dirga Sakti Rambe, MSc, SpPD, menjelaskan, kemungkinan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor.

''Penyakit-penyakit ini berasal dari binatang yang ditransmisikan ke manusia disebut zoonotic disease,'' kata dr Dirga kepada detikcom.

''Di China banyak sekali model interaksi antara manusia dengan hewan yang tidak aman. Contohnya kalau kita ke China, pasar binatangnya, itukan bebas sekali campur segala macam hewan hidup mati diperjualbelikan. Tidak bersih. Sangat gampang tertular,'' lanjut pria yang sehari-hari praktik di Omni Hospitals Pulomas ini.

Selain itu China juga memiliki populasi penduduk tinggi. Artinya, ketika virus dari hewan bermutasi bisa menjangkit manusia, penyakit akan mudah menular karena populasi penduduk yang padat dan mobilitas tinggi.

''Itu bisa menjelaskan kenapa kok banyak (penyakit -red) yang dari China,'' pungkas dr Dirga.

Dari Kelelawar atau Ular

Di media sosial ramai dibagikan informasi virus corona ini bersumber dari kelelawar dan kemudian menyebar karena kebiasaan warga mengonsumsi hewan tersebut.

''Jgn makan kelelawar biar gak kena virus corona sama yg di sana thu..,'' tulis salah seorang pengguna Twitter.

Menanggapi hal tersebut Dirga Sakti Rambe, mengatakan, anggapan tersebut tidak benar. Sumber virus corona baru yang secara resmi bernama 2019-nCoV itu masih diteliti dengan bukti awal menunjukkan kemungkinan virus disebar oleh ular.

''Sampai sekarang belum ada yang bisa mengonfirmasi apakah memang karena kelelawar seperti yang ramai dibicarakan. Itu berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,'' kata Dirga.

''Kita tahu ini awalnya dari sebuah pasar di Wuhan, China, yang menjual seafood, reptil, ular, dan memang ada juga kelelawar betul. Tapi informasi terakhir peneliti menduga awalnya bersumber dari ular,'' lanjut lulusan University of Siena ini.

Sementara South China Morning Post melaporkan, peneliti China menyebut kelelawar secara alami bisa membawa virus corona. Namun demikian bukan berarti virus korona yang menyerang saat ini ditularkan secara langsung oleh hewan tersebut.

''Inang alami virus corona wuhan bisa jadi kelelawar... Namun antara kelelawar ke manusia ada perantara yang belum bisa dipastikan,'' tulis peneliti.

Dirga mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya dengan informasi yang beredar di media sosial.

''Soal kelelawar sampai sekarang belum bisa dikonfirmasi kebenarannya. Jadi sebaiknya jangan mudah percaya dulu,'' pungkas Dirga.***

Editor:hasan b
Sumber:detik.com
Kategori:Ragam
wwwwww