Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
13 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
2
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
Kemenpora
23 jam yang lalu
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
3
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
7 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
6 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
6 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
6
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
6 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet

Kepala BNPT Tegaskan WNI Tak Terlibat Pengeboman Gereja di Filipina

Kepala BNPT Tegaskan WNI Tak Terlibat Pengeboman Gereja di Filipina
Suhardi Alius. (kompas.com)
Kamis, 14 Februari 2019 22:06 WIB
JAKARTA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius menegaskan warga negara Indonesia (WNI) tak terlibat dalam pengeboman Gereja Katedral Our Lady of Mount Carmel di Filipina.

Dikutip dari liputan6.com, Suhardi Alius mengatakan, sampai sekarang Pemerintah Filipina tidak bisa membuktikan keterlibatan WNI.

Dia menuturkan, pihaknya sudah sampai turun ke sana. Dan Pemerintah Filipina terlalu dini menyebut WNI terlibat.

''Sudah dicek, bahkan sudah kita cek sana. Terlalu dini. Buktinya sekarang enggak ada kelanjutan lagi,'' ucap Suhardi di Auditorium Lemhanas, Jakarta Pusat, Kamis (14/2/2019).

Suhardi meminta bukti jika pemerintah Filipina menuding pelakunya dari Indonesia. ''Bukan (WNI). Dari mana buktinya, tidak bisa dibuktikan,'' jelasnya.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Syahar Diantono sebelumnya menyampaikan, hingga kini tim masih belum mengenali identitas pelaku yang diduga WNI itu.

''Kami sudah konfirmasi tadi, jadi masih tetap yang pertama proses riksa labfor di Filipina untuk tes DNA. Dan tim Indonesia yang di sana terus mendalami, bekerja sama, berkoordinasi dengan penyidik yang di sana. Untuk mendalami semua informasi dari pemeriksaan saksi,'' tutur Syahar.

Menurut Syahar, hal yang menjadi kendala utama adalah tubuh pelaku yang saat ditemukan sudah tidak utuh. Pecahan bagian tubuh akibat ledakan itu pun tergolong kecil.

''Bagian tubuhnya hanya cuma jari, hanya cuma kaki sepotong-sepotong, itu kan perlu proses waktu,'' jelas dia.

Selain itu, penyidik juga mendalami keterangan dari pemeriksaan lima tersangka yang menyerahkan diri pada 2 Februari 2019. Para anggota Abu Sayyaf itu diduga memiliki keterkaitan dengan teror bom ganda yang menghantam gereja di Jolo, Provinsi Sulu, Filipina, 27 Januari 2019.

''Inilah salah satu materi juga yang sedang dilakukan tim dari Indonesia untuk koordinasi dengan penyidik sana. Salah satunya itu,'' Syahar menandaskan. ***

Editor:hasan b
Sumber:liputan6.com
Kategori:Ragam
wwwwww